Frame Daily, Jakarta - Ratusan rumah di Kecamatan Biau, Kabupaten Gorontalo Utara, Gorontali tertimbun lumpur dan material kayu akibat banjir bandang, Rabu (27/5/2026).
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Gorontalo menyebut, Desa Didingga menjadi salah satu wilayah yang terdampak cukup parah.
Pengelola Data Pusdalops PB BPBD Provinsi Gorontalo, Mohamad Nasaru mengatakan, hasil pemantauan di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar rumah warga tertutup lumpur akibat arus banjir bandang yang deras.
"Hasil pemantauan kami di Desa Didingga, sebagian besar rumah warga saat ini tertimbun lumpur, sementara beberapa rumah dan tempat usaha warga mengalami kerusakan," ujar Mohamad Nasaru, dikutip dari CNN Indonesia, Rabu (27/5/2026).
"Sementara, beberapa rumah dan tempat usaha warga mengalami kerusakan," ujar Nasaru.
Menurut laporan Pusdalops BPBD Provinsi Gorontalo, banjir terjadi pada Selasa (26/5/2026) setelah Kecamatan Biau diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat pada pukul 15.30 hingga 17.20 WITA. Ketinggian air disebut mencapai 100 hingga 250 sentimeter (cm).
Data sementara BPBD mencatat lima desa terdampak banjir yakni Desa Bualo sebanyak 132 kepala keluarga, Desa Didingga 115 kepala keluarga, Desa Biau 122 kepala keluarga, Desa Omuto 85 kepala keluarga, dan Desa Luhuto 75 kepala keluarga. Ratusan rumah warga di desa-desa tersebut turut terdampak banjir.
Meski banjir mulai surut, material lumpur dan kayu masih menutupi sejumlah rumah warga dan akses di beberapa titik desa terdampak.
BPBD Provinsi Gorontalo bersama BPBD Kabupaten Gorontalo Utara terus melakukan asesmen dan koordinasi lintas sektor untuk penanganan bencana, evakuasi warga, hingga pembersihan rumah dari sisa lumpur dan material banjir. Dinas Sosial Provinsi Gorontalo bersama Taruna Siaga Bencana (Tagana) juga diterjunkan ke lokasi terdampak.
Unsur yang terlibat dalam penanganan banjir di antaranya BPBD Provinsi Gorontalo, BPBD Kabupaten Gorontalo Utara, Dinas Sosial, TNI/Polri, pemerintah kecamatan dan desa, serta Balai Wilayah Sungai Sulawesi II.
Komentar