Kenapa Langit Terlihat Berkabut Saat Kualitas Udara Memburuk, Ini Penjelasannya

“Langit yang terlihat putih kusam atau berkabut saat kualitas udara memburuk dapat terjadi karena partikel polusi di atmosfer menyerap dan menghamburkan cahaya. Kelembapan tinggi dan angin lemah dapat membuat kondisi ini semakin terlihat.”

Kenapa Langit Terlihat Berkabut Saat Kualitas Udara Memburuk, Ini Penjelasannya
Partikel polusi di udara dapat menghamburkan dan menyerap cahaya sehingga langit terlihat kusam atau berkabut dan jarak pandang berkurang. Ilustrasi AI: Framedaily.id

Frame Daily, Jakarta - Saat kualitas udara memburuk, pemandangan kota terkadang ikut berubah. Gedung yang biasanya terlihat jelas menjadi samar, langit tampak putih keabu-abuan, dan cakrawala seperti tertutup lapisan kabut.

Namun, lapisan yang terlihat itu tidak selalu merupakan kabut air seperti yang biasa terbentuk akibat kondisi meteorologis. Dalam kondisi udara tercemar, berkurangnya jarak pandang dapat berkaitan dengan tingginya konsentrasi partikel dan polutan di atmosfer.

Fenomena ini sering disebut haze, yakni kondisi ketika partikel-partikel sangat kecil di udara mengurangi kejernihan atmosfer.

Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) menjelaskan bahwa haze terbentuk ketika cahaya berinteraksi dengan partikel polusi yang sangat kecil di udara. Sebagian cahaya diserap, sementara sebagian lainnya dihamburkan sebelum mencapai mata. Akibatnya, kejernihan dan warna objek yang kita lihat berkurang.

Semakin banyak partikel berada di atmosfer, efek tersebut dapat semakin nyata.

PM2.5 Bisa Membuat Pandangan Terlihat Samar

Salah satu jenis polutan yang berperan penting adalah PM2.5, yaitu particulate matter atau partikel halus dengan diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil.

Ukurannya begitu kecil sehingga partikel tersebut dapat bertahan di udara dan terbawa angin. EPA menyebut partikel halus sebagai salah satu penyebab utama berkurangnya jarak pandang atau terbentuknya haze.

Bayangkan cahaya dari sebuah gedung harus melewati udara sebelum mencapai mata. Ketika udara relatif bersih, sebagian besar cahaya dapat melewati atmosfer sehingga bangunan terlihat jelas.

Ketika konsentrasi partikel meningkat, cahaya lebih banyak mengalami hamburan dan penyerapan. Akibatnya, kontras objek menurun. Gedung yang jauh terlihat semakin pucat, batas cakrawala tidak tegas, dan langit dapat terlihat putih, abu-abu, atau kecokelatan.

Inilah sebabnya kualitas udara yang buruk terkadang dapat terlihat secara kasatmata.

Tetapi ada batas penting: langit yang terlihat keruh bukan alat ukur kualitas udara. Kondisi atmosfer, kelembapan, awan, kabut air, debu, asap, hingga pencahayaan juga dapat memengaruhi jarak pandang.

Karena itu, kualitas udara tetap perlu dinilai menggunakan hasil pengukuran konsentrasi polutan atau indeks kualitas udara, bukan hanya berdasarkan warna langit.

Kenapa Kondisinya Sering Lebih Terlihat pada Pagi Hari?

Kelembapan dan kondisi atmosfer ikut menentukan seberapa jelas haze terlihat.

EPA menjelaskan bahwa beberapa jenis partikel dapat menghamburkan cahaya lebih kuat dalam kondisi lembap. Partikel tertentu menyerap air ketika kelembapan meningkat sehingga kemampuan menghamburkan cahaya ikut berubah.

BMKG juga pernah menjelaskan hubungan antara kelembapan tinggi dan peningkatan konsentrasi PM2.5 di Jakarta dan sekitarnya. Kelembapan dapat mendukung proses yang meningkatkan partikulat, sementara kondisi atmosfer tertentu dapat membuat polutan tertahan dekat permukaan.

Salah satunya adalah inversi suhu.

Dalam kondisi normal, udara dekat permukaan yang lebih hangat dapat bergerak naik dan membantu pencampuran udara. Pada kondisi inversi, terdapat lapisan atmosfer yang menghambat pergerakan vertikal tersebut sehingga polutan dapat lebih mudah terperangkap dekat permukaan.

Angin yang lemah juga berpengaruh. BMKG menjelaskan stagnasi udara dapat membuat polutan yang sudah terakumulasi tidak segera berpindah, sehingga konsentrasinya dapat bertahan dan jarak pandang menurun.

Itu pula sebabnya pemandangan kota dapat terlihat sangat keruh pada suatu waktu, lalu menjadi lebih jelas setelah kondisi atmosfer berubah.

Kabut, Haze, dan Asap Tidak Selalu Sama

Meski secara visual mirip, kabut meteorologis, haze akibat polusi, dan asap bukan fenomena yang identik.

Kabut pada dasarnya terdiri atas tetesan air sangat kecil yang berada dekat permukaan dan mengurangi jarak pandang. Sementara haze lebih berkaitan dengan aerosol atau partikel di atmosfer yang menyerap dan menghamburkan cahaya. Penelitian atmosfer juga menggunakan kelembapan, PM2.5 dan jarak pandang untuk membantu membedakan kedua kondisi tersebut.

Asap kebakaran dapat menjadi salah satu sumber partikel pembentuk haze, tetapi bukan satu-satunya. Partikel dan gas pembentuk polusi dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk kendaraan bermotor, pembakaran bahan bakar, kegiatan industri, debu, dan kebakaran.

Karena itu, melihat langit berkabut tidak cukup untuk menentukan sumber polusinya. Untuk mengetahui penyebabnya diperlukan data kualitas udara, meteorologi, pola angin, hingga analisis sumber emisi.

Yang perlu mendapat perhatian bukan hanya perubahan warna langit. PM2.5 berukuran cukup kecil untuk masuk jauh ke paru-paru dan bahkan menembus ke aliran darah. WHO menyebut paparan polusi partikulat berkaitan dengan berbagai dampak pada sistem pernapasan dan kardiovaskular.

Jadi ketika kualitas udara memburuk dan kota terlihat seperti tertutup kabut, yang kita lihat dapat merupakan efek interaksi antara partikel polusi, cahaya, kelembapan, angin, dan kondisi atmosfer.

Langit yang tampak keruh bisa menjadi petunjuk visual bahwa kejernihan atmosfer sedang berkurang. Namun untuk mengetahui apakah udara benar-benar tidak sehat, data pemantauan kualitas udara tetap menjadi rujukan yang lebih tepat daripada sekadar melihat kondisi langit.

Follow Instagram @framedaily.id_official untuk mendapatkan berita terbaru, fakta, dan cerita di balik isu yang sedang ramai.

Ditulis oleh Riki firmansyahrial

Komentar