Frame Daily JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul menyepakati penguatan kemitraan strategis Indonesia dan Thailand dalam pertemuan bilateral di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (3/8/2026).
Pertemuan tersebut menjadi Leaders' Consultation kedua sejak kedua negara meningkatkan hubungan menjadi Strategic Partnership pada 2025. Kunjungan Anutin juga tercatat sebagai kunjungan resmi Perdana Menteri Thailand ke Indonesia setelah jeda selama 15 tahun.

Dalam pernyataan bersama usai pertemuan, Prabowo menegaskan Indonesia dan Thailand memiliki posisi penting sebagai negara pendiri ASEAN sekaligus dua ekonomi terbesar di kawasan Asia Tenggara.
"Hubungan antara Indonesia dan Thailand sangat memengaruhi keadaan di Asia Tenggara. Karena itu, kemitraan kita harus terus berkembang dan berorientasi ke masa depan," kata Prabowo.
Baca juga: Prabowo Ungkap Kedekatan Dengan Raja Thailand
Perkuat Keamanan dan Berantas 'Online Scam'
Salah satu fokus pembahasan adalah penguatan kerja sama politik dan keamanan, terutama dalam pemberantasan kejahatan lintas negara.
Prabowo menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Thailand atas bantuan dalam memfasilitasi pemulangan hampir seribu warga negara Indonesia yang menjadi korban jaringan online scam di kawasan Asia Tenggara.
Ke depan, Indonesia dan Thailand sepakat meningkatkan pertukaran informasi intelijen, investigasi bersama, pelacakan aliran keuangan, hingga koordinasi penegakan hukum untuk membongkar jaringan kejahatan transnasional.
Kedua negara juga mendukung pengembangan Transnational Referral Mechanism (TRM) guna mempercepat identifikasi, perlindungan, dan pemulangan korban kejahatan lintas negara secara aman dan bermartabat.
Target Perdagangan 20 Miliar Dolar AS

Di sektor ekonomi, Prabowo menyampaikan optimisme target perdagangan bilateral sebesar 20 miliar dolar AS pada 2030 dapat tercapai melalui implementasi Roadmap Kemitraan Strategis Indonesia-Thailand 2026–2030.
Kedua negara juga berkomitmen memperluas investasi, membuka akses pasar, serta memperkuat kemitraan antarpelaku usaha.
Sebagai langkah konkret, Indonesia dan Thailand akan menggelar Joint Trade Commission untuk pertama kalinya sebagai forum penyelesaian hambatan perdagangan sekaligus membuka peluang investasi baru.
Kerja sama juga diperluas pada sektor ketahanan pangan melalui pengembangan teknologi pertanian, logistik, pengolahan pangan, serta penguatan rantai pasok.
Di bidang energi, kedua negara akan membentuk Indonesia-Thailand Energy Forum untuk memperkuat ketahanan energi dan mempercepat transisi menuju energi berkelanjutan.
Prabowo juga menegaskan pentingnya kolaborasi dalam ekonomi digital, termasuk pemanfaatan Local Currency Transaction (LCT) agar transaksi perdagangan dan investasi menjadi lebih efisien.
Pendidikan, Pariwisata hingga Industri Halal
Pertemuan bilateral turut menghasilkan sejumlah kesepakatan baru. Indonesia dan Thailand menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) di bidang pendidikan sebagai upaya memperkuat pengembangan sumber daya manusia kedua negara.
Selain itu, sektor swasta juga menandatangani nota kesepahaman antara Tourism Authority of Thailand dan TransNusa untuk memperkuat konektivitas dan sektor pariwisata. Kesepakatan lain dilakukan antara Bio-Axel dan Pro-Konsilium terkait proyek pengolahan sampah organik.
Prabowo juga menyambut pembukaan rute penerbangan langsung Jakarta–Bangkok dan Denpasar–Phuket yang diyakini akan meningkatkan mobilitas masyarakat, perdagangan, dan sektor pariwisata.
Di sektor industri halal, Indonesia dan Thailand sepakat membangun rantai nilai halal regional agar mampu meningkatkan daya saing di pasar global.
Bahas Myanmar dan Timur Tengah
Selain isu bilateral, kedua pemimpin bertukar pandangan mengenai berbagai perkembangan kawasan dan global.
Prabowo menegaskan Indonesia dan Thailand memiliki komitmen menjaga persatuan serta sentralitas ASEAN sebagai fondasi stabilitas kawasan.
Terkait Myanmar, kedua negara mendukung implementasi Five-Point Consensus melalui dialog yang inklusif, penghentian kekerasan, dan peningkatan akses bantuan kemanusiaan.
Kedua pemimpin juga membahas perkembangan di Timur Tengah dan menegaskan pentingnya penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi serta penghormatan terhadap hukum internasional.
Prabowo mengakhiri pernyataannya dengan menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kerajaan Thailand atas rencana pemberian tanda kehormatan kepadanya.
"Saya menganggap penghargaan ini sebagai cerminan kepercayaan, persahabatan, saling menghormati, dan eratnya hubungan antara Indonesia dan Thailand," ujar Prabowo.
Pertemuan bilateral tersebut menegaskan komitmen Jakarta dan Bangkok untuk memperkuat kerja sama strategis di tengah dinamika geopolitik dan ekonomi global.
Komentar