Indonesia Alami Inflasi Tahunan 3,08 persen pada Mei 2026

Indonesia Alami Inflasi Tahunan 3,08 persen pada Mei 2026
Ilustrasi laju inflasi (istock)

Frame Daily, Jakarta - Perekonomian Indonesia mengalami inflasi sebesar 3,08 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Mei 2026, demikian catatan Badan pusat Statistik (BPS) yang dirilis Selasa (2/6/2026).

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini menyampaikan bahwa Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami kenaikan dari 111,09 pada April 2026 menjadi 111,40 pada Mei 2026.

Adapun secara tahun kalender (year-to-date/ytd) inflasi tercatat sebesar 1,35 persen dan secara bulanan (month-to-month/mtm) sebesar 0,28 persen.

“Terjadi inflasi di Mei 2026 yang lebih tinggi dari pada inflasi April 2026,” ujar Pudji Ismartini.

Pada kelompok pengeluaran, kata Pudji, penyumbang inflasi terbesar pada Mei 2026 terjadi pada kelompok makanan, minuman dan tembakau yang mengalami inflasi 0,39 persen atau memberikan andil 0,12 persen terhadap inflasi.

“Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok makanan, minuman dan tembakau yaitu cabai merah dengan andil inflasi sebesar 0,08 persen, minyak goreng dan bawang merah dengan andil inflasi masing-masing sebesar 0,04 persen, tomat dengan andil 0,03 persen, serta beras 0m02 persen,” jelasnya.

Adapun komoditas lain yang memberikan andil inflasi adalah bahan bakar rumah tangga dengan andil terhadap inflasi 0,03 persen, serta bensin dan tarif angkutan udara masing-maisng 0,02 persen.

“Selain itu, terdapat komoditas yang memberikan andil deflasi pada Mei 2026 antara lain, daging ayam ras dengan andil deflasi 0,06 persen, emas/perhiasan 0,06 persen, telur ayam ras dengan andil deflasi 0,05persen,” imbuhnya.

Secara rinci, pada Mei 2026 terjadi inflasi pada seluruh komponen. Meski demikian, inflasi 0,28 persen utamanya didorong oleh inflasi komponen inti.

Secara rinci, komponen inti mengalami inflasi sebesar 0,22 persen dengan andil inflasi sebesar 0,14 persen.

“Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi komponen inti adalah minyak goreng, telpon seluler, laptop/notebook, pelumas/oli mesin, nasi dengan lauk, telepon seluler, pemeliharaan/service,” tandasnya.

Selanjutnya, komponen harga diatur pemerintah mengalami inflasi sebesar 0,52 persen, yang memberikan andil inflasi sebesar 0,10 persen.

Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi adalah bahan bakar rumah tangga, bensin, tarif angkutan udara, sigaret kretek mesim (SKM) dan solar.

Sementara, untuk komponen harga bergejolak mengalami inflasi sebesar 0,22 persen dengan andil sebesar 0,04 persen.

Komoditas yang dominan memberikan andil terhadap inflasi komponen harga bergejolak adalah cabai merah, bawang merah, tomat, beras dan sawi hijau.

Pudji menyebutkan, sebaran inflasi bulanan menurut wilayah, yakni 31 provinsi mengalami inflasi dan 7 provinsi mengalami deflasi.

“Infasi tertinggi terjadi di Maluku sebesar 0,93 persen, sementara deflasi terdalam terjadi di Gorontalo sebesar -0,96 persen,” pungkasnya.

Ditulis oleh IR

Komentar

Masuk Ancol Gratis 8–19 Juni 2026