Frame Daily, Jombang - Musim haji bukan hanya menjadi momen sakral bagi umat Muslim yang bersiap berangkat ke Tanah Suci. Di balik suasana penuh haru dan doa, ada geliat ekonomi lokal yang ikut tumbuh. Salah satunya dirasakan para perajin sarung goyor tenun tradisional di Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Permintaan sarung goyor meningkat tajam menjelang keberangkatan jemaah haji. Kain tenun khas ini banyak diburu untuk dijadikan suvenir, buah tangan, hingga hadiah syukuran bagi keluarga dan tetangga.
Pesanan Meningkat Jelang Musim Haji
Kesibukan para perajin terlihat jelas di Sentra Tenun Pokmas Wastra Sejahtera yang berada di Dusun Penggaron, Desa Penggaron, Kecamatan Mojowarno, Jombang.
Suara alat tenun bukan mesin (ATBM) terdengar nyaris tanpa henti. Para perajin harus bekerja ekstra demi memenuhi lonjakan pesanan dari berbagai daerah.
Calon jemaah haji biasanya sudah memesan sarung sejak jauh hari. Sarung tenun tradisional ini kerap dibagikan kepada kerabat, tamu, hingga warga sekitar sebagai bentuk rasa syukur sebelum ataupun setelah pulang berhaji.
Bagi masyarakat, sarung goyor bukan sekadar kain biasa. Produk ini memiliki nilai budaya, estetika, sekaligus menjadi simbol kebanggaan wastra lokal.
Sarung Goyor Punya Ciri Khas yang Sulit Ditandingi
Popularitas sarung goyor tidak lepas dari keunikan yang dimilikinya. Dibanding sarung pabrikan, kain tenun tradisional ini menawarkan kualitas dan kenyamanan tersendiri.
1. Motif Bisa Dipakai Bolak-Balik Salah satu daya tarik utama sarung goyor adalah desain reversible atau dua sisi. Corak tenun dibuat rapi sehingga kedua sisi tetap terlihat indah saat digunakan. Detail motifnya juga memiliki karakter khas hasil tenunan tangan yang memberi kesan eksklusif dan elegan.
2. Nyaman Digunakan di Berbagai Cuaca Sarung goyor dikenal memiliki tekstur yang lembut dan nyaman dipakai dalam waktu lama. Saat cuaca panas, kain terasa adem dan ringan. Ketika udara dingin, tetap mampu memberikan rasa hangat. Karakter inilah yang membuat sarung goyor disukai banyak kalangan.
Menjaga Tradisi di Tengah Perubahan Zaman
Bagi para perajin di Jombang, musim haji bukan hanya soal meningkatnya omzet penjualan. Momentum ini juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kembali warisan tenun tradisional kepada masyarakat luas.
Di tengah maraknya produk tekstil modern, keberadaan sarung goyor menjadi bukti bahwa wastra Nusantara masih memiliki tempat di hati masyarakat.
Melalui sentra tenun seperti Wastra Sejahtera, tradisi menenun terus dijaga agar tetap hidup dan mampu diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sarung Goyor Jadi Primadona Oleh-Oleh Haji
Perpaduan antara kenyamanan, nilai budaya, dan keindahan motif membuat Sarung Goyor Jombang terus diminati setiap musim haji tiba.
Bagi para jemaah, sarung ini menjadi oleh-oleh yang sarat makna. Sementara bagi para perajin, meningkatnya permintaan menjadi berkah sekaligus semangat untuk terus melestarikan tenun tradisional Indonesia.
Komentar