PBNU Ungkap Agenda Khusus Hari Santri 2026: Ziarah hingga Doa untuk Palestina

PBNU menerbitkan pedoman Hari Santri 2026 dengan apel serentak, ziarah ulama, mujahadah untuk Palestina, serta layanan sosial bagi masyarakat.

PBNU Ungkap Agenda Khusus Hari Santri 2026: Ziarah hingga Doa untuk Palestina
Ilustrasi - Agenda perayaan hari santri 22 oktober 2026. (FDN/AI)

Frame Daily, JAKARTA – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menetapkan rangkaian Hari Santri Nasional 2026 yang mencakup apel serentak, ziarah makam ulama, hingga Mujahadah Kemanusiaan untuk Palestina. Agenda tersebut diarahkan untuk memperkuat tradisi keagamaan, pelayanan sosial, dan solidaritas kemanusiaan yang akan melibatkan jajaran NU di berbagai daerah.

Ketentuan itu tertuang dalam Surat Edaran PBNU Nomor 3/PB.01/A.II.10.47/99/10/2026 tertanggal 1 Oktober 2026. Pedoman tersebut ditujukan kepada Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), serta Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU).

Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin mengatakan, hubungan Indonesia dan Palestina memiliki sejarah panjang. Karena itu, peringatan Hari Santri tahun ini tidak hanya berfokus pada kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi momentum memperkuat kepedulian terhadap rakyat Palestina.

"Ini perjalanan dan hubungan yang sangat panjang antara Indonesia dengan Palestina," kata Gus Kikin dalam keterangan di Jakarta, Sabtu (3/10/2026), sebagaimana dikutip ANTARA.

PBNU juga mengingatkan bahwa dukungan terhadap Palestina telah disuarakan Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari sejak sebelum Indonesia merdeka. Komitmen tersebut terus dirawat, antara lain melalui pembacaan Qunut Nazilah di Pesantren Tebuireng.

Apel Hari Santri Digelar Serentak 22 Oktober

Dalam pedoman Hari Santri Nasional 2026, PBNU menetapkan apel serentak pada Kamis, 22 Oktober 2026. Kegiatan dapat dipusatkan di halaman sekretariat NU sesuai tingkatan kepengurusan atau diselenggarakan di lingkungan pesantren, rumah sakit, klinik, sekolah, madrasah, dan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama.

Logo Hari Santri 2026. (ANTARA/PBNU)

PBNU meminta seluruh penyelenggara mengutamakan kekhidmatan, kemudahan, serta pelayanan kepada jemaah dan warga NU. Pelaksanaan kegiatan diharapkan menyesuaikan kondisi masing-masing wilayah tanpa mengurangi makna peringatan.

Pedoman tersebut juga mengatur pakaian peserta apel. Peserta laki-laki mengenakan sarung berwarna gelap, atasan putih, dan peci hitam. Adapun peserta perempuan mengenakan busana muslimah bernuansa putih dengan bawahan yang menyesuaikan.

Dalam rangkaian apel, jajaran Tanfidziyah atau badan otonom NU dapat membacakan Naskah Resolusi Jihad NU. Pembacaan ini menjadi bagian dari upaya mengingat kembali peran ulama dan santri dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Ziarah Ulama hingga Doa Bersama untuk Palestina

Selain apel, PBNU menginstruksikan jajaran organisasi untuk mengawali rangkaian Hari Santri dengan ziarah ke makam ulama, aulia, maupun penggerak NU di wilayah khidmah masing-masing.

Agenda tersebut dilengkapi dengan Mujahadah Kemanusiaan untuk Palestina. Seluruh jenjang kepengurusan NU diminta menyelenggarakan kegiatan ini melalui majelis istigasah, pembacaan selawat, zikir berjemaah, atau bentuk majelis doa lainnya.

PBNU memandang kegiatan tersebut sebagai bagian dari riyadhah bathiniyyah, yakni ikhtiar spiritual, sekaligus wujud solidaritas kemanusiaan bagi rakyat Palestina.

Komitmen itu sejalan dengan perhatian Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar saat menerima sejumlah tokoh Palestina di Pondok Pesantren Miftachussunnah, Surabaya, pada Minggu (27/9/2026).

Melalui rangkaian tersebut, peringatan Hari Santri tidak hanya menjadi ruang untuk memperkuat identitas keagamaan, tetapi juga mendorong kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan internasional.

PBNU Dorong Layanan Sosial bagi Masyarakat

PBNU juga meminta pengurus NU mengisi Hari Santri dengan kegiatan yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Pilihan kegiatan mencakup layanan kesehatan gratis, donor darah, konsultasi keluarga, serta layanan konsultasi zakat.

Kegiatan kepedulian lingkungan turut dianjurkan, antara lain perbaikan sanitasi pesantren atau madrasah dan aksi bersih-bersih masjid. Pengurus NU juga dapat menyelenggarakan halaqah yang melibatkan ulama dan pondok pesantren di wilayah masing-masing.

Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa Hari Santri 2026 diarahkan untuk menggabungkan penguatan tradisi, refleksi sejarah, solidaritas kemanusiaan, dan pelayanan publik.

Dengan pedoman ini, PBNU berharap peringatan Hari Santri tidak berhenti pada upacara tahunan. Keterlibatan pengurus, pesantren, dan masyarakat diharapkan menghadirkan manfaat nyata sekaligus menjaga semangat perjuangan santri dalam kehidupan berbangsa.

Apel serentak pada 22 Oktober 2026 menjadi salah satu agenda utama, disertai ziarah ulama, doa bersama untuk Palestina, dan berbagai kegiatan sosial. Pelaksanaannya diserahkan kepada jajaran NU di setiap tingkatan dengan tetap mengedepankan kekhidmatan dan kebutuhan masyarakat setempat.

Ditulis oleh Indah Susilo

Komentar