Frame Daily, BANGKALAN – Presiden Republik Indonesia menghadiri penutupan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) Tahun 2026 yang digelar di Institut Agama Islam (IAI) Syaichona Mohammad Cholil, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Jumat (tanggal menyesuaikan agenda resmi).
Kegiatan yang mengusung tema “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa” tersebut menjadi forum strategis bagi Nahdlatul Ulama dalam merumuskan pandangan keagamaan, kebangsaan, serta arah pengabdian organisasi untuk menjawab tantangan zaman.
Kehadiran Presiden pada penutupan Munas-Konbes NU 2026 menegaskan pentingnya peran ulama dan pesantren dalam menjaga persatuan nasional, memperkuat nilai-nilai keislaman moderat, serta mendukung pembangunan bangsa yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Dihadiri Lebih dari Seribu Peserta
Munas-Konbes NU 2026 dihadiri lebih dari 1.000 undangan yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka terdiri atas para kiai sepuh, pengasuh pondok pesantren, jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, seluruh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Jawa Timur, serta peserta Munas-Konbes dari berbagai wilayah NU di Tanah Air.
Selama pelaksanaan forum, para peserta membahas berbagai isu strategis yang berkaitan dengan kehidupan keagamaan, kebangsaan, pendidikan, ekonomi umat, hingga tantangan perkembangan teknologi dan dinamika global yang memengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia.
Ketua Panitia Munas-Konbes NU 2026 menyampaikan bahwa forum tersebut menjadi ruang musyawarah bagi para ulama untuk menghasilkan rekomendasi yang dapat memberikan manfaat luas bagi umat dan bangsa.
“Melalui Munas dan Konbes ini, NU terus meneguhkan perannya sebagai organisasi keagamaan yang berkhidmat bagi masyarakat, menjaga persatuan, serta menghadirkan solusi atas berbagai persoalan kebangsaan,” ujarnya.
Bangkalan Dipilih karena Nilai Historis
Pemilihan Kabupaten Bangkalan sebagai lokasi penutupan Munas-Konbes NU 2026 memiliki makna historis yang kuat bagi warga Nahdliyin.
Bangkalan merupakan tempat dimakamkannya Syaichona Mohammad Cholil, ulama kharismatik yang dikenal sebagai salah satu guru utama pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyekh K.H. Hasyim Asy’ari.
Syaichona Mohammad Cholil memiliki kontribusi besar dalam perjalanan sejarah Islam Nusantara dan lahirnya Nahdlatul Ulama. Sosoknya menjadi rujukan keilmuan bagi banyak ulama besar Indonesia dan hingga kini makam beliau menjadi tujuan ziarah umat Islam dari berbagai daerah.
Pemilihan lokasi penutupan di lingkungan IAI Syaichona Mohammad Cholil juga menjadi simbol penghormatan terhadap warisan keilmuan dan perjuangan para ulama dalam membangun peradaban Islam yang moderat, inklusif, serta berorientasi pada kemaslahatan umat.
Meneguhkan Komitmen Kebangsaan
Dalam rangkaian penutupan, Presiden mengapresiasi kontribusi Nahdlatul Ulama yang selama hampir satu abad telah berperan aktif menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), memperkuat toleransi, dan membangun harmoni sosial di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Presiden juga menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, ulama, pesantren, dan seluruh elemen masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan global, mulai dari ketahanan pangan, transformasi digital, penguatan sumber daya manusia, hingga menjaga nilai-nilai kebangsaan di tengah arus perubahan dunia.
Tema “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa” dinilai relevan dengan kebutuhan Indonesia saat ini. Tema tersebut mencerminkan komitmen NU untuk menjaga kehormatan organisasi, memperluas pengabdian kepada masyarakat, serta terus berkontribusi dalam pembangunan nasional.
Hasil Munas Jadi Rekomendasi Strategis
Sejumlah keputusan dan rekomendasi yang dihasilkan dalam Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2026 diharapkan menjadi pedoman bagi warga Nahdlatul Ulama dalam menjalankan peran keagamaan dan sosial kemasyarakatan.
Rekomendasi tersebut juga diharapkan dapat memberikan masukan konstruktif bagi pemerintah dalam merumuskan berbagai kebijakan yang berkaitan dengan kepentingan umat dan pembangunan nasional.
Dengan berakhirnya Munas-Konbes NU 2026 di Bangkalan, Nahdlatul Ulama kembali menegaskan komitmennya sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia yang terus menjaga marwah, memperkaya khidmat, serta menghadirkan manfaat nyata bagi kemaslahatan bangsa dan negara.
Komentar