Frame Daily, JAKARTA - Video pengakuan seorang pedagang BBM eceran di Kabupaten Way Kanan, Lampung, viral di media sosial. Perempuan bernama Supiah mengaku diminta uang sebesar Rp 50 juta agar suaminya bisa dibebaskan setelah diamankan terkait dugaan penimbunan BBM subsidi.
Kasus ini ramai diperbincangkan publik setelah video tersebut diunggah akun Instagram Lampunglive dan menyebar luas di berbagai platform media sosial pada Jumat (16/5/2026).
Dalam video itu, Supiah tampak menangis sambil meminta perhatian Presiden , Kapolri, hingga Komisi III DPR RI terkait persoalan yang dialaminya.
Suami Diamankan Terkait Dugaan Penimbunan Pertalite
Peristiwa tersebut disebut terjadi di wilayah hukum Polsek Pakuan Ratu, Kabupaten Way Kanan, Lampung.
Supiah menjelaskan suaminya yang bernama Hartono diamankan aparat setelah adanya pengantaran puluhan jerigen berisi Pertalite ke rumah mereka pada Sabtu, 9 Mei 2026.
Menurut pengakuannya, BBM tersebut bukan untuk ditimbun atau dijual ilegal dalam jumlah besar, melainkan dijual secara eceran untuk memenuhi kebutuhan warga kampung yang lokasinya jauh dari SPBU.

“Kami hanya jual eceran untuk masyarakat sekitar,” ujar Supiah dalam video yang viral di media sosial.
Pengakuan Diminta Uang Rp50 Juta
Bagian yang paling menyita perhatian publik adalah pengakuan Supiah terkait dugaan permintaan uang agar suaminya bisa dibebaskan.
Ia mengaku diminta menyediakan uang sebesar Rp 50 juta. Karena tidak memiliki kemampuan finansial, suaminya disebut masih ditahan.
Pernyataan tersebut langsung memicu reaksi keras dari warganet. Banyak yang meminta aparat terkait memberikan penjelasan secara terbuka mengenai proses hukum yang sedang berjalan.
Hingga hari Sabtu (16/5/2026), belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait tuduhan permintaan uang tersebut maupun status hukum Hartono secara rinci.
Dugaan Penyalahgunaan BBM Subsidi Jadi Sorotan
Kasus dugaan penyalahgunaan BBM subsidi memang menjadi perhatian serius pemerintah dalam beberapa tahun terakhir.
Distribusi Pertalite dan solar subsidi terus diawasi karena kerap ditemukan praktik penimbunan hingga penjualan kembali dengan harga lebih tinggi.
Di sisi lain, praktik penjualan BBM eceran masih banyak ditemui di wilayah pedesaan yang akses SPBU-nya terbatas. Kondisi ini sering memunculkan perdebatan antara kebutuhan masyarakat dan aturan distribusi BBM subsidi.
Publik Minta Penjelasan Transparan
Viralnya video Supiah membuat publik mendesak adanya transparansi penanganan kasus tersebut.
Sejumlah pengguna media sosial meminta aparat penegak hukum menjelaskan kronologi penangkapan, barang bukti, hingga klarifikasi terkait dugaan permintaan uang Rp 50 juta yang disampaikan dalam video viral itu.
Kasus ini juga memunculkan perhatian terhadap nasib pedagang BBM eceran kecil di daerah terpencil yang selama ini menjadi salah satu akses bahan bakar masyarakat desa.
Komentar