Frame Daily, Jakarta. - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat adanya peningkatan aktivitas influenza di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara. Berdasarkan hasil surveilans hingga minggu ke-38 tahun 2026, kondisi aktivitas influenza di Indonesia masih berada dalam rentang medium, sementara surveilans rumah sakit berada pada kategori rendah, dikutip dari Kemenkes RI, 28 September 2026.
Data Kemenkes menunjukkan positivity rate influenza mencapai 56 persen pada minggu ke-38 dalam surveilans sentinel. Pemerintah menyebut peningkatan tersebut perlu direspons dengan penguatan surveilans dan kesiapsiagaan masyarakat.
Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu mengenali gejala influenza, termasuk influenza A. Pemahaman terhadap gejala dapat membantu seseorang menentukan kapan cukup melakukan perawatan di rumah dan kapan perlu mendapatkan pemeriksaan medis.
Apa Itu Influenza A?
Influenza merupakan penyakit infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus influenza. Influenza musiman paling sering disebabkan oleh virus influenza tipe A atau B, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Influenza A memiliki sejumlah subtipe. Virus ini dapat mengalami perubahan dari waktu ke waktu sehingga pemantauan melalui surveilans diperlukan untuk mengetahui virus yang sedang beredar di masyarakat.

Penularan influenza dapat terjadi melalui partikel pernapasan ketika seseorang yang terinfeksi batuk, bersin, berbicara, atau bernapas. Virus juga dapat berpindah melalui tangan yang terkontaminasi kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulut.
WHO menyebut masa inkubasi influenza umumnya sekitar dua hari, dengan rentang sekitar satu hingga empat hari setelah seseorang terinfeksi. Gejala pada sebagian besar penderita dapat berlangsung sekitar satu minggu.
Gejala Influenza A yang Perlu Dikenali
Gejala influenza biasanya muncul secara relatif mendadak. Menurut CDC, gejala yang umum meliputi demam atau rasa demam disertai menggigil, batuk, sakit tenggorokan, hidung berair atau tersumbat, nyeri otot atau tubuh, sakit kepala, serta kelelahan.
Beberapa gejala yang perlu diperhatikan antara lain:
- Demam atau menggigil, meskipun tidak semua penderita influenza mengalami demam.
- Batuk, yang dapat bertahan lebih lama dibandingkan gejala lainnya.
- Sakit tenggorokan.
- Hidung berair atau tersumbat.
- Nyeri otot atau tubuh.
- Sakit kepala.
- Kelelahan atau tubuh terasa lemas.
- Mual, muntah, atau diare, yang lebih sering ditemukan pada anak-anak dibandingkan orang dewasa.
CDC menyebut gejala influenza tanpa komplikasi pada sebagian besar orang biasanya membaik dalam tiga hingga tujuh hari. Batuk dan rasa lelah dapat bertahan lebih dari dua minggu, terutama pada lansia dan orang dengan penyakit paru kronis.
Penting untuk dipahami bahwa gejala saja tidak dapat memastikan seseorang terinfeksi influenza A. Sejumlah penyakit infeksi saluran pernapasan lain dapat menimbulkan gejala yang serupa. Pemeriksaan laboratorium dapat digunakan untuk mendeteksi virus influenza secara lebih pasti.

Siapa yang Berisiko Mengalami Komplikasi?
Sebagian besar penderita influenza dapat pulih tanpa komplikasi serius. WHO menyebut influenza dapat menyebabkan penyakit berat pada kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi.
Kelompok yang lebih berisiko mengalami komplikasi antara lain:
- Anak-anak, terutama yang berusia di bawah lima tahun.
- Lansia berusia 65 tahun ke atas.
- Ibu hamil.
- Orang dengan penyakit kronis seperti asma, diabetes, atau penyakit jantung.
- Orang dengan kondisi yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh melemah.
- Tenaga kesehatan dan kelompok lain yang memiliki risiko paparan lebih tinggi.
Komplikasi influenza dapat berupa pneumonia dan infeksi lain. Influenza juga dapat memperburuk penyakit kronis yang sudah dimiliki seseorang.

Cara Mencegah dan Kapan Harus ke Dokter
Vaksinasi influenza merupakan salah satu cara utama untuk mengurangi risiko influenza dan komplikasinya. WHO merekomendasikan vaksinasi tahunan terutama bagi kelompok berisiko tinggi, termasuk ibu hamil, lansia, anak-anak, orang dengan penyakit kronis, dan tenaga kesehatan.
Selain vaksinasi, masyarakat dapat mengurangi risiko penularan dengan mencuci tangan secara rutin, menutup mulut dan hidung ketika batuk atau bersin, menghindari kontak dekat dengan orang yang sakit, serta tetap berada di rumah ketika sedang mengalami gejala.
Orang yang mengalami gejala berat perlu segera mendapatkan pertolongan medis. CDC mencantumkan sejumlah tanda bahaya pada orang dewasa, seperti sesak atau kesulitan bernapas, nyeri atau tekanan menetap di dada atau perut, kebingungan, kejang, tidak buang air kecil, kelemahan berat, serta demam atau batuk yang sempat membaik lalu kembali memburuk.
Pada anak-anak, tanda bahaya antara lain napas cepat atau sulit bernapas, bibir atau wajah kebiruan, dehidrasi, tidak responsif, kejang, serta demam atau batuk yang membaik kemudian kembali memburuk.
Dengan meningkatnya aktivitas influenza yang terpantau Kemenkes, masyarakat tetap perlu memperhatikan kondisi tubuh dan menerapkan langkah pencegahan. Mengenali gejala sejak awal dapat membantu menentukan langkah berikutnya, terutama bagi kelompok yang memiliki risiko komplikasi lebih tinggi.
Sumber Resmi
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) — Kemenkes: Kasus Influenza Meningkat, tetapi Masih dalam Rentang Kewaspadaan, 28 September 2026.
Sumber resmi Kemenkes RI - World Health Organization (WHO) — Influenza (seasonal).
WHO — Influenza (seasonal) - World Health Organization (WHO) — How can I avoid getting the flu?, 4 Maret 2026.
WHO — How can I avoid getting the flu? - Centers for Disease Control and Prevention (CDC) — Signs and Symptoms of Flu.
CDC — Signs and Symptoms of Flu - Centers for Disease Control and Prevention (CDC) — Clinical Signs and Symptoms of Influenza, diperbarui 4 Februari 2026.
CDC — Clinical Signs and Symptoms of Influenza
Catatan redaksi: Artikel ini bersifat informatif dan tidak menggantikan diagnosis atau pemeriksaan dokter. Gejala influenza tidak dapat digunakan sendiri untuk memastikan subtipe virus seperti influenza A(H1N1) atau A(H3N2).
Komentar