Frame Daily, PURWOKERTO – Transaksi QRIS di Banyumas Raya mencapai Rp12,91 triliun sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Nilai tersebut berasal dari 172,01 juta transaksi, menandai semakin luasnya penggunaan pembayaran digital di tengah masyarakat.
Transaksi QRIS di Banyumas Raya tersebut tercatat di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Purwokerto. Hingga Agustus 2026, jumlah merchant QRIS telah mencapai 668.678 merchant yang tersebar di berbagai wilayah dan sektor usaha.
Perkembangan transaksi QRIS di Banyumas Raya menunjukkan perubahan pola pembayaran masyarakat. Aktivitas ekonomi yang sebelumnya banyak mengandalkan uang tunai kini semakin bergeser menuju sistem pembayaran digital.
Kepala KPwBI Purwokerto Aswin Gantina mengatakan, pertumbuhan tersebut mencerminkan semakin luasnya akseptasi pembayaran digital. Menurut dia, perkembangan ekosistem pembayaran digital di Banyumas Raya terus menunjukkan tren positif.
“Perkembangan ekosistem pembayaran digital di Banyumas Raya terus menunjukkan perkembangan positif,” kata Aswin Gantina, Selasa (29/9/2026).
Upaya Perluasan QRIS Menjangkau Berbagai Kelompok
KPwBI Purwokerto terus memperluas penggunaan QRIS melalui edukasi dan aktivasi kepada berbagai kelompok masyarakat. Program tersebut menyasar masyarakat umum, pelajar dan mahasiswa, UMKM, pedagang pasar, pondok pesantren, komunitas perempuan hingga kelompok lanjut usia.
Strategi tersebut dilakukan untuk memastikan transaksi QRIS di Banyumas Raya tidak hanya berkembang di pusat perdagangan. Penggunaan pembayaran digital juga diarahkan agar menjangkau kelompok masyarakat yang sebelumnya belum terbiasa menggunakan sistem transaksi non-tunai.
Penguatan ekosistem dilakukan melalui sejumlah program untuk meningkatkan akseptasi dan penggunaan QRIS. Salah satu program yang dikembangkan adalah Zona QRIS, yakni pemetaan kawasan berdasarkan perkembangan akseptasi dan aktivitas transaksi QRIS.
Pemetaan Zona QRIS dibagi menjadi tiga kategori, yakni Prime Zone, Growth Zone, dan Basic Zone. Data tersebut digunakan sebagai dasar untuk menentukan program pengembangan yang lebih sesuai dengan karakteristik masing-masing kawasan.
Skema tersebut juga diarahkan untuk terintegrasi dengan ekosistem pemerintah daerah dan digitalisasi layanan publik. Dengan pendekatan berbasis data, pengembangan pembayaran digital diharapkan dapat dilakukan secara lebih terarah.
Masyarakat Mulai Tinggalkan Pembayaran Tunai
Perubahan kebiasaan terlihat dari semakin dekatnya QRIS dengan aktivitas pembayaran sehari-hari. Kemudahan menjadi salah satu alasan masyarakat memilih pembayaran digital dibandingkan harus membawa uang tunai.
Solikhin, salah seorang pengguna QRIS, mengatakan pembayaran melalui sistem tersebut membuat transaksi lebih praktis. Pengguna cukup memindai kode dan menyelesaikan pembayaran melalui aplikasi perbankan atau penyedia jasa pembayaran.
“QRIS sekarang menjadi salah satu alat pembayaran yang sering saya gunakan karena lebih mudah. Tinggal scan dan pembayaran selesai, jadi tidak perlu repot membawa uang cash,” ujar Solikhin.
Menurut Solikhin, kebiasaan menggunakan pembayaran digital juga semakin kuat di kalangan anak muda. Sebagian masyarakat memilih tidak membawa uang tunai karena dinilai berisiko hilang ataupun mengalami kerusakan.
“Banyak anak muda sekarang yang sudah tidak mau memegang uang cash. Selain mudah hilang, uang juga bisa rusak. Dengan QRIS, pembayaran lebih praktis,” katanya.
Pertumbuhan transaksi QRIS di Banyumas Raya juga didukung semakin banyaknya pelaku usaha yang menyediakan fasilitas pembayaran digital. Bagi pedagang, metode tersebut dinilai memberikan kemudahan karena transaksi dapat dilakukan tanpa harus menyiapkan uang kembalian.
“Sekarang banyak tempat usaha yang meminta pembayaran menggunakan QRIS. Salah satu alasannya karena mereka tidak perlu menyiapkan uang kembalian,” ujar Solikhin.
Pertumbuhan Sejalan dengan Tren Nasional
Pertumbuhan pembayaran digital di Banyumas Raya sejalan dengan perkembangan ekonomi dan keuangan digital secara nasional. KPwBI Purwokerto mencatat, pada Agustus 2026 transaksi ekonomi keuangan digital nasional tumbuh 40,36 persen secara tahunan.
Pada periode tersebut, volume transaksi ekonomi keuangan digital nasional mencapai 6,11 miliar transaksi. Angka itu memperlihatkan semakin besarnya peran sistem pembayaran digital dalam aktivitas ekonomi masyarakat.
Pertumbuhan tersebut juga tercermin dari jumlah pengguna QRIS secara nasional. Hingga Agustus 2026, jumlah pengguna QRIS telah mencapai 69,32 juta dengan jumlah merchant sebanyak 47,11 juta.
Data tersebut menunjukkan pembayaran berbasis kode QR semakin menjadi bagian dari ekosistem ekonomi digital. Pertumbuhan pengguna dan merchant turut membuka ruang bagi pelaku usaha untuk menyediakan metode pembayaran yang lebih praktis bagi konsumen.
Bagi UMKM dan pedagang, keberadaan QRIS dapat menjadi salah satu instrumen untuk mengikuti perubahan perilaku konsumen. Transaksi digital juga memberikan alternatif pembayaran yang tidak bergantung pada ketersediaan uang pecahan untuk kebutuhan kembalian.
KPwBI Purwokerto bersama pemerintah daerah, perbankan, perguruan tinggi, pelaku usaha dan komunitas berkomitmen memperkuat ekosistem pembayaran digital di Banyumas Raya. Pengembangan tersebut diarahkan agar semakin inklusif dan mampu menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat.
Dengan capaian 172,01 juta transaksi senilai Rp12,91 triliun hingga Agustus 2026, QRIS telah menjadi bagian penting dalam aktivitas ekonomi Banyumas Raya. Pertumbuhan merchant hingga 668.678 juga menjadi indikator bahwa penggunaan pembayaran digital terus meluas di kawasan tersebut.
Komentar