Frame Daily, Jakarta - Kawasan timur Indonesia disebut merupakan salah satu zona seismik paling aktif di dunia. Ini terjadi akibat pertemuan kompleks tiga lempeng utama (Eurasia, Pasifik, dan Indo-Australia) serta berbagai lempeng mikro.
Terbaru, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis terjadinya gempa dengan magnitudo 7,7 mengguncang beberapa wilayah provinsi Indonesia, Senin (8/6/2026).
Beberapa provinsi yang terguncang gempa antara lain Provinsi Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Kalimantan Timur. Gempa yang terjadi pada pukul 06.37 WIB itu berpusat di 5.79 Lintang Utara, 125.14 Bujur Timur, dengan kedalaman 47 Km.
Zona Seismik Paling Aktif
Kawasan timur Indonesia adalah salah satu zona seismik paling aktif di dunia akibat pertemuan kompleks tiga lempeng utama (Eurasia, Pasifik, dan Indo-Australia) serta berbagai lempeng mikro.
Kawasan ini memiliki sejarah panjang gempa dahsyat yang sering memicu tsunami dan likuifaksi.
Berdasarkan catatan, gempa bumi yang pernah terjadi di Kawasan ini yakni, gempa dan tsunami Flores pada tahun 1992, tepatnya pada 12 Desember 1992. Gempa bumi dengan magnitudo 7,8, memicu tsunami destruktif hingga setinggi 36 meter yang menewaskan lebih dari 2.100 jiwa di Flores dan sekitarnya.
Kemudian gempa dan tsunami Biak pada tahun 1996. Gempa ini mengguncang pesisir Papua pada 17 Februari 1996 dengan magnitudo 8,2, memicu tsunami dan mengakibatkan ratusan korban jiwa serta kerusakan parah.
Pada tahun 2018, gempa dan tsunami juga terjadi di Sulawesi. Gempa bumi bermagnitudo 7,4 terjadi di Palu-Donggala pada 28 September 2018. Gempa ini memicu tsunami dan fenomena likuifaksi atau pencairan tanah yang meluluhlantakkan wilayah tersebut dan menelan ribuan korban jiwa.
Kemudian pada tahun 2023, gempa bumi juga terjadi di wilayah Maluku, tepatnya pada 10 Januari 2023. Gempa bumi dengan magnitudo 7,5 mengguncang wilayah Maluku dan memicu peringatan dini tsunami.
Gempa Bumi di Pulau Sulawesi
Sementara itu, khusus untuk Pulau Sulawesi tercatat rekam jejak kegempaan yang sangat intensif karena dilewati oleh Sesar Palu-Koro yang sangat aktif, zona subduksi Laut Sulawesi, Subduksi Sangihe, serta patahan naik (thrust) di lepas pantai.
Berdasarkan data dari BMKG, wilayah ini rata-grained diguncang ribuan gempa setiap tahunnya. Sebagai catatan, sepanjang tahun 2024 tercatat 4.139 gempa.
Dari ribuan kali gempa itu, setidaknya tercatat ada sejumlah gempa yang merusak, yakni; Gempa Megathrust Sulawesi Utara pada 2 April 2026. Gempa berkekuatan 7,6 mengguncang tenggara Bitung.
BMKG mengonfirmasi gempa ini bersumber dari zona megathrust atau patahan naik berskala besar yang memicu lebih dari 135 gempa susulan serta kepanikan massal di pesisir utara Sulawesi.
Kemudian gempa Mamuju-Majene, Sulawesi Barat pada 15 Januari 2021 lalu. Gempa darat berkekuatan magnitude 6,2 akibat aktivitas Sesar Naik Mamuju atau Mamuju Thrust melanda Sulawesi Barat. Peristiwa ini meruntuhkan gedung-gedung pemerintahan, rumah sakit, dan menewaskan lebih dari 81 korban jiwa.
Pada 28 September 2018, gempa gempa, tsunami dan likuifaksi pernah terjadi di Palu, Sulawesi Tengah. Ini adalah salah satu bencana paling mematikan dalam sejarah modern Indonesia. Gempa dengan magnitude 7,4 yang dipicu oleh pergerakan Sesar Palu-Koro ini menghasilkan tsunami lokal di Teluk Palu serta fenomena likuifaksi masif di Petobo dan Balaroa yang menelan ribuan korban jiwa.
Kemudian jauh ke belakang, pada 23 Februari 1969 juga pernah terjadi gempa dan tsunami di Sulawesi Barat. Gempa bermagnitudo 7,1 mengguncang pesisir Selat Makassar. Gempa ini memicu tsunami setinggi 4 hingga 12 meter yang menyapu kawasan pantai Mamuju, menghancurkan ribuan rumah, dan menelan puluhan korban jiwa.
Pada 11 April 1967 gempa dan tsunami pernah terjadi di Polewali Mandar. Gempa bumi merusak yang menimbulkan tsunami di pesisir barat Sulawesi dan menyebabkan belasan orang meninggal dunia.
Komentar