2,67 Juta Kasus Diare di Indonesia, Begini Langkah Pencegahan Agar Tak Dehidrasi

Kasus diare akut di Indonesia menembus 2,67 juta hingga Agustus 2026. Kemarau, sanitasi, dan rotavirus menjadi faktor pemicu utama.

2,67 Juta Kasus Diare di Indonesia, Begini Langkah Pencegahan Agar Tak Dehidrasi
Kasus diare akut di Indonesia menembus 2,67 juta hingga Agustus 2026. (FDN/AI)

Frame Daily, Jakarta - Kasus diare akut di Indonesia menembus 2,67 juta kasus hingga 15 Agustus 2026. Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan akumulasi tersebut tercatat di 38 provinsi hingga pekan epidemiologi ke-32.

Lonjakan kasus diare akut terjadi di sejumlah wilayah dengan kondisi lingkungan dan akses sanitasi yang berbeda. Jawa Barat tercatat sebagai provinsi dengan jumlah kasus tertinggi secara nasional berdasarkan data yang dihimpun Kementerian Kesehatan.

Kasus diare akut juga menjadi perhatian di DKI Jakarta. Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat 32.441 kasus sepanjang Januari hingga Juli 2026, dengan angka tertinggi terjadi pada Januari sebanyak 5.482 kasus.

Di Kalimantan Barat, peningkatan infeksi harian turut dipantau melalui fasilitas kesehatan tingkat pertama. Kondisi lingkungan serta keterbatasan akses terhadap sumber air dan sanitasi yang sehat disebut menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap penularan diare.

Tingginya kasus diare akut di Indonesia tidak terlepas dari sejumlah faktor lingkungan dan kesehatan masyarakat. Kemarau panjang di beberapa daerah menyebabkan sumber air warga mengering sehingga sebagian masyarakat menggunakan sumber air alternatif yang belum tentu memenuhi standar kebersihan.

Kemarau Picu Risiko Diare

Krisis air bersih menjadi salah satu persoalan yang dapat meningkatkan risiko diare akut. Penggunaan air sungai atau sumber air lain yang tidak diolah secara tepat berpotensi membawa mikroorganisme penyebab penyakit ke dalam tubuh.

Kondisi tersebut semakin berisiko apabila air untuk kebutuhan sehari-hari tidak direbus atau diolah dengan benar. Sanitasi lingkungan yang kurang memadai juga dapat memperbesar peluang kontaminasi makanan dan minuman.

Faktor lain yang mendapat perhatian adalah rotavirus pada balita. Infeksi ini dapat menyebabkan diare berair yang disertai muntah dan demam, terutama pada anak berusia di bawah lima tahun.

Penularan rotavirus berlangsung cepat melalui tangan maupun benda yang telah terkontaminasi feses. Kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun serta menjaga kebersihan makanan menjadi bagian penting untuk memutus rantai penularan.

Lima Langkah Cegah Dehidrasi

Kementerian Kesehatan memberikan panduan penanganan diare untuk mencegah kehilangan cairan tubuh secara berlebihan. Salah satu langkah utama adalah memberikan oralit setiap kali anak atau orang dewasa buang air besar.

Pada anak, pemberian zinc selama 10 hari juga menjadi bagian dari penanganan yang dianjurkan. Pemberian ASI dan makanan tetap dilanjutkan agar kebutuhan cairan serta nutrisi tubuh tetap terpenuhi.

Penggunaan antibiotik tidak dianjurkan secara sembarangan. Obat tersebut hanya digunakan berdasarkan indikasi medis dan resep dokter, termasuk pada kondisi tertentu seperti feses berdarah atau dugaan kolera.

Masyarakat juga perlu memperhatikan tanda-tanda kondisi yang memburuk. Jika penderita mengalami pelemahan atau tidak menunjukkan perbaikan dalam waktu tiga hari, pemeriksaan ke puskesmas atau rumah sakit diperlukan.

Dengan jumlah kasus diare akut yang telah mencapai 2,67 juta, penguatan perilaku hidup bersih dan sehat menjadi bagian penting dalam pencegahan. Penyediaan air bersih, sanitasi yang layak, kebersihan makanan, serta kebiasaan mencuci tangan perlu dilakukan secara konsisten, terutama di lingkungan keluarga dan sekolah.

Ditulis oleh Indah Susilo

Komentar