Frame Daily, Jakarta - Matahari bersinar, hujan tidak turun, dan langit bahkan terlihat cukup bersahabat. Sekilas, kondisi seperti ini mungkin membuat laut tampak aman untuk beraktivitas.
Namun, keadaan laut ternyata tidak selalu mengikuti apa yang terlihat di langit.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) masih memperingatkan potensi gelombang tinggi di sejumlah perairan Lampung. Peringatan terbaru berlaku mulai 13 September pukul 07.00 WIB hingga 16 September 2026 pukul 07.00 WIB.
Di Perairan Barat Lampung dan Selat Sunda bagian selatan Lampung, tinggi gelombang diprakirakan berada pada kisaran 2,5 hingga 4 meter, yang masuk kategori tinggi menurut klasifikasi BMKG.
Sementara itu, pola angin di perairan Lampung umumnya bergerak dari timur hingga selatan dengan kecepatan sekitar 2–25 knot. Kecepatan angin tertinggi diprakirakan terjadi antara lain di Perairan Barat Lampung dan Selat Sunda Selatan Lampung.
Lalu, bagaimana mungkin gelombang setinggi itu muncul ketika cuaca di suatu lokasi terlihat cukup baik?
Cuaca di Langit dan Kondisi Laut Tidak Selalu Sama
Salah satu kekeliruan yang mudah terjadi adalah menganggap laut akan tenang selama tidak ada hujan atau badai di sekitar pantai.
Padahal, gelombang laut sangat dipengaruhi oleh angin.
Ketika angin bertiup di atas permukaan laut, sebagian energinya diteruskan ke air. Semakin kuat angin, semakin lama angin bertiup, dan semakin luas wilayah laut yang dilaluinya, semakin besar pula peluang terbentuknya gelombang.
Gelombang yang sudah terbentuk kemudian dapat bergerak meninggalkan wilayah tempat asalnya.
Inilah yang membuat kondisi menjadi menarik: gelombang yang sampai ke suatu pantai tidak harus terbentuk tepat di depan pantai tersebut.
Gelombang dapat berasal dari laut yang jauh.
Ada Gelombang yang Datang dari Jauh
Dalam meteorologi maritim dikenal istilah swell, atau dalam bahasa Indonesia sering disebut alun.
Secara sederhana, swell adalah gelombang yang telah meninggalkan daerah tempat gelombang tersebut dibangkitkan oleh angin dan kemudian merambat ke wilayah lain.
Artinya, suatu kawasan dapat memiliki cuaca lokal yang relatif baik, sementara energi gelombang dari wilayah laut lain masih bergerak menuju kawasan tersebut.
BMKG pernah menjelaskan mekanisme serupa ketika angin kuat di Samudra Hindia membangkitkan swell yang kemudian menjalar hingga Perairan Barat Sumatra, selatan Jawa, dan wilayah lainnya.
Karena itulah melihat langit saja tidak cukup untuk menentukan apakah kondisi laut aman.
Cuaca yang terlihat di atas kepala menggambarkan kondisi atmosfer lokal, sedangkan gelombang yang tiba di pantai dapat membawa energi dari sistem cuaca yang berada jauh dari tempat kita berdiri.
Apa Maksud Gelombang 4 Meter?
Ada satu hal penting yang juga perlu dipahami ketika membaca peringatan BMKG.
Angka tinggi gelombang yang digunakan dalam prakiraan maritim umumnya mengacu pada tinggi gelombang signifikan.
BMKG menjelaskan tinggi gelombang signifikan sebagai rata-rata dari sepertiga gelombang tertinggi dalam suatu periode pengamatan. Parameter ini digunakan antara lain untuk keselamatan pelayaran dan aktivitas maritim.
Dalam klasifikasi BMKG, gelombang 2,5–4 meter masuk kategori tinggi, sementara 4–6 meter masuk kategori sangat tinggi.
Jadi ketika prakiraan menyebut kisaran 2,5–4 meter, jangan membayangkan setiap gelombang yang datang akan persis setinggi empat meter.
Permukaan laut selalu berubah dan setiap gelombang dapat memiliki ukuran berbeda.
Angka tersebut memberikan gambaran statistik mengenai kondisi gelombang yang sedang berlangsung atau diprakirakan terjadi.
Kenapa di Teluk Bisa Berbeda?
Menariknya, kondisi gelombang tidak sama di seluruh perairan Lampung.
Dalam peringatan BMKG pagi ini, Perairan Barat Lampung dan Selat Sunda bagian selatan masuk kategori tinggi 2,5–4 meter. Sementara Teluk Lampung bagian utara dan selatan serta Perairan Timur Lampung diprakirakan berada pada kategori sedang 1,25–2,5 meter.
Perbedaan tersebut salah satunya berkaitan dengan posisi suatu perairan terhadap laut terbuka dan arah datangnya energi gelombang.
Perairan yang lebih terbuka terhadap sumber gelombang dapat menerima energi lebih besar dibanding kawasan yang lebih terlindungi oleh bentuk pantai, pulau, atau daratan.
Itulah sebabnya kondisi laut dapat berbeda cukup jauh meskipun dua lokasi tidak terpisah jarak yang sangat besar.
Bahkan prakiraan BMKG untuk Teluk Lampung bagian selatan pada Minggu menunjukkan kondisi cuaca dapat berubah menjadi cerah berawan pada sore hari, sementara tinggi gelombang signifikan masih berada sekitar 2,1 meter.
Contoh ini memperlihatkan dengan cukup jelas bahwa cerahnya langit dan tinggi gelombang merupakan dua parameter berbeda.
Jangan Menilai Laut Hanya dari Pantai
Bagi masyarakat pesisir, nelayan, operator kapal, wisatawan maupun orang yang berencana menyeberang, kondisi seperti ini memberikan satu pelajaran sederhana.
Laut tidak selalu bisa dinilai hanya dengan melihat langit dari daratan.
Pantai dapat terlihat cerah dan angin di daratan terasa biasa saja, sementara beberapa kilometer ke arah laut kondisi gelombangnya sudah berbeda.
Terlebih lagi, energi gelombang yang datang dari laut lepas tidak harus disertai hujan, awan gelap, atau badai tepat di lokasi tersebut.
Karena itu, sebelum melakukan aktivitas di laut, informasi prakiraan cuaca maritim dan peringatan gelombang tinggi lebih relevan daripada hanya mengandalkan kondisi cuaca yang terlihat secara kasatmata.
Untuk periode 13–16 September 2026, BMKG masih menempatkan Perairan Barat Lampung dan Selat Sunda bagian selatan Lampung dalam kategori gelombang tinggi hingga 4 meter.
Jadi, ketika langit terlihat cerah tetapi laut masih bergelombang besar, sebenarnya tidak ada yang bertentangan.
Cuaca di tempat kita berdiri bisa saja sedang baik, sementara laut masih membawa energi dari angin dan sistem cuaca yang bekerja puluhan hingga ratusan kilometer jauhnya.
Follow Instagram @framedaily.id_official untuk mendapatkan berita terbaru, fakta, dan cerita di balik isu yang sedang ramai.
Komentar