Balita 2 Tahun Meninggal di Pengungsian Gempa NTT, Kemenkes Ungkap Penyebabnya

Mario Calviano Guru, balita 2 tahun asal Nagekeo, meninggal setelah sakit saat mengungsi pascagempa NTT. Ia sempat dirawat di rumah sakit. Kemenkes menyebut faktor kedinginan dan cuaca berperan, sementara keluarga dan relawan menyoroti keterbatasan fasilitas pengungsian.

Balita 2 Tahun Meninggal di Pengungsian Gempa NTT, Kemenkes Ungkap Penyebabnya
Mario Calviano Guru (2). Foto : Dok.Istimewa

Frame Daily, Kupang - Perjuangan Mario Calviano Guru, balita berusia dua tahun asal Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), berakhir setelah kondisi kesehatannya menurun saat berada di lokasi pengungsian pascagempa.

Mario meninggal dunia pada Kamis (20/8/2026), lima hari setelah gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nagekeo dan sejumlah daerah di NTT.

Mario sebelumnya mengungsi bersama keluarganya di Posko Pengungsian Bukit Puta. Ia sempat mengalami sakit hingga harus mendapatkan perawatan medis di rumah sakit.

Informasi mengenai meninggalnya Mario sebelumnya diberitakan sejumlah media nasional, pada 22 Agustus 2026. Media tersebut melaporkan kondisi pengungsian yang minim selimut dan fasilitas dasar.

Relawan sekaligus warga setempat, Afik, membenarkan kabar duka tersebut. Menurut dia, kondisi kesehatan Mario terus menurun ketika berada di pengungsian.

"Saat ini ada banyak penyintas lain yang harus bertahan menghadapi dingin, keterbatasan tempat tinggal, obat-obatan, serta kebutuhan dasar lainnya," kata Afik.

Sempat Dirawat di Rumah Sakit

Sebelum meninggal, Mario sempat dibawa ke Rumah Sakit (RS) Aeramo. Karena mengalami demam tinggi, ia kemudian dirujuk ke RS Bajawa.

Keluarga menyebut kondisi Mario memburuk hingga mengalami tubuh kaku dan kejang.

"Anak ini sebelumnya sehat dan sangat segar. Ia sakit karena terpapar dingin di pengungsian. Itulah yang membuat saya sangat terpukul," ujar Jack, salah satu anggota keluarga Mario.

Jack meminta pemerintah segera memperhatikan kondisi para pengungsi yang masih bertahan di lokasi dengan fasilitas terbatas.

"Kami mohon bantuan segera. Ini situasi yang serius. Korban meninggal baru berusia dua tahun," ujarnya.

Menurut keluarga, warga di lokasi pengungsian masih membutuhkan tenda, kelambu, selimut, obat-obatan, air bersih, serta kebutuhan dasar lainnya.

Kemenkes Beri Klarifikasi

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memberikan penjelasan mengenai penyebab meninggalnya Mario.

Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes, Sumarjaya, mengatakan Mario tidak meninggal akibat tertimpa reruntuhan bangunan saat gempa. Faktor kedinginan dan cuaca disebut berperan ketika kondisi Mario sedang sakit.

"Karena dia sakit, jadi bukan karena faktor kena gempa," kata Sumarjaya.

Keterangan tersebut penting untuk memperjelas bahwa Mario bukan korban langsung akibat tertimpa bangunan. Ia merupakan balita yang mengalami penurunan kondisi kesehatan setelah berada di tengah situasi pengungsian.

Pengungsi Masih Hadapi Keterbatasan

Kondisi pengungsian menjadi perhatian karena sejumlah warga masih bertahan di lokasi terbuka setelah gempa.

Relawan menyebut sebagian warga menghadapi suhu dingin pada malam hari, keterbatasan tempat tinggal, minimnya selimut, serta persoalan air bersih.

Sebelumnya, pemerintah juga telah mengerahkan layanan kesehatan untuk menangani korban gempa Nagekeo. Kemenkes menyebut gempa 15 Agustus 2026 berdampak besar terhadap layanan kesehatan di wilayah tersebut. Sejumlah fasilitas kesehatan mengalami kerusakan dan pelayanan medis harus tetap berjalan dalam kondisi darurat.

Data penanganan bencana terus berubah seiring proses pendataan di lapangan. Pada 21 Agustus, berdasarkan data Basarnas terdapat 13 orang meninggal, 13 korban luka berat, dan sembilan korban luka ringan di Kabupaten Nagekeo.

Kepergian Mario menambah duka di tengah upaya warga untuk bertahan setelah gempa. Bagi keluarga, kematian balita tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kebutuhan pengungsi tidak berhenti pada penanganan korban gempa, tetapi juga mencakup perlindungan kesehatan dan pemenuhan kebutuhan dasar selama berada di pengungsian.

Ditulis oleh Why

Komentar