El Nino Mengancam, Pemerintah Perkuat Pompanisasi Jaga Produksi Padi

Produksi padi Indonesia mencapai 43,89 juta ton GKG hingga Agustus 2026. Mentan Amran memperkuat pompanisasi untuk mengantisipasi ancaman El Nino.

El Nino Mengancam, Pemerintah Perkuat Pompanisasi Jaga Produksi Padi
Ilustrasi. pemerintah memperkuat pompanisasi untuk mengantisipasi ancaman El Nino. (FDN/AI)

Frame Daily, JAKARTA – Produksi padi nasional mencapai 43,89 juta ton gabah kering giling (GKG) selama Januari–Agustus 2026, meski sektor pertanian menghadapi ancaman El Nino dan risiko kekeringan. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat pompanisasi dan pengelolaan air untuk menjaga produktivitas sawah serta memastikan petani tetap dapat berproduksi hingga akhir tahun.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah terus melakukan langkah mitigasi untuk menjaga pasokan air di wilayah pertanian yang menghadapi keterbatasan sumber air. Upaya tersebut dilakukan melalui pemasangan pompa dan optimalisasi sarana pengairan agar lahan pertanian tetap memperoleh pasokan air.

"Pemerintah melakukan berbagai langkah mitigasi untuk menjaga produksi tetap berjalan, terutama melalui penguatan pengelolaan air dan optimalisasi pompanisasi di wilayah yang menghadapi keterbatasan air," kata Amran saat dikonfirmasi di Jakarta, Minggu (4/10/2026), sebagaimana diberitakan ANTARA.

Amran menekankan bahwa pemerintah tidak ingin petani menghadapi tantangan produksi tanpa dukungan. Menurut dia, intervensi langsung diperlukan untuk menjaga aktivitas pertanian ketika kondisi iklim berpotensi mengganggu ketersediaan air.

“Kami turun, pasang pompa-pompa, kita tidak boleh menyerah. Kita tidak boleh membiarkan petani jalan sendiri, kita harus turun tangan,” ujar Amran.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi padi nasional masih tumbuh meskipun menghadapi tekanan iklim. Capaian tersebut menjadi indikator penting bagi upaya menjaga ketahanan pangan nasional, meski perkembangan produksi pada bulan-bulan berikutnya tetap bergantung pada kondisi pertanaman dan cuaca.

Produksi Padi Naik, Luas Panen Bertambah

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan, produksi padi Januari–Agustus 2026 mencapai 43,89 juta ton GKG atau meningkat 0,07 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Menurut Ateng, angka tersebut dihitung berdasarkan luas panen dan produktivitas padi yang telah berstatus angka tetap. Artinya, data periode Januari–Agustus telah menggunakan hasil penghitungan final untuk kedua komponen tersebut.

“Produksi padi dari Januari sampai dengan Agustus 2026 mencapai 43,89 juta ton GKG atau naik 0,07 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2025,” kata Ateng.

Kenaikan produksi tersebut sejalan dengan bertambahnya luas panen. BPS mencatat luas panen padi pada periode Januari–Agustus 2026 mencapai 8,32 juta hektare, tumbuh 0,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan produksi juga tercermin pada komoditas beras untuk konsumsi masyarakat. BPS mencatat produksi beras nasional selama delapan bulan pertama 2026 mencapai 25,29 juta ton, meningkat 0,07 persen dibandingkan Januari–Agustus 2025.

“Dengan demikian untuk produksi beras pada kondisi Januari sampai dengan Agustus tahun 2026 mencapai 25,29 juta ton atau naik sebesar 0,07 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2025,” ujar Ateng.

Meski pertumbuhannya relatif tipis, capaian tersebut menunjukkan produksi padi dan beras masih meningkat di tengah ketidakpastian cuaca. Pemerintah perlu mempertahankan kondisi ini melalui pengelolaan air, dukungan sarana produksi, dan pemantauan pertanaman secara berkelanjutan.

Pompanisasi Jadi Strategi Hadapi Ancaman El Nino

Ancaman El Nino menjadi perhatian karena berpotensi mengurangi curah hujan dan meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah sentra pertanian. Kondisi tersebut dapat memengaruhi ketersediaan air irigasi, produktivitas tanaman, hingga waktu panen.

Melalui pompanisasi, pemerintah berupaya membantu mengalirkan air ke lahan yang mengalami keterbatasan pasokan. Efektivitas langkah ini bergantung pada ketersediaan sumber air, kesiapan sarana pompa, jaringan distribusi, serta ketepatan penyaluran bantuan ke wilayah yang membutuhkan.

Kementan juga menekankan pentingnya keterlibatan pemerintah daerah dan petani dalam mengantisipasi dampak perubahan cuaca. Pengelolaan air yang tepat diperlukan agar lahan produktif tetap dapat dimanfaatkan dan potensi kehilangan hasil panen dapat ditekan.

BPS mengingatkan bahwa capaian produksi hingga Agustus tidak serta-merta menjamin realisasi produksi sepanjang sisa tahun. Data produksi September–November 2026 masih berstatus angka potensi, sedangkan data produktivitas pada periode tersebut masih berupa angka sementara.

Perubahan cuaca, serangan organisme pengganggu tanaman, banjir, kekeringan, dan pergeseran waktu panen dapat memengaruhi realisasi produksi. Karena itu, angka potensi panen perlu dibaca sebagai perkiraan yang masih dapat berubah mengikuti perkembangan kondisi di lapangan.

Sejumlah Sentra Padi Masih Berpotensi Panen

Berdasarkan hasil Kerangka Sampel Area (KSA) Agustus 2026, sejumlah wilayah sentra pertanian masih memiliki potensi panen pada September–November 2026. Wilayah tersebut mencakup Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Lampung, Aceh, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Kalimantan Selatan, dan Nusa Tenggara Timur.

Di Jawa Barat, potensi panen antara lain berada di Majalengka, Subang, Indramayu, Karawang, Cirebon, dan Bekasi. Adapun di Jawa Timur, Kabupaten Ngawi termasuk wilayah yang diperkirakan masih memiliki potensi panen.

Sejumlah daerah di Sulawesi juga masuk dalam wilayah potensial, antara lain Bone, Wajo, Sidenreng Rappang, Pinrang, Luwu, dan Banggai. Kondisi di setiap daerah tetap perlu dipantau karena realisasi panen dipengaruhi cuaca, ketersediaan air, dan perkembangan tanaman.

Potensi panen di berbagai sentra tersebut memberikan peluang bagi produksi nasional untuk tetap terjaga hingga akhir tahun. Meski begitu, realisasinya memerlukan dukungan pengairan dan mitigasi risiko yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing wilayah.

Dengan produksi padi mencapai 43,89 juta ton GKG hingga Agustus 2026, pemerintah memiliki dasar untuk melanjutkan upaya menjaga ketahanan pangan. Tantangan berikutnya adalah mempertahankan produktivitas ketika risiko El Nino meningkat, sekaligus memastikan potensi panen pada bulan-bulan terakhir tahun ini dapat terealisasi.

Penguatan pompanisasi dan pengelolaan air menjadi bagian penting dari strategi tersebut. Keberhasilannya akan ditentukan oleh kesiapan infrastruktur, ketepatan intervensi, serta kemampuan pemerintah dan petani merespons perubahan kondisi di lapangan.

Ditulis oleh Indah Susilo

Komentar