Warga Pati Khawatir Retakan Tanah Meluas

Retakan dan amblasan tanah terjadi di bantaran Sungai Silugonggo, Pati. Warga khawatir pergerakan tanah meluas hingga ke permukiman yang hanya berjarak beberapa meter.

Warga Pati Khawatir Retakan Tanah Meluas
Warga berdiri di dekat retakan dan amblasan tanah yang merusak beton di bantaran Sungai Silugonggo, Desa Tondomulyo, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran karena retakan terus melebar dan berpotensi mengancam permukiman warga. Frame Daily , Foto : Rimba.

Frame Daily, Pati – Warga Desa Tondomulyo, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, dilanda kekhawatiran setelah tanah di bantaran Sungai Silugonggo mengalami retak dan amblas.

Kondisi tersebut terjadi setelah debit Sungai Silugonggo menyusut hingga mengering di sejumlah titik. Tanah di tepi sungai dilaporkan amblas hingga sekitar 50 sentimeter dengan panjang mencapai 100 meter.

Peristiwa itu mulai terlihat sejak Rabu (19/8/2026). Retakan yang semula kecil perlahan melebar dan menyebabkan sejumlah bagian bantaran sungai mengalami longsor.

Kondisi ini turut merusak sejumlah bangunan yang berada di sekitar bantaran. Punden Mbah Sati, rumah pompa irigasi, serta tembok pembatas sungai dilaporkan mengalami kerusakan.

Minggu (23/8/2026), warga menyebut retakan tanah di lokasi tersebut terus berkembang. Jarak antara area yang mengalami kerusakan dengan permukiman warga juga hanya beberapa meter.

Warga setempat, Sukardi, mengatakan kondisi tanah semakin tidak stabil setelah air sungai menghilang.

“Awalnya sedikit lama-lama sampai ini,” kata Sukardi Minggu (23/8/2026).

Warga Cemas Merembet ke Permukiman

Kekhawatiran terbesar warga adalah retakan dan amblasan terus bergerak menjauh dari bantaran sungai menuju kawasan tempat tinggal.

Sukardi mengatakan warga khawatir apabila tembok pembatas sungai roboh, pergerakan tanah bisa semakin parah dan merembet ke area permukiman.

“Khawatir tetap ya, khawatir kalau pagar sampai ambruk ke sungai dan lebih parah lagi. Pasti merambat ke permukiman,” ujarnya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena permukiman warga berada cukup dekat dengan titik tanah yang mengalami kerusakan.

Pada Selasa (25/8/2026) juga menyebut retakan dan amblasan tanah di sepanjang tepi Sungai Silugonggo mencapai sekitar 100 meter. Sejumlah bangunan ikut terdampak, sementara pagar tembok di sekitar bantaran sungai terlihat miring dan berisiko roboh.

Kekeringan Berdampak ke Pertanian

Persoalan tidak berhenti pada kerusakan bantaran sungai. Mengeringnya Sungai Silugonggo juga berdampak terhadap aktivitas pertanian warga.

Petani yang mengandalkan air sungai untuk mengairi sawah mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air. Kondisi tersebut terjadi ketika tanaman padi membutuhkan pengairan.

Sebelumnya, pada 21 Agustus 2026 bahwa sebanyak 127 hektare sawah di Desa Sugiharjo terancam gagal panen akibat menyusutnya debit Sungai Silugonggo. Lahan tersebut berada di Dukuh Gilis dan Dusun Garas.

Dilaporkan pada 21 Agustus bahwa kekeringan Sungai Silugonggo telah berlangsung sekitar tiga pekan dan mengancam ribuan hektare tanaman padi di sejumlah wilayah Pati.

Bagi warga Tondomulyo, kondisi tersebut menambah persoalan karena mereka harus menghadapi dampak kekeringan sekaligus ancaman kerusakan bantaran sungai.

Pemerintah Lakukan Pengecekan

Pemerintah Kabupaten Pati telah melakukan pengecekan terhadap kondisi bantaran Sungai Silugonggo di Desa Tondomulyo.

Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra mengatakan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUTR) telah turun ke lokasi untuk melihat kondisi kerusakan.

Pemerintah daerah akan melakukan mitigasi untuk mengetahui titik serta tingkat kerusakan secara menyeluruh. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kebutuhan penanganan, anggaran perbaikan dapat disiapkan melalui Belanja Tidak Terduga (BTT).

Warga berharap penanganan dilakukan secepatnya sebelum retakan berkembang lebih jauh. Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran, kondisi tanah yang terus bergerak menjadi ancaman yang tidak bisa diabaikan.

Kekeringan Sungai Silugonggo saat ini tidak hanya menyulitkan petani memperoleh air, tetapi juga memunculkan persoalan baru berupa kerusakan bantaran sungai.

Pemantauan kondisi tanah dan langkah mitigasi menjadi penting untuk memastikan retakan tidak berkembang menuju kawasan permukiman warga.

Ditulis oleh Treasure

Komentar