Cara Membaca Label Gizi pada Kemasan, Jangan Mudah Percaya Klaim “Sehat”

Cara Membaca Label Gizi pada Kemasan, Jangan Mudah Percaya Klaim “Sehat”
Foto AI : Framedaily.id

Frame Daily, JAKARTA - Di tengah maraknya makanan dan minuman kemasan dengan label “low sugar”, “tinggi serat”, hingga “tanpa pengawet”, masyarakat diminta lebih cermat sebelum membeli produk. Pasalnya, klaim pada bagian depan kemasan belum tentu menggambarkan kandungan gizi secara keseluruhan.

Kementerian Kesehatan RI melalui kanal resmi kesehatan milik Kementerian Kesehatan, yaitu ayosehat.kemkes.go.id mengingatkan pentingnya membaca label gizi agar masyarakat tidak terkecoh strategi pemasaran produk pangan.

Banyak Orang Masih Abaikan Label Gizi

Fenomena masyarakat membeli produk hanya berdasarkan iklan atau tulisan besar di kemasan masih cukup tinggi. Padahal, informasi penting justru berada di bagian belakang kemasan.

Kemenkes menyebut masih banyak orang malas membaca label karena terburu-buru atau belum memahami cara membacanya. Akibatnya, konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih sering tidak disadari.

Kondisi ini ikut memicu meningkatnya risiko obesitas, diabetes, hipertensi, hingga penyakit jantung, terutama akibat pola konsumsi makanan ultra-proses yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Apa Saja yang Harus Dicek?

Membaca label gizi sebenarnya tidak rumit. Ada beberapa bagian utama yang wajib diperhatikan sebelum membeli makanan atau minuman kemasan.

1. Ukuran Porsi

Bagian ini paling sering diabaikan. Semua angka dalam tabel gizi dihitung berdasarkan satu porsi sajian.

Artinya, jika satu kemasan berisi dua porsi dan dikonsumsi sekaligus, maka jumlah kalori, gula, lemak, dan natrium harus dikalikan dua.

Kesalahan memahami takaran saji sering membuat seseorang merasa sudah makan “sedikit”, padahal asupan kalorinya berlebihan.

2. Jumlah Kalori

Kalori menunjukkan energi yang diperoleh tubuh dari makanan.

Bagi orang yang sedang menjalani diet atau menjaga berat badan, informasi ini sangat penting untuk menghitung kebutuhan energi harian.

Kemenkes menyebut pengaturan kalori harus tetap memperhatikan kebutuhan tubuh dan aktivitas harian.

3. Kandungan Gula, Garam, dan Lemak

Tiga komponen ini menjadi perhatian utama dalam label gizi.

Konsumsi gula tambahan berlebih dapat meningkatkan risiko diabetes dan obesitas. Sementara natrium tinggi berkaitan dengan hipertensi dan penyakit kardiovaskular.

Kemenkes juga terus mengampanyekan pembatasan konsumsi gula, garam, dan lemak atau GGL dalam berbagai edukasi kesehatan masyarakat.

4. Persentase AKG

AKG atau Angka Kecukupan Gizi menunjukkan seberapa besar kandungan nutrisi dalam satu porsi terhadap kebutuhan harian.

Patokan sederhananya:

  • Di bawah 5 persen berarti rendah
  • Di atas 20 persen berarti tinggi

Persentase ini membantu masyarakat memilih produk dengan lebih cepat saat berbelanja.

5. Daftar Komposisi

Jangan hanya melihat tabel nutrisi. Daftar bahan juga penting diperiksa.

Komposisi ditulis berdasarkan jumlah terbanyak. Jika gula, sirup, atau tepung olahan berada di urutan awal, berarti kandungannya cukup dominan.

Produk dengan terlalu banyak bahan tambahan biasanya menunjukkan tingkat proses pangan yang lebih tinggi.

Jangan Langsung Percaya Tulisan “Sehat”

Klaim seperti “natural”, “zero sugar”, atau “rendah lemak” sering digunakan untuk menarik perhatian konsumen.

Faktanya, produk rendah lemak belum tentu rendah gula. Begitu juga produk tanpa gula tambahan bisa saja tetap tinggi kalori.

Karena itu, Kemenkes menekankan bahwa angka pada label gizi jauh lebih penting dibanding slogan pemasaran di bagian depan kemasan.

Edukasi Membaca Label Gizi Terus Digencarkan

Pemerintah sebenarnya sudah lama mendorong kebiasaan membaca label pangan. Dalam pedoman “10 Pesan Gizi Seimbang”, masyarakat juga diimbau membiasakan membaca label pada kemasan pangan sebelum membeli atau mengonsumsi produk.

Edukasi serupa terus diperbarui melalui berbagai kanal kesehatan digital milik pemerintah sebagai bagian dari upaya pencegahan penyakit tidak menular.

Di era makanan instan dan minuman kekinian yang semakin mudah diakses, kemampuan membaca label gizi kini menjadi keterampilan penting bagi masyarakat.

Bukan sekadar memilih produk yang terlihat sehat, tetapi memastikan apa yang benar-benar dikonsumsi tubuh setiap hari.

Ditulis oleh T A

Komentar