Oleh: St Eries Adlin, jurnalis senior, penulis, dan praktisi media.
Frame Daily, JAKARTA – Kompleks Perumahan Jatibening Estate, Kota Bekasi, Selasa 27 Oktober 2026.
Taksi biru yang saya tumpangi sampai di Jalan Kakatua I sekitar pukul 15.00. Puluhan mobil dan karangan bunga memenuhi perumahan itu.
“Turut berduka cita atas wafatnya Bapak Arief Mulyadi, Dirut PT PNM 2018—2026.” Begitu kira-kira inti tulisan di karangan bunga.
Baru berapa langkah setelah turun taksi, seorang insan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) yang saya kenal mendekat. Matanya merah. Beberapa detik sebelum kami berjabat tangan, tangisnya terpecah.
“Bapaaak..., kok gak ngajak saya jenguk Pak ARM,” kata pegawai perempuan itu sambil menahan tangis.
Saya yakin banyak air mata tertumpah pada hari itu. Arief Mulyadi memang sosok yang dekat dengan para insan PNM, sebutan untuk pegawai BUMN lembaga pembiayaan ultramikro itu, bahkan di seluruh Indonesia.
Sore sehari sebelumnya, saya bersama istri sempat menjenguk ARM di ruang ICU nomor 06 Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan. Namun saat itu tidak ada komunikasi di antara kami. Dia dalam kondisi tidak sadar dan sudah mengandalkan ventilator untuk menggantikan fungsi paru-parunya.
Kawan ini tidak ingin banyak orang tahu tentang kondisi kesehatannya. Sebenarnya, sejak akhir 2025 ARM sudah merasakan tanda-tanda ada yang tidak beres di tubuhnya. Namun dia sepertinya tidak terlalu menggubris seperti biasanya yang saya tahu. Sibuk kerja terus.
Tiba-tiba, di awal Juli, dalam satu percakapan via WhatsApp dia mengirimkan pesan yang berkaitan dengan fisiknya.
“Iyyee ntar yeeeh... nunggu kemot2 di leher rada ilang. Kemaren baru selese Biopsi n diambil sedikit benjolan yg paling luar.”
Oh ya, saya dan ARM memang kerap berbicara dengan langgam Betawi. Kami teman sejak kecil. Sama-sama besar di daerah Pisangan, Jakarta Timur, yang tulen Betawi-nya. Rumah kami hanya beda Rukun Warga (RW). Tapi ARM anak komplek, saya tinggal di perkampungan.
Selanjutnya kami sama-sama sekolah di SMP 74 Jakarta Timur dan SMA 31 Jakarta Timur. Namun, dia sempat pindah SMA bahkan sampai empat kali di beberapa kota. Sebenarnya, saya kakak kelas dia. Entah bagaimana saya lupa kok kami bisa dekat meski berbeda angkatan. Teman-teman sekolah dan kuliah dulu lebih mengenal Arief Mulyadi dengan panggilan Menyek.
Ada yang lucu lagi tentang jalan hidup kawan ini. “Gue ini satu dari tiga atau empat lulusan SMA jurusan IPS se-Indonesia yang bisa masuk jurusan IPA (Biologi),” kata dia.
Kami bertemu lagi pada tahun 1987 saat kuliah di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, Jawa Tengah. Saya di Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP), dia Fakultas Biologi.
“Hasil biopsi gimenong?” Saya kirim chat pada 10 Juli tetapi tidak berbalas. Kecurigaan mulai muncul di pikiran saya.
“Baek-baek aja kan Nyek?” Pertanyaan lanjutan saya kirimkan tiga hari kemudian.
Keesokan hari, dia mengirimkan pesan WA.
“Ada tumor ganas.... tapi unknowned sumber or induknya,” Chat WA itu ditutup dengan emoticon mulut tertutup. Jantung saya rasanya berhenti membaca pesan itu.
“Ya Allah... follow up-nye gimenong?” tanya saya.
“Chemo plus Immunotheraphy,” jawabnya singkat.
*****
Menara PNM Kuningan, Februari 2018—Mei 2026.
Arief Mulyadi termasuk deretan orang yang berkeringat membesarkan PNM. Dia sudah bergabung sejak awal BUMN itu berdiri pada Juni 1999 dengan memulai karier sebagai account officer (AO). Dia dipercaya menjadi orang nomor satu di perusahaan pelat merah itu sejak Februari 2018 dan berakhir pada Mei 2026.
Lewat tangan dingin ARM, kinerja BUMN itu moncer terutama dengan program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar). Sampai dengan Mei 2026, nasabah Mekaar yang semuanya perempuan dari kalangan prasejahtera berjumlah 15,2 juta orang. Padahal ketika dia baru menjabat dirut, nasabah PNM baru sekitar 400 ribuan.
Nasabah Mekaar PNM pada Mei 2026 melampaui capaian Grameen Bank, Bangladesh, yang kini punya 10,16 juta nasabah. Pendiri bank orang miskin itu, Muhammad Yunus, kemudian diganjar Hadiah Nobel Perdamaian pada 2006.
Aset BUMN pembiayaan ultramikro itu juga melesat tajam. Saat ARM mulai menjabat dirut, kekayaan PNM sekitar Rp17 triliun. Selepas pengabdiannya pada pertengahan 2026, aset itu melonjak menjadi lebih dari Rp57 triliun yang berarti tumbuh sekitar tiga kali lipat.
PNM Mekaar pun menjadi salah satu kebanggaan pemerintahan Presiden ke-7 Joko Widodo. Tidak heran kalau pada Oktober 2021 Presiden Jokowi memperkenalkan Program Mekaar kepada pemimpin negara maju di pertemuan G-20 di Roma Italia.
Kini Kantor PNM tersebar hampir di seluruh Indonesia. Hanya beberapa kabupaten saja, terutama di wilayah pemekaran, yang belum ada perwakilan BUMN itu. Jumlah AO, ujung tombak program Mekaar yang melakukan pembinaan kepada para nasabah, jumlahnya hampir 80 ribu orang.
“Kalau AO ada kartu anggotanya, gue mungkin yang megang nomor 001,” katanya berseloroh.
****
WhatsApp, Agustus-Oktober 2026.
“Res, Menyek sakit ya. Bagian lehernya kayaknya bengkak?” tanya seorang teman lewat pesan WA di awal Agustus.
Kawan itu bertemu dengan ARM saat pesta pernikahan anak seorang teman. Sebisa mungkin saya menghindar untuk menjawab secara pasti pertanyaan itu karena ARM tidak ingin banyak orang tahu dia sakit.
Selang berapa menit, pesan WA lain masuk. Menyertakan foto ARM dan beberapa teman di acara tersebut. Memang terlihat bagian lehernya besar. Namun, saat itu saya justru gembira. Berarti Menyek oke-oke saja meski sudah ada vonis kanker dari hasil biopsi pada pertengahan Juli.
Kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Pekan-pekan terakhir Agustus, dia mulai lama menjawab WA. Bahkan bisa berselang dua atau tiga hari. Saya menyimpulkan sendiri berarti ada yang tidak bagus dengan kondisi kawan itu. Dan ternyata benar, dia sempat dirawat di RS Pondok Indah.
Meski begitu, dia masih belum mau saya jenguk. “Ntar aja kalau rambut gue udah tumbuh.” Begitu salah satu pesannya setelah menjalani kemoterapi kedua.
Lantas saya ingat Riyanto yang selama ini menjaga rumah ARM di Jatibening. Dari Naya, sekretarisnya sewaktu masih dirut PNM, saya dapat nomor HP Riyanto. Lewat lelaki asal Purwokerto itulah saya memantau kondisinya.
Akhir Agustus sampai awal September Arief Mulyadi sempat dirawat di RS Dr Margono, Purwokerto. Sekitar 10 hari, karena kondisinya memburuk saat berada di kota itu. ARM memang punya rumah di Purbalingga yang berbatasan dengan Purwokerto karena dua anaknya sempat kuliah di Unsoed.
Pertengahan September saya mendapatkan foto ARM sewaktu dirawat di rumah sakit. Kondisinya sudah jauh berbeda dibandingkan fotonya pas pesta pernikahan di awal Agustus itu.
“Ya Allah....” Begitu komentar singkat istri saya melihat kondisinya. Oh ya, istri dan tiga anak saya sudah mengenal ARM dengan baik. Bahkan kakak-kakak dan adik saya juga familiar dengan nama Menyek.
Atas dasar itulah, keluarga besar saya setuju dengan usulan saya dan istri untuk meminta ARM menjadi saksi pernikahan putri sulung kami, Szalma ‘Elok’ Fatimarahma
“Insya Allah, Elok mau nikah Januari tanggal 16 tahun depan. And kita sekeluarga udah sepakat mau minta ente jadi saksi nikah. Terus denger kabar ente kurang sehat, bokin sampein ke Elok, ‘kayaknya Om Menyek gak bisa jadi saksi deh, Nak. Biar Om Menyek pulihin kondisinya dulu.’
Sepertinya Elok berharap banget antum bisa beneran jadi saksi pernikahan doi. ‘Mudah-mudahan, Om Menyek sembuh ya Bun, biar bisa jadi saksi nikahan Elok....’
Semangat terus ya Nyek. Keluarga Pisangan berharap banget ente segera pulih seperti sedia kala. Al Fatihah.”
Pesan WA panjang itu saya kirimkan. Respons dari Menyek membuat mata saya berkaca-kaca ketika membacanya.
“Insyaa Allah gw mau banget jadi saksi, n moga2 ane udeh sehat.... Bahkan bisa jadi penyemangat buat tambahan cepet sehat Ntar sambil liat aja, kondisi ane di akhir Nopember.”
Sebagai bukti keinginannya itu, dia mengirimkan fotokopi KTP yang diperlukan untuk mengurus surat terkait dengan pernikahan anak saya.
Namun, takdir berkata lain. Allah lebih dulu memanggil Arief ‘Menyek’ Mulyadi pulang tepat pukul 11.23 Selasa, 27 Oktober 2026.
Dan di status WA, saya unggah video prosesi keranda jenazahnya menuju liang lahat dengan caption: Gue ikut gotong ente, Nyek. Al Fatihah.***
Komentar