Willem Wandik Kawal Perdamaian Dua Kelompok Bertikai di Tolikara

Dua kelompok yang terlibat konflik di Tolikara, Papua Pegunungan, akhirnya menandatangani deklarasi damai

Willem Wandik Kawal Perdamaian Dua Kelompok Bertikai di Tolikara
Bupati Tolikara Willem Wandik bersama Forkopimda dalam upaya mendamaikan dua kelompok yang bertikai di Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan. framedaily.id

Frame Daily, Tolikara - Dua kelompok yang sebelumnya terlibat pertikaian di Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan, akhirnya sepakat berdamai. Kesepakatan tersebut ditandai dengan penandatanganan fakta integritas dan deklarasi damai setelah Bupati Tolikara Willem Wandik, S.Sos., bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) turun langsung melakukan pendekatan kepada masyarakat.

Penandatanganan deklarasi berlangsung di depan Tugu Salib Kabupaten Tolikara. Kesepakatan ini menjadi langkah untuk meredakan ketegangan sekaligus membuka jalan bagi pemulihan hubungan sosial masyarakat yang sempat terganggu akibat konflik.

Upaya perdamaian tersebut merupakan tindak lanjut dari pendekatan yang dilakukan Willem Wandik bersama Forkopimda sehari sebelumnya. Pemerintah daerah mengedepankan dialog dan komunikasi persuasif untuk mempertemukan pihak-pihak yang bertikai serta mendorong penyelesaian konflik secara damai.

Dalam proses tersebut, Willem Wandik menemui langsung masyarakat, mendengarkan persoalan yang dihadapi, serta mengajak kedua kelompok membuka ruang komunikasi. Pendekatan dari hati ke hati dilakukan untuk mendorong penghentian pertikaian dan membangun kembali hubungan persaudaraan.

Bagi pemerintah daerah, penyelesaian konflik tidak cukup hanya dengan menghentikan bentrokan. Proses rekonsiliasi juga perlu memastikan masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas sehari-hari dengan aman dan tanpa rasa takut.

Kehadiran Bupati Tolikara di sejumlah lokasi pengungsian, termasuk masjid dan gereja, menjadi bagian dari upaya memberikan dukungan kepada masyarakat terdampak. Langkah tersebut sekaligus mencerminkan upaya pemerintah daerah menjangkau warga tanpa membedakan latar belakang maupun tempat mereka mencari perlindungan.

Di tengah situasi yang membutuhkan kepedulian bersama, komunikasi lintas kelompok dan pendekatan kemanusiaan menjadi bagian penting dalam proses pemulihan. Pemerintah daerah bersama Forkopimda terus mendorong agar kesepakatan yang telah dicapai tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi diwujudkan dalam kehidupan masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Tolikara berharap seluruh pihak menjaga komitmen yang telah disepakati dan menghindari tindakan yang berpotensi memicu konflik kembali.

Deklarasi damai di depan Tugu Salib Kabupaten Tolikara diharapkan menjadi titik awal untuk merajut kembali hubungan persaudaraan yang sempat terganggu.

Semangat saling menyayangi, mencintai, dan mengasihi menjadi pesan yang ingin dibangun dalam proses rekonsiliasi tersebut. Perbedaan diharapkan tidak menjadi alasan untuk saling menyakiti, sebab kedamaian dan persaudaraan merupakan fondasi bagi masa depan masyarakat.

Di Bumi Nawi Arigi, menjaga harmoni merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah dapat memfasilitasi dialog dan membuka ruang perdamaian, tetapi keberlangsungannya membutuhkan komitmen seluruh elemen masyarakat.

Kesepakatan tersebut kini menjadi harapan bagi Tolikara untuk melangkah menuju situasi yang lebih kondusif. Pesan yang mengemuka dari proses rekonsiliasi ini adalah bahwa perbedaan tidak harus berujung permusuhan, sementara persaudaraan perlu dijaga agar lebih kuat daripada pertikaian.

Ditulis oleh Senida Aditya

Komentar