Trauma Pascagempa, Kapan Pengungsi Membutuhkan Bantuan Psikologis?

Pemulihan pascagempa NTT tidak hanya menyangkut rumah dan infrastruktur. Rasa takut, kecemasan, gangguan tidur hingga perubahan perilaku juga perlu diperhatikan.

Trauma Pascagempa, Kapan Pengungsi Membutuhkan Bantuan Psikologis?
Anak-anak mengikuti kegiatan trauma healing di GOR Samador, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Selasa (18/8/2026). Dukungan psikososial diberikan untuk membantu anak-anak mengekspresikan perasaan dan mengurangi kecemasan selama berada di pengungsian. (Dok. BNPB)

Frame Daily, Jakarta - Pemulihan warga terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak hanya menyangkut pembangunan kembali rumah dan infrastruktur. Kondisi psikologis para penyintas juga menjadi bagian penting dari proses pemulihan setelah bencana. Gempa besar dapat membuat seseorang kehilangan rasa aman. Getaran susulan, kerusakan rumah, kehilangan anggota keluarga, hingga ketidakpastian mengenai tempat tinggal dapat memicu tekanan psikologis.

Kondisi tersebut terlihat menjadi perhatian dalam penanganan pengungsi di NTT. Di GOR Samador, Kabupaten Sikka, misalnya, pemerintah daerah bersama pihak terkait menggelar kegiatan dukungan psikososial dan trauma healing bagi anak-anak pengungsi. Kegiatan pada 18 Agustus 2026 itu dilakukan melalui permainan edukatif, bercerita, bernyanyi, membaca, dan aktivitas kelompok. Tujuannya antara lain membantu anak mengekspresikan perasaan serta mengurangi kecemasan dan tekanan akibat situasi bencana.

WHO: Tekanan Psikologis Setelah Bencana Adalah Hal yang Umum

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa sebagian besar orang yang terdampak keadaan darurat dapat mengalami tekanan psikologis. Bentuknya beragam, mulai dari kecemasan, kesedihan, rasa putus asa, gangguan tidur, kelelahan, mudah marah hingga keluhan fisik tertentu.

WHO menekankan bahwa tekanan psikologis tersebut pada banyak orang dapat membaik seiring waktu. Namun, sebagian penyintas dapat mengalami kondisi kesehatan mental yang lebih serius dan membutuhkan penanganan lebih lanjut. WHO memperkirakan sekitar 22 persen orang yang mengalami keadaan darurat dapat mengalami gangguan mental seperti depresi, kecemasan, gangguan stres pascatrauma atau PTSD, gangguan bipolar, dan skizofrenia.

Angka tersebut merupakan estimasi global dalam konteks keadaan darurat dan bukan berarti 22 persen pengungsi gempa NTT mengalami gangguan mental. Perbedaan tersebut penting agar kondisi psikologis penyintas tidak langsung diberi label sebagai gangguan kejiwaan.

Takut Setelah Gempa Tidak Selalu Berarti Trauma Berat

Merasa takut ketika mendengar suara keras, terkejut saat merasakan getaran, sulit tidur atau memilih tidur di luar rumah setelah gempa dapat menjadi respons terhadap pengalaman yang mengancam keselamatan.

Kementerian Kesehatan menyebut penyintas bencana dapat mengalami stres pascatrauma, kecemasan dan depresi. Pada sebagian orang, gejalanya dapat berupa rasa takut berlebihan, sulit tidur, mimpi buruk, dan perasaan tidak aman yang terus muncul.

Karena itu, keluarga sebaiknya tidak langsung menganggap setiap perubahan emosi sebagai gangguan mental. Yang perlu diperhatikan adalah tingkat keparahan, perkembangan gejala, serta dampaknya terhadap kemampuan seseorang menjalani kehidupan sehari-hari.

Kesehatan Emosional Bantu Otak Menua dengan Sehat Frame Daily
Menjaga kesehatan emosional berperan penting agar otak menua dengan sehat. Ahli neurologi menjelaskan hubungan stres, tidur, dan risiko penurunan kognitif.Portal Berita modern yang menyajikan informasi terkini, akurat, dan berdampak.

Kapan Penyintas Perlu Mendapatkan Bantuan?

Bantuan profesional perlu dipertimbangkan ketika tekanan psikologis semakin berat atau mengganggu fungsi sehari-hari.

Beberapa kondisi yang patut menjadi perhatian antara lain:

  • sulit tidur secara terus-menerus;
  • kecemasan atau ketakutan yang sangat kuat;
  • mimpi buruk atau ingatan tentang kejadian yang terus mengganggu;
  • menarik diri dari lingkungan;
  • perubahan perilaku yang drastis;
  • tidak mampu menjalankan aktivitas sehari-hari;
  • kebingungan berat yang menetap;
  • muncul pikiran atau perilaku yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Dalam kondisi tersebut, penyintas sebaiknya mendapatkan penilaian dari tenaga kesehatan dan, bila diperlukan, dirujuk kepada psikolog atau psikiater. Kemenkes menegaskan bahwa penyintas dengan kondisi seperti PTSD atau depresi berat membutuhkan penanganan profesional.

Anak-Anak Bisa Menunjukkan Gejala Berbeda

Anak-anak tidak selalu mampu menjelaskan rasa takut atau kecemasannya secara verbal. Karena itu, tanda tekanan psikologis dapat muncul melalui perubahan perilaku.

Kemenkes menyebut anak yang terdampak bencana dapat menjadi lebih pendiam, terus menempel pada orang tua atau mengalami kemunduran perilaku. Orang tua perlu memperhatikan perubahan yang terjadi setelah bencana, tetapi tidak seharusnya memaksa anak untuk menceritakan pengalaman yang membuatnya takut.

Sebaliknya, anak dapat diberikan ruang untuk bermain, menggambar, membaca, berbicara atau melakukan aktivitas yang membuat mereka merasa aman. Pendekatan tersebut terlihat dalam kegiatan trauma healing di GOR Samador. Anak-anak mengikuti permainan edukatif, membaca, bercerita, bernyanyi dan aktivitas kelompok sebagai bagian dari dukungan psikososial.

WHO: Jangan Paksa Penyintas Menceritakan Traumanya

Dalam penanganan kondisi psikologis setelah bencana, WHO merekomendasikan Psychological First Aid (PFA). PFA bukan terapi psikologis atau tindakan untuk memaksa seseorang menceritakan pengalaman traumatisnya.

WHO mendefinisikan PFA sebagai bantuan yang manusiawi, suportif dan praktis kepada orang yang mengalami tekanan akibat peristiwa krisis, dengan tetap menghormati martabat, budaya dan kemampuan orang tersebut. Dengan pendekatan tersebut, orang yang membantu penyintas dapat memprioritaskan rasa aman, kebutuhan dasar, mendengarkan tanpa memaksa, serta membantu menghubungkan penyintas dengan keluarga, komunitas atau layanan yang dibutuhkan.

Dukungan Sosial Bisa Menjadi Bagian dari Pemulihan

Pemulihan psikologis tidak selalu dimulai dari ruang konsultasi. Kehadiran keluarga, teman, komunitas, relawan dan lingkungan yang aman dapat menjadi bagian penting dari proses pemulihan.

WHO menyebut dukungan kesehatan mental dan psikososial yang diberikan secara tepat waktu dapat membantu mengurangi risiko masalah kesehatan mental serta mendukung pemulihan dan ketahanan masyarakat setelah keadaan darurat. Karena itu, pengelolaan pengungsian perlu memperhatikan bukan hanya makanan, air bersih dan tempat tinggal sementara, tetapi juga ruang yang memungkinkan anak bermain, belajar dan berinteraksi secara aman.

Trauma Healing Bukan Sekadar Hiburan

Kegiatan trauma healing terkadang terlihat sederhana karena dikemas melalui permainan, membaca atau bernyanyi. Di dalam konteks dukungan psikososial, kegiatan tersebut dapat menjadi sarana untuk membantu penyintas kembali berinteraksi dengan lingkungan dan mengekspresikan emosi secara aman. Di GOR Samador, trauma healing dipadukan dengan perpustakaan keliling sehingga anak-anak tetap memiliki aktivitas belajar dan bermain selama berada di pengungsian. Pendekatan tersebut juga membantu menciptakan rutinitas yang lebih normal di tengah situasi darurat.

Pemulihan Mental Tidak Harus Dipaksakan

Setiap penyintas memiliki pengalaman yang berbeda. Ada yang dapat kembali beraktivitas dalam waktu relatif singkat, sementara lainnya membutuhkan waktu lebih panjang. Karena itu, masyarakat sekitar dan relawan perlu menghindari kalimat yang meremehkan seperti meminta penyintas “melupakan kejadian” atau “jangan takut”.

Dukungan yang lebih tepat adalah memastikan mereka merasa aman, memberikan kesempatan untuk berbicara jika mereka menginginkannya, membantu memenuhi kebutuhan dasar dan menghubungkan mereka dengan layanan profesional ketika diperlukan.

Pemerintah Perlu Menjaga Dukungan Psikososial

Kebutuhan psikologis masyarakat tidak otomatis selesai ketika fase tanggap darurat berakhir.

Pemulihan rumah, mata pencaharian dan fasilitas umum dapat berlangsung berbulan-bulan. Dalam periode tersebut, sebagian penyintas masih menghadapi ketidakpastian dan kehilangan.

Karena itu, dukungan kesehatan mental dan psikososial perlu menjadi bagian dari pemulihan jangka menengah dan panjang.

WHO sendiri menempatkan kesehatan mental sebagai bagian dari respons keadaan darurat dan mendorong integrasi dukungan psikososial ke dalam sistem penanganan bencana.

NTT: Luka yang Tidak Selalu Terlihat

Gempa NTT meninggalkan kerusakan yang dapat dilihat secara langsung: rumah rusak, fasilitas terdampak dan warga harus meninggalkan tempat tinggalnya, dan ada pula dampak yang tidak selalu terlihat. Rasa takut, kehilangan rasa aman, kecemasan, gangguan tidur dan perubahan perilaku dapat menjadi bagian dari respons seseorang setelah mengalami bencana.

Karena itu, pemulihan NTT tidak cukup hanya dengan membangun kembali bangunan yang rusak. Masyarakat juga membutuhkan ruang untuk memulihkan rasa aman. Dukungan psikososial, keterlibatan keluarga dan komunitas, serta akses kepada tenaga profesional ketika dibutuhkan menjadi bagian penting agar penyintas dapat kembali menjalani kehidupan secara bertahap. Rasa takut atau cemas setelah gempa tidak otomatis berarti seseorang mengalami gangguan mental. Namun, gejala yang berat, menetap, mengganggu aktivitas sehari-hari atau menimbulkan risiko keselamatan perlu mendapatkan perhatian tenaga kesehatan.


Sumber: BNPB, Kementerian Kesehatan RI, World Health Organization (WHO).

Catatan Redaksi:
Artikel ini merupakan informasi kesehatan berbasis sumber resmi dan bukan diagnosis medis. Respons psikologis setiap penyintas berbeda. Penyintas dengan gejala berat atau kondisi yang mengganggu fungsi sehari-hari dianjurkan mendapatkan pemeriksaan dari tenaga kesehatan atau profesional kesehatan mental.

Ditulis oleh Shidarta

Komentar