ISPA dan Diare Bikin IGD Bandung Padat

Kunjungan IGD RSUD Otista Bandung melonjak hingga 120 pasien per hari. Kasus anak dengan ISPA, demam tinggi, dan diare mendominasi.

ISPA dan Diare Bikin IGD Bandung Padat
Gedung Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Oto Iskandar Di Nata Kabupaten Bandung, Jabar. (Pemkab Bandung)

Frame Daily, Bandung - ISPA dan diare menjadi sejumlah keluhan yang turut mendorong lonjakan kunjungan pasien anak ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Oto Iskandar Di Nata (Otista) Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Dalam sebulan terakhir, kunjungan IGD meningkat hampir dua kali lipat hingga mencapai 100–120 pasien per hari.

Direktur Utama RSUD Oto Iskandar Di Nata Kabupaten Bandung Yuli Irnawaty Mosjasari mengatakan peningkatan kunjungan membutuhkan koordinasi antarfasilitas kesehatan. Langkah tersebut dilakukan agar pasien memperoleh pelayanan sesuai tingkat kegawatan dan kemampuan masing-masing fasilitas.

"Koordinasi yang paling utama sih, memang melihat secara keseluruhan kondisi padatnya jumlah kunjungan pasien hingga kini di RSUD Otista," kata Yuli di Bandung, Senin (28/9), seperti dikutip ANTARA hari ini.

Menurut Yuli, sebelumnya jumlah pasien yang datang ke IGD berada pada kisaran 70–80 orang per hari. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi sekitar 100–120 pasien setiap hari dalam satu bulan terakhir.

Keluhan yang banyak ditemukan antara lain demam tinggi pada anak, gangguan saluran pernapasan seperti ISPA, serta gangguan pencernaan berupa diare. Peningkatan pasien turut berdampak terhadap keterisian tempat tidur rawat inap.

Pasien Harus Menunggu Kamar Rawat

Lonjakan ISPA dan diare pada pasien anak ikut menambah tekanan terhadap kapasitas pelayanan rumah sakit. Ketika tempat tidur rawat inap penuh, pasien dari IGD harus menunggu sampai tersedia kamar setelah pasien lain menyelesaikan perawatan dan diperbolehkan pulang.

Kondisi tersebut membuat rumah sakit perlu mengatur pasien berdasarkan tingkat kegawatan. RSUD Otista mengoptimalkan proses triase untuk menentukan pasien yang membutuhkan penanganan segera serta pasien yang kondisinya dapat ditangani melalui layanan kesehatan lain.

Pasien kategori hijau, misalnya, dapat diarahkan ke fasilitas kesehatan tingkat pertama atau rumah sakit dengan kapasitas pelayanan yang sesuai. Strategi tersebut dilakukan untuk mengurangi kepadatan di IGD tanpa mengabaikan kebutuhan medis pasien.

"Kalau kasus yang hijau tadi cukup di puskesmas atau cukup di rumah sakit tipe D, sehingga dari semua fasilitas pelayanan kesehatan dasar sampai berjenjang itu tersaring sesuai dengan level beratnya penyakit," ujar Yuli.

Pola rujukan berjenjang menjadi bagian dari upaya mengatasi kepadatan pelayanan. Pasien yang kondisinya membutuhkan fasilitas lebih lengkap dapat dipindahkan ke rumah sakit lain sesuai kebutuhan dan kapasitas yang tersedia.

RSUD Otista Perkuat Sistem Rujukan

Dalam menghadapi peningkatan pasien ISPA dan diare, RSUD Otista juga melakukan rujukan ketika kapasitas pelayanan tidak memungkinkan menampung pasien. Salah satu rumah sakit tujuan adalah Rumah Sakit Welas Asih yang memiliki sekitar 600 tempat tidur.

Rujukan juga dapat dilakukan menuju Rumah Sakit Hasan Sadikin sesuai kondisi dan kebutuhan pasien. Koordinasi tersebut diharapkan membuat distribusi pasien lebih merata sehingga fasilitas kesehatan dapat memberikan layanan berdasarkan tingkat keparahan penyakit.

Kepadatan IGD bukan hanya terjadi di RSUD Otista. Sebelumnya, sejumlah rumah sakit di Bandung juga melaporkan peningkatan kunjungan pasien dalam beberapa pekan terakhir, dengan pasien anak menjadi salah satu kelompok yang banyak membutuhkan pelayanan.

Keluhan demam tinggi, ISPA, dan diare menjadi bagian dari kasus yang ditemukan dalam peningkatan kunjungan tersebut. Situasi ini membuat pengelolaan kapasitas rumah sakit, sistem triase, serta koordinasi rujukan menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran pelayanan.

Peningkatan kunjungan pasien tidak otomatis menunjukkan seluruh kasus berada dalam kondisi gawat. Melalui triase, tenaga kesehatan dapat memilah pasien berdasarkan tingkat kegawatan sehingga penanganan dapat diberikan sesuai prioritas.

RSUD Otista terus melakukan koordinasi dengan fasilitas kesehatan lain untuk menghadapi kondisi tersebut. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memastikan pasien memperoleh layanan yang tepat tanpa menumpuk pada satu fasilitas kesehatan.

Ditulis oleh Indah Susilo

Komentar