Frame Daily, Jakarta — Anggapan bahwa layanan keuangan syariah lebih mahal dibandingkan layanan konvensional dinilai tidak sepenuhnya tepat. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyebut biaya yang lebih tinggi bukan berasal dari sistem syariah, melainkan karena ukuran atau skala lembaga keuangan yang belum sebesar perbankan konvensional.
Pandangan tersebut disampaikan dalam rangkaian Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII di Jakarta. MUI menilai persepsi tersebut menjadi salah satu tantangan yang masih menghambat pertumbuhan industri keuangan syariah di Indonesia.
Bukan Persoalan Syariah, tetapi Skala Usaha
Ketua Bidang Dakwah dan Ukhuwah MUI KH Cholil Nafis menjelaskan mahal atau murahnya layanan pembiayaan lebih dipengaruhi oleh besarnya modal dan biaya dana (cost of fund) yang dimiliki lembaga keuangan.
Menurutnya, bank dengan skala aset yang lebih kecil umumnya memiliki biaya dana lebih tinggi sehingga berpengaruh terhadap biaya pembiayaan kepada nasabah.
“Mahal dan murah itu bukan persoalan syariah dan non syariah, tetapi soal size, soal ukuran. Jadi ketika bank itu kecil maka cost of fund-nya akan lebih banyak dan itu pasti lebih mahal,” ujar Cholil.
Sebaliknya, ketika lembaga keuangan memiliki aset dan modal yang lebih besar, biaya dana dapat ditekan sehingga produk pembiayaan menjadi lebih kompetitif.
Konsolidasi Dinilai Jadi Solusi
Cholil mencontohkan proses penggabungan bank-bank syariah milik negara menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI). Menurutnya, konsolidasi tersebut membuat kapasitas industri perbankan syariah meningkat secara signifikan.
Ia menyebut aset BSI yang sebelumnya berasal dari penggabungan unit syariah Bank Mandiri, BRI, dan BNI kini telah mencapai sekitar Rp456 triliun.
Dengan skala usaha yang lebih besar, biaya dana dapat ditekan sehingga bank memiliki ruang lebih luas untuk menawarkan pembiayaan dengan biaya yang lebih efisien.
“Ketika dikonsolidasi itu akan menjadi besar. Jadi bukan persoalan syariah, tetapi persoalan ukuran modal lembaga keuangan itu,” katanya.
Literasi Naik, Inklusi Masih Rendah
Selain persoalan skala usaha, MUI juga menyoroti masih rendahnya penggunaan layanan keuangan syariah di Indonesia.
Meski Indonesia memiliki populasi Muslim terbesar di dunia, tingkat inklusi keuangan syariah disebut masih berada di kisaran 11 hingga 12 persen. Sementara tingkat literasi masyarakat terhadap produk keuangan syariah mencapai sekitar 39 persen.
Artinya, semakin banyak masyarakat yang mulai mengenal layanan keuangan syariah, namun belum semuanya memutuskan untuk menggunakan produk tersebut.
Menurut Cholil, kondisi ini menunjukkan masih diperlukan penguatan ekosistem, peningkatan edukasi, serta pengembangan lembaga keuangan syariah agar mampu bersaing dengan industri konvensional.
Bank Indonesia Dukung Penguatan Ekosistem
Perwakilan Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia, Dadan Muljawan, mengatakan penguatan kelembagaan menjadi salah satu langkah penting untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi syariah nasional.
Menurutnya, pengelolaan aset syariah secara lebih produktif, termasuk aset wakaf, dapat memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat sekaligus memperkuat daya tahan ekonomi nasional.
Ia menilai berbagai gagasan yang muncul dalam Kongres Umat Islam Indonesia dapat menjadi salah satu pendorong pengembangan industri keuangan syariah di masa mendatang.
Membangun Kepercayaan Sama Pentingnya dengan Membesarkan Industri
Perkembangan ekonomi syariah tidak hanya ditentukan oleh besarnya jumlah penduduk Muslim. Tantangan berikutnya adalah membangun lembaga keuangan yang memiliki skala usaha lebih besar, efisien, dan mampu menawarkan layanan yang kompetitif. Di sisi lain, peningkatan literasi juga perlu diikuti dengan kenaikan tingkat inklusi agar pemahaman masyarakat benar-benar berujung pada penggunaan produk dan layanan keuangan syariah.
Dengan penguatan kelembagaan, efisiensi biaya, dan edukasi yang berkelanjutan, industri keuangan syariah berpeluang memperluas pangsa pasarnya sekaligus menghapus anggapan bahwa layanan berbasis syariah identik dengan biaya yang lebih mahal.
Komentar