Frame Daily, Boyolali — Krisis air bersih akibat musim kemarau di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, terus meluas. Pemerintah Kabupaten Boyolali menetapkan status siaga darurat bencana kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan setelah 11 kecamatan masuk wilayah terdampak kekeringan.
Penetapan tersebut tertuang dalam SK Bupati Boyolali Nomor 100.3.3.2/487 Tahun 2026. Status siaga darurat berlaku sejak 21 Juli hingga 31 Oktober 2026 dan dapat diperpanjang sesuai kondisi di lapangan.
Sebelas kecamatan yang masuk wilayah rawan kekeringan meliputi Ampel, Gladagsari, Cepogo, Selo, Musuk, Tamansari, Andong, Kemusu, Wonosamodro, Wonosegoro, dan Juwangi.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan air bersih warga meningkat. Pemerintah daerah bersama sejumlah pihak terus melakukan distribusi air ke wilayah yang mengalami kekurangan pasokan.
Warga Rela Mencari Air ke Sumber yang Tersisa
Dampak kemarau paling terasa ketika sumur-sumur warga mulai mengering. Sebagian masyarakat terpaksa mengandalkan bantuan air bersih yang datang secara berkala.
Di sejumlah wilayah, warga juga masih mencari sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Pada 6 Agustus 2026 warga di Desa Bojong, Kecamatan Wonosegoro, bahkan mencari air dari belik atau galian di dasar sungai yang mulai mengering. Air tersebut dimanfaatkan untuk kebutuhan hidup saat musim kemarau.
Kondisi serupa terjadi di Desa Bolo, Kecamatan Wonosegoro. Pada 24 Juli 2026 dilaporkan sumur warga telah mengering sehingga sebagian masyarakat mengandalkan air sungai untuk kebutuhan tertentu.
Gambaran tersebut menunjukkan bahwa persoalan kekeringan tidak sekadar menyangkut berkurangnya debit air, tetapi juga menambah beban aktivitas harian warga.
Bantuan Air Terus Didistribusikan
Pemerintah Kabupaten Boyolali bersama BPBD, PMI, Perumda Air Minum Tirta Ampera dan sejumlah pihak telah melakukan distribusi air bersih ke wilayah terdampak.
Data Pemkab Boyolali per 3 Agustus 2026 mencatat sebanyak 135 tangki atau sekitar 590 ribu liter air bersih telah disalurkan. Bantuan tersebut menjangkau tujuh kecamatan, 20 desa atau kelurahan, serta 41 dukuh dan sekitar 9.696 jiwa.
Pada 10 Agustus, Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo juga menyalurkan 7.000 liter air bersih ke Desa Mriyan, Kecamatan Tamansari. Bantuan tersebut digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat selama musim kemarau.
Sementara itu, laporan Disway pada 24 Agustus 2026 menyebut Pemkab Boyolali menyiapkan sekitar 11 juta liter air bersih untuk menghadapi musim kemarau panjang yang diperkirakan berlangsung hingga awal 2027.
Kebutuhan Air Diperkirakan Meningkat
BPBD Boyolali memperkirakan kebutuhan air bersih masih akan meningkat dalam beberapa bulan mendatang. Pada 21 Agustus 2026 kebutuhan air diperkirakan terus meningkat hingga November, dengan puncaknya diprediksi terjadi pada September.
Ancaman kekeringan juga menjadi bagian dari persoalan kemarau di Jawa Tengah. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi sebelumnya menyampaikan pemerintah provinsi telah menggeser 8,8 juta liter air ke berbagai kabupaten/kota serta menyiapkan 12 ribu pompa untuk membantu wilayah terdampak.
Bagi warga Boyolali, distribusi air bersih menjadi penopang penting di tengah semakin panjangnya periode tanpa hujan.
Di saat sumber air alami terus menyusut, kebutuhan dasar masyarakat tetap harus dipenuhi setiap hari. Antrean warga membawa jeriken dan galon menjadi gambaran nyata bagaimana kemarau telah mengubah rutinitas masyarakat di sejumlah wilayah Boyolali.
Pemerintah daerah pun dituntut tidak hanya memperkuat distribusi bantuan selama masa darurat, tetapi juga menyiapkan solusi jangka panjang agar persoalan krisis air bersih tidak terus berulang setiap musim kemarau.
Komentar