Hoaks Kesehatan di Media Sosial, Begini Cara Memeriksa Faktanya

Hoaks kesehatan di media sosial dapat memengaruhi keputusan medis masyarakat. Kenali data terbaru dan cara memeriksa klaim sebelum mempercayainya.

Hoaks Kesehatan di Media Sosial, Begini Cara Memeriksa Faktanya
Masyarakat perlu memeriksa sumber dan kebenaran informasi kesehatan di media sosial sebelum mempercayai atau membagikannya. (Ilustrasi/AI/framedaily.id)

Frame Daily, Jakarta - Informasi kesehatan kini mudah ditemukan melalui media sosial, mulai dari tips menjaga kebugaran hingga klaim pengobatan penyakit. Sebagian konten membantu masyarakat memahami kesehatan dengan bahasa sederhana. Di sisi lain, informasi yang tidak akurat juga dapat menyebar luas dan memengaruhi keputusan seseorang dalam memilih pengobatan, menggunakan suplemen, atau menerima vaksinasi.

Persoalan ini bukan sekadar tentang informasi yang salah di internet. Ketika masyarakat mempercayai klaim medis tanpa memeriksa sumbernya, keputusan yang diambil dapat berdampak pada kesehatan diri sendiri maupun keluarga. Risiko semakin besar apabila konten tersebut mendorong orang menghentikan pengobatan, menolak tindakan medis yang diperlukan, atau menggunakan produk dengan klaim penyembuhan yang tidak terbukti.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memperkuat upaya penanganan masalah tersebut melalui peluncuran Playbook Respons Cepat Penanganan Hoaks Kesehatan pada 17 September 2026. Langkah ini melibatkan berbagai pihak, termasuk Kementerian Komunikasi dan Digital serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), untuk memperkuat koordinasi dalam mendeteksi, memverifikasi, dan merespons hoaks kesehatan.

Ribuan Hoaks Kesehatan Tercatat Beredar di Platform Digital

Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat terdapat 2.622 hoaks kesehatan yang beredar di berbagai platform digital selama periode Agustus 2018 hingga September 2026. Data tersebut disampaikan Kementerian Kesehatan dalam pemberitaan mengenai penguatan kolaborasi penanganan hoaks kesehatan pada September 2026.

Imunisasi termasuk salah satu topik yang banyak menjadi sasaran informasi keliru. Isu lain yang beredar di masyarakat mencakup tuberkulosis (TB), air susu ibu (ASI), serta pemberian vitamin dan suplemen untuk meningkatkan imunitas tubuh.

Kementerian Kesehatan juga melaporkan penurunan cakupan imunisasi nasional dari 95 persen pada 2023 menjadi 87 persen pada 2024, kemudian 80 persen pada 2025. Dalam keterangannya, kementerian menyoroti hoaks sebagai salah satu tantangan yang dapat memengaruhi penerimaan masyarakat terhadap layanan kesehatan.

Data tersebut menunjukkan pentingnya komunikasi kesehatan yang akurat dan mudah dipahami. Meski demikian, penurunan cakupan imunisasi tidak dapat dijelaskan hanya oleh satu faktor tanpa penelitian lebih lanjut. Informasi mengenai hoaks perlu ditempatkan dalam konteks persoalan kesehatan masyarakat yang lebih luas.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa misinformasi merupakan informasi keliru yang disebarkan tanpa niat menipu, sedangkan disinformasi sengaja dibuat atau disebarkan untuk menyesatkan. Keduanya dapat menimbulkan dampak ketika masyarakat menggunakannya sebagai dasar pengambilan keputusan kesehatan.

Mengapa Klaim Kesehatan yang Menyesatkan Mudah Dipercaya?

Konten kesehatan sering menyentuh persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, seperti penyakit yang dialami keluarga, kekhawatiran terhadap efek samping obat, atau keinginan memperoleh pengobatan yang lebih mudah dan murah. Informasi yang menawarkan jawaban sederhana atas persoalan kompleks dapat terasa meyakinkan, terutama ketika disampaikan oleh seseorang yang terlihat percaya diri.

Klaim seperti satu produk dapat menyembuhkan berbagai penyakit, obat dokter harus segera dihentikan, atau bahan alami pasti aman perlu diperiksa secara kritis. Testimoni seseorang yang merasa sembuh juga tidak cukup untuk membuktikan bahwa suatu produk efektif bagi semua orang. Perbaikan kondisi kesehatan bisa dipengaruhi banyak faktor, termasuk perjalanan alami penyakit dan pengobatan lain yang digunakan.

Jumlah pengikut, tanda verifikasi akun, serta banyaknya tanda suka tidak otomatis membuktikan kebenaran informasi medis. Begitu pula video dengan tampilan profesional atau narasi yang menyebut penelitian ilmiah. Klaim tetap perlu ditelusuri ke sumber asli dan diperiksa apakah bukti yang dirujuk benar-benar mendukung kesimpulannya.

WHO mengingatkan bahwa informasi kesehatan yang menyesatkan dapat memperburuk kebingungan, mengurangi kepercayaan terhadap otoritas kesehatan, dan mendorong perilaku yang berisiko. Karena itu, masyarakat perlu membiasakan diri memeriksa informasi sebelum mengambil tindakan atau meneruskannya kepada orang lain.

Lima Langkah Memeriksa Informasi Kesehatan

Ada sejumlah langkah sederhana yang dapat dilakukan sebelum mempercayai unggahan tentang penyakit, obat, vaksin, atau suplemen.

Pertama, periksa siapa yang menerbitkan informasi. Cari tahu identitas penulis, latar belakang keahlian, dan lembaga yang menerbitkan konten tersebut. Jika unggahan mengatasnamakan dokter, rumah sakit, atau instansi pemerintah, periksa akun dan situs resminya untuk memastikan identitas tersebut benar.

Kedua, cari sumber asli klaim. Jika konten menyebut penelitian atau data tertentu, telusuri publikasi aslinya. Jangan hanya mengandalkan tangkapan layar, potongan video, atau kutipan yang tidak mencantumkan sumber. Periksa juga tanggal publikasi karena rekomendasi medis dapat berubah seiring perkembangan bukti ilmiah.

Ketiga, bandingkan dengan sumber kesehatan tepercaya. Masyarakat dapat memeriksa informasi melalui Kementerian Kesehatan, BPOM, WHO, rumah sakit, atau tenaga kesehatan yang kompeten. Jika terdapat perbedaan informasi, cari penjelasan dari sumber yang memiliki dasar ilmiah dan relevan dengan kondisi yang dibahas.

Keempat, waspadai janji yang terlalu mutlak. Klaim bahwa suatu produk pasti menyembuhkan penyakit, tidak memiliki efek samping, atau dapat menggantikan semua pengobatan perlu diperiksa dengan hati-hati. Penggunaan kata-kata seperti “pasti sembuh” bukan bukti efektivitas suatu terapi.

Kelima, jangan langsung membagikan informasi yang belum terverifikasi. Jika sebuah unggahan membuat marah, takut, atau sangat bersemangat, berhenti sejenak sebelum meneruskannya. Periksa faktanya terlebih dahulu. Jika informasi berkaitan dengan kondisi pribadi, konsultasikan dengan dokter atau apoteker sebelum mengubah pengobatan.

Panduan tersebut sejalan dengan anjuran WHO agar masyarakat memeriksa kredibilitas konten, identitas penulis, sumber klaim, serta keandalan media yang menerbitkannya.

Jangan Mengubah Pengobatan Berdasarkan Unggahan

Informasi di media sosial dapat menjadi pintu awal untuk mempelajari kesehatan, tetapi tidak seharusnya menjadi satu-satunya dasar untuk menentukan diagnosis atau pengobatan. Kondisi setiap orang berbeda, sehingga informasi umum tidak selalu sesuai untuk semua pasien.

Orang yang sedang menjalani pengobatan sebaiknya tidak menghentikan atau mengganti obat hanya karena melihat unggahan yang mengklaim pengobatan tersebut berbahaya. Jika muncul kekhawatiran mengenai efek samping atau keamanan terapi, langkah yang lebih tepat adalah berkonsultasi dengan dokter atau apoteker yang memahami kondisi pasien.

Hal serupa berlaku untuk suplemen dan produk herbal. Label alami tidak otomatis berarti aman, terutama jika produk digunakan bersamaan dengan obat lain. Klaim manfaat perlu dinilai berdasarkan bukti yang tersedia, sedangkan keamanan produk harus diperiksa melalui sumber resmi yang relevan.

Upaya melawan hoaks kesehatan juga membutuhkan peran masyarakat, tenaga kesehatan, media, dan pemerintah. Informasi yang benar perlu disampaikan dengan bahasa yang jelas, sedangkan klaim keliru harus dikoreksi berdasarkan bukti, bukan sekadar dibalas dengan pendapat yang berlawanan.

Pada akhirnya, kemampuan memeriksa informasi merupakan bagian penting dari literasi kesehatan. Sebelum mempercayai klaim medis atau meneruskannya kepada keluarga, masyarakat perlu memeriksa sumber, bukti, dan konteksnya. Langkah sederhana tersebut dapat membantu mengurangi penyebaran informasi menyesatkan serta mendorong keputusan kesehatan yang lebih bertanggung jawab.

Penulis : Tim redaksi Framedaily.id

Catatan: Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi dengan tenaga kesehatan.

Ditulis oleh Shidarta

Komentar