Saham-Saham Berguguran Saat IHSG Anjlok ke 6.130, Big Caps Jadi Korban Utama

Saham-Saham Berguguran Saat IHSG Anjlok ke 6.130, Big Caps Jadi Korban Utama

Frame Daily, JAKARTA - Tekanan besar kembali menghantam pasar saham Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup ambruk 1,23 persen ke level 6.130,19 pada perdagangan Selasa, 26 Mei 2026.

Pelemahan tidak hanya terjadi pada saham lapis kecil, tetapi juga menyeret saham-saham berkapitalisasi jumbo atau big caps yang selama ini menjadi penopang indeks.

Data perdagangan menunjukkan sebanyak 447 saham melemah, hanya 241 saham menguat, dan 133 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp18,10 triliun.

Saham Big Caps Jadi Beban IHSG

Dilansir dari Bloomberg Technoz, pelemahan IHSG dipicu tekanan besar pada saham-saham berbobot tinggi di indeks.

Beberapa saham yang paling menekan IHSG antara lain:

  • ASII (Astra International)
  • DSSA (Dian Swastatika Sentosa)
  • ANTM (Aneka Tambang)
  • BBCA (Bank Central Asia)
  • BBRI (Bank Rakyat Indonesia)
  • AMMN (Amman Mineral Internasional)

Saham perbankan menjadi sorotan karena investor asing tercatat masih melakukan aksi jual bersih atau net sell mencapai Rp1,60 triliun di seluruh pasar.

BBRI Turun Dalam, BBCA Terus Dilepas Asing

Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi salah satu emiten bank besar dengan tekanan paling terasa.

Berdasarkan data perdagangan, BBRI ditutup di level 3.070 atau turun sekitar 3,15 persen pada perdagangan Selasa sore. Dalam tiga bulan terakhir, saham ini sudah terkoreksi lebih dari 22 persen.

Sementara itu, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga terus mengalami tekanan jual asing dalam beberapa pekan terakhir. BBCA bahkan masuk daftar saham yang paling banyak dilepas investor asing sepanjang pekan lalu.

Tekanan pada sektor perbankan ikut membuat indeks sektor keuangan turun 1,52 persen pada perdagangan hari itu.

Saham Tambang dan Industri Ikut Rontok

Selain perbankan, saham sektor tambang dan industri juga mengalami koreksi tajam.

Saham ANTM, MDKA, INCO hingga AMMN terkena tekanan akibat sentimen penurunan harga komoditas serta kekhawatiran pasar terhadap kebijakan royalti tambang.

Saham AMMN bahkan tercatat sudah turun sekitar 57 persen dalam tiga bulan terakhir dari posisi puncaknya.

Di level sektoral, indeks industri menjadi yang paling terpuruk dengan penurunan mencapai 3,38 persen. Disusul sektor properti minus 2,14 persen dan barang konsumsi non-primer turun 2,20 persen.

Emiten Top Loser

Beberapa saham yang masuk jajaran top loser pada perdagangan pada hari Selasa, 26 Mei 2026 yakni:

  • MSIN turun 14,98 persen
  • RISE longsor 14,95 persen
  • TALF anjlok 14,87 persen

Ketiga saham tersebut menjadi emiten dengan penurunan terdalam di Bursa Efek Indonesia pada hari itu.

Pasar Masih Dibayangi Sentimen Negatif

Pelaku pasar saat ini masih mencermati berbagai sentimen global dan domestik. Mulai dari pelemahan rupiah, ketidakpastian geopolitik, hingga aksi jual asing menjelang libur panjang.

Selain itu, pasar juga menunggu arah kebijakan ekonomi pemerintah dan langkah Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar serta arus modal asing.

Analis menilai level 6.000 menjadi area psikologis penting bagi IHSG dalam jangka pendek. Jika tekanan jual berlanjut, volatilitas pasar diperkirakan masih tinggi dalam beberapa hari ke depan.

Ditulis oleh T A

Komentar