FRAME DAILY, LAMPUNG TIMUR — Momen haru sekaligus penting terjadi di Pusat Konservasi Gajah (PKG) Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Pengelolaan gajah mulai diarahkan menuju pola perawatan yang memungkinkan satwa bergerak lebih bebas tanpa rantai dan gancu.
Perubahan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan gajah di kawasan konservasi tersebut.
Untuk mendukung proses tersebut, tim Elephant Nature Park (ENP) dari Chiang Mai, Thailand, turun langsung ke Way Kambas. Tim memberikan pendampingan kepada para mahout atau perawat gajah agar mampu menerapkan pendekatan yang lebih humanis dalam menangani satwa.
Sabtu (3/10/2026), tim ENP membantu mempersiapkan gajah agar secara bertahap dapat meninggalkan pola pengelolaan menggunakan rantai dan gancu.
Founder and Director ENP Thailand, Saengduean “Lek” Chailert, mengatakan perubahan tersebut bukan sekadar melepas rantai.
Menurutnya, gajah juga perlu dipersiapkan untuk kembali berinteraksi dan hidup bersama dalam kelompok.
“Kami datang untuk melatih gajah agar menjadi kawanan, melepaskan gajah dari rantai dan membiarkan mereka menjadi keluarga lagi,” ujar Lek, Jumat (2/10/2026).
Ahli Thailand Dampingi Mahout
Pendampingan di Way Kambas melibatkan lima anggota tim ENP. Mereka berbagi pengalaman mengenai pengelolaan gajah dengan pendekatan yang lebih memperhatikan kesejahteraan satwa.
Para mahout menjadi bagian penting dalam perubahan tersebut. Sebab, pola perawatan baru membutuhkan kemampuan membaca perilaku gajah, membangun kepercayaan, serta mengurangi ketergantungan terhadap alat bantu yang bersifat membatasi pergerakan.
Pada Jumat (2/10/2026),dilaporkan tim ENP juga menempatkan seorang manajer mahout untuk tinggal dan bekerja bersama tim Way Kambas selama proses pendampingan.
Sejumlah mahout Indonesia sebelumnya telah mengikuti pelatihan di proyek ENP di Thailand.
Langkah tersebut diharapkan membuat proses perubahan pola pengelolaan dapat berjalan lebih aman dan terukur.
Kesejahteraan Gajah Jadi Perhatian
Perubahan pola asuh juga mencakup perhatian terhadap kondisi fisik gajah.
Lek menyebut terdapat anak-anak gajah yang membutuhkan perhatian lebih terhadap asupan makanan dan nutrisi. Kebutuhan pakan menjadi salah satu bagian penting dalam memastikan satwa berada dalam kondisi yang baik ketika pola pengelolaan baru diterapkan.
Selain pendampingan mahout, PKG Way Kambas memiliki dokter hewan yang bersiaga untuk mendukung pemeriksaan dan penanganan kesehatan gajah.
Direktur Perencanaan Konservasi Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Kehutanan, Ahmad Munawir, mengatakan kehadiran tim ENP menjadi kesempatan bagi pengelola untuk mendapatkan pengalaman langsung mengenai pengelolaan gajah berbasis kesejahteraan satwa.
Ia berharap dalam waktu dekat gajah-gajah di Way Kambas semakin siap menjalani pola hidup yang lebih bebas.
Infrastruktur Harus Mengikuti
Perubahan metode perawatan tidak bisa hanya dilakukan dengan melepas rantai dan gancu. Kesiapan lingkungan serta fasilitas menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra di Taman Nasional Way Kambas, Brigjen TNI Sriyanto, menyebut pembangunan fasilitas pendukung perlu dipercepat.
Fasilitas itu antara lain paddock terbuka yang aman, penyediaan pakan bernutrisi, serta area perawatan medis yang memadai.
Menurut Sriyanto, perubahan pola pengelolaan harus menjamin keselamatan gajah sekaligus para petugas yang mendampinginya.
Kebijakan ini juga sejalan dengan penguatan tata kelola konservasi di TN Way Kambas. Kementerian Kehutanan sebelumnya menegaskan bahwa penanganan gajah harus dilakukan secara terintegrasi, termasuk pemulihan ekosistem dan mitigasi interaksi negatif antara manusia dengan satwa.
Dalam siaran pers 28 Juli 2026, Kementerian Kehutanan menyebut penanganan konflik manusia dan gajah membutuhkan intervensi yang sistematis untuk menjamin kelestarian gajah Sumatera sekaligus menjaga keamanan masyarakat di sekitar kawasan.
Perubahan pola asuh di PKG Way Kambas menjadi langkah penting dalam perjalanan konservasi gajah Sumatera.
Dari pendekatan yang membatasi pergerakan menuju pengelolaan yang lebih memperhatikan perilaku alami, proses tersebut diharapkan membuat gajah dapat hidup lebih nyaman, sehat, dan berinteraksi secara alami.
Bagi Way Kambas, perubahan itu bukan sekadar soal melepas rantai. Ini menjadi upaya membangun kembali hubungan antara manusia dan satwa dengan pendekatan yang lebih menghormati kesejahteraan gajah.
Komentar