Banjir Sumut dan Aceh, 3.610 Warga Asahan Terdampak

BNPB melaporkan banjir di Mandailing Natal, Asahan, dan Aceh Selatan. Sebanyak 3.610 jiwa terdampak di Asahan dan 46 warga Aceh mengungsi.

Banjir Sumut dan Aceh, 3.610 Warga Asahan Terdampak
Warga Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara mengungsi setelah banjir melanda 691 rumah di Kecamatan Wampu dan Sirapit, pada Rabu (28/10). (BPBD Kabupaten Langkat)

Frame Daily, Jakarta - Banjir melanda tiga kabupaten di Sumatera Utara dan Aceh dalam rentang 27–28 Oktober 2026. Laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 3.610 jiwa terdampak di Kabupaten Asahan, sementara 46 warga di Aceh Selatan memilih mengungsi setelah permukiman mereka terendam luapan sungai.

Peristiwa tersebut terjadi di Kabupaten Asahan dan Mandailing Natal, Sumatera Utara, serta Kabupaten Aceh Selatan, Aceh. Meski sebagian genangan dilaporkan surut, potensi kenaikan air masih perlu diwaspadai di sejumlah lokasi.

Dalam pemutakhiran situasi bencana periode 28–29 Oktober 2026 yang diterbitkan Kamis (29/10), BNPB menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah melakukan penanganan melalui BPBD setempat. Kondisi cuaca beberapa hari berikutnya juga menjadi perhatian karena sejumlah wilayah masih berpotensi mengalami peningkatan curah hujan.

Banjir Asahan Berdampak pada 3.610 Jiwa

Kabupaten Asahan menjadi wilayah dengan jumlah warga terdampak terbesar dalam laporan tersebut. Banjir mulai merendam permukiman sejak Selasa (27/10), terutama di Desa Sei Silau Tua dan Desa Bangun Sari, Kecamatan Setia Janji.

BNPB mencatat sebanyak 3.610 jiwa terdampak. Rinciannya, 2.910 jiwa berada di Desa Sei Silau Tua dan 700 jiwa lainnya di Desa Bangun Sari. Ketinggian genangan rata-rata mencapai 30–80 sentimeter.

Dampak banjir juga tercatat pada 405 rumah dan dua fasilitas pendidikan. Akses jalan yang menghubungkan antardesa ikut terendam sehingga aktivitas masyarakat sempat terganggu.

BPBD Kabupaten Asahan melakukan kaji cepat dan pendataan di lapangan. Petugas juga menyalurkan bantuan sembako kepada warga yang terdampak.

Dalam laporan yang sama, BNPB menyebut banjir di Asahan telah surut pada Rabu (28/10). Aktivitas warga dilaporkan kembali normal setelah genangan berangsur menghilang.

Mandailing Natal dan Aceh Selatan Masih Waspada

Di Kabupaten Mandailing Natal, banjir dipicu hujan deras pada Rabu (28/10) sekitar pukul 18.00 WIB. Hujan tersebut meningkatkan debit Sungai Simalagi hingga meluap dan menggenangi permukiman di Desa Binanga, Kecamatan Huta Bargot, serta Desa Rumbio, Kecamatan Panyabungan Utara.

Sebanyak 32 rumah dan satu fasilitas ibadah terdampak. Genangan juga sempat membuat jalan tidak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Tim Reaksi Cepat BPBD Mandailing Natal kemudian turun ke lokasi dan berkoordinasi dengan pemerintah desa.

BNPB melaporkan ketinggian air berangsur surut dan akses jalan kembali dapat dilalui kendaraan. Kondisi tersebut menunjukkan penanganan darurat telah dilakukan, meski pemantauan lingkungan tetap diperlukan apabila hujan kembali turun.

Sementara itu, banjir di Kabupaten Aceh Selatan terjadi di Gampong Lhok Raya dan Gampong Cot Bayu, Kecamatan Trumon Tengah. Hujan lebat pada Rabu (28/10) memicu luapan Sungai Lae Soraya dan Krueng Trumon Raya hingga menggenangi permukiman.

Sebanyak 46 warga memilih mengungsi ke Kompi Brimob. BNPB juga melaporkan ketinggian air di Gampong Lhok Raya masih berpotensi meningkat. Di Gampong Cot Bayu, genangan pada badan jalan tercatat sekitar 10–20 sentimeter dan diperkirakan masih dapat bertambah.

BNPB Minta Daerah Memperkuat Kesiapsiagaan

Rangkaian banjir tersebut mendorong BNPB mengingatkan pemerintah daerah agar meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi. Pemantauan cuaca, kesiapan personel, serta ketersediaan peralatan dan logistik menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi risiko.

“Pemerintah daerah diharapkan meningkatkan kesiapsiagaan dengan terus memonitor informasi cuaca dari BMKG, menyiagakan Tim Reaksi Cepat, dan memastikan kesiapan peralatan serta logistik kedaruratan,” demikian imbauan BNPB dalam laporan perkembangan situasi bencana 29 Oktober 2026.

BNPB juga mengimbau masyarakat yang tinggal di bantaran sungai dan kawasan rawan angin kencang untuk membersihkan saluran drainase, memangkas dahan pohon yang rapuh, serta memperkuat atap rumah. Langkah tersebut ditujukan untuk mengurangi risiko genangan dan dampak angin kencang.

Masyarakat juga diminta menghindari pembakaran lahan secara sembarangan. Kondisi kering yang disertai angin dapat mempercepat penyebaran api, terutama di kawasan yang memiliki vegetasi mudah terbakar.

BMKG Ingatkan Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah

Kewaspadaan terhadap banjir perlu dilanjutkan karena prakiraan cuaca menunjukkan peluang peningkatan hujan di sejumlah daerah. Dalam pembaruan prakiraan periode 30 Oktober–5 November 2026 yang diterbitkan 29 Oktober, BMKG menyebut sebagian wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat.

Untuk periode 30 Oktober–1 November, BMKG menetapkan potensi hujan lebat hingga sangat lebat di sejumlah wilayah Sumatera, termasuk Aceh dan Sumatera Utara. Potensi angin kencang juga perlu diperhatikan di kedua provinsi tersebut.

Pada periode 2–5 November, potensi hujan sedang masih diprakirakan terjadi di Aceh dan Sumatera Utara. BMKG juga mengingatkan bahwa dinamika atmosfer dapat memicu hujan signifikan dalam skala harian meskipun kondisi umum di sejumlah daerah masih relatif kering.

Informasi tersebut menjadi perhatian bagi pemerintah daerah dan masyarakat di kawasan rawan banjir. Warga yang tinggal di sekitar sungai perlu memperhatikan perubahan debit air, menghindari aktivitas di sekitar aliran yang meningkat, serta mengikuti arahan petugas apabila kondisi memburuk.

BNPB meminta masyarakat segera melaporkan potensi keadaan darurat kepada BPBD setempat. Informasi prakiraan dan peringatan dini cuaca juga perlu dipantau melalui kanal resmi BMKG agar langkah antisipasi dapat dilakukan lebih awal.

Ditulis oleh Shidarta

Media dan broadcast, penulis, journalist

Komentar