Frame Daily, Amerika Serikat – Gejolak di tubuh FIFA kembali mencuat setelah penasihat senior FIFA, Carlos Cordeiro, mengundurkan diri dari jabatannya sebagai perwakilan badan sepak bola dunia di Satuan Tugas Gedung Putih untuk Piala Dunia.
Keputusan tersebut diumumkan pada Jumat (31/7/2026) waktu setempat. Cordeiro menyatakan pengunduran dirinya merupakan bentuk penolakan terhadap rencana FIFA menjual sebagian kepemilikan aset komersial Piala Dunia kepada investor ekuitas swasta.
Dalam pernyataan resminya, Cordeiro menegaskan dirinya tidak terlibat dalam penyusunan proposal tersebut.
"Saya tidak bisa berdiam diri sementara FIFA mempertimbangkan untuk menjual saham di Piala Dunia," kata Cordeiro.
Ia juga mengajak pejabat senior FIFA lainnya untuk menyampaikan sikap terhadap proposal yang dinilai dapat mengubah masa depan kompetisi sepak bola paling bergengsi di dunia.
Menilai Kesepakatan Merugikan Sepak Bola

Cordeiro bukan sosok baru di lingkungan FIFA. Mantan Presiden Federasi Sepak Bola Amerika Serikat (US Soccer) itu juga memiliki pengalaman panjang di sektor keuangan sebagai mantan bankir Goldman Sachs.
Menurutnya, proposal pembentukan anak perusahaan komersial FIFA dengan valuasi sekitar US$20 miliar merupakan langkah yang tidak menguntungkan bagi sepak bola.
"Biar saya perjelas. Saya tidak terlibat dalam proposal ini, dan saya menentangnya dengan tegas," ujarnya.
Ia menyebut pengalamannya lebih dari tiga dekade di industri perbankan membuatnya memahami nilai sebuah aset dan dampak jangka panjang apabila sebagian kepemilikannya dialihkan kepada investor.
"Sepak bola telah menjadi bagian penting dalam hidup saya. Setelah lebih dari 35 tahun di perbankan, saya memahami nilai aset ini dan konsekuensi dari memberikan sebagian darinya. Proposal ini harus ditolak," katanya.
FIFA Siapkan Anak Perusahaan Komersial
Presiden FIFA Gianni Infantino diketahui mengusulkan pemisahan seluruh bisnis komersial FIFA ke dalam sebuah anak perusahaan baru.
Aset yang akan dikelola meliputi hak komersial Piala Dunia pria, Piala Dunia wanita, hingga Piala Dunia Antarklub.
Dalam skema tersebut, sekitar 20 persen saham anak perusahaan akan dimiliki investor swasta dengan nilai transaksi diperkirakan mencapai US$20 miliar.
FIFA meyakini model tersebut dapat menghadirkan sumber pendanaan baru untuk mendukung pengembangan sepak bola global.
Di sisi lain, usulan tersebut memicu perdebatan karena dinilai membuka ruang komersialisasi berlebihan terhadap aset paling bernilai milik FIFA.
UEFA Ancam Boikot Kompetisi FIFA
Pengunduran diri Cordeiro terjadi sehari setelah muncul laporan mengenai sikap tegas UEFA terhadap proposal tersebut.
Sejumlah media internasional melaporkan konfederasi sepak bola Eropa tengah mempertimbangkan langkah boikot terhadap seluruh kompetisi FIFA apabila rencana penjualan saham bisnis komersial tetap dijalankan.
Dalam pernyataan yang beredar, UEFA menegaskan Piala Dunia tidak seharusnya diperlakukan sebagai instrumen investasi.
"Piala Dunia tidak bisa diperlakukan sebagai produk investasi. Ini adalah salah satu warisan olahraga terbesar sepak bola," demikian isi pernyataan UEFA.
Jika ancaman itu benar-benar diwujudkan, dampaknya berpotensi sangat besar mengingat seluruh 55 asosiasi anggota UEFA menjadi kekuatan utama dalam kompetisi sepak bola dunia.
Tekanan terhadap Gianni Infantino
Situasi ini menambah tekanan terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino yang dalam beberapa tahun terakhir dikenal aktif menjalin komunikasi dengan pemerintah Amerika Serikat menjelang penyelenggaraan Piala Dunia 2026.
Carlos Cordeiro sendiri beberapa kali mendampingi Infantino dalam kunjungan resmi ke Gedung Putih untuk bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai bagian dari persiapan turnamen.
Kini, pengunduran dirinya menjadi sinyal adanya perbedaan pandangan di kalangan petinggi FIFA mengenai arah pengelolaan aset komersial organisasi.
Perdebatan mengenai masuknya investor swasta diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa pekan ke depan. Sejumlah federasi anggota menunggu penjelasan resmi FIFA terkait skema investasi tersebut serta dampaknya terhadap tata kelola sepak bola internasional.
Perkembangan ini menjadi perhatian karena keputusan yang diambil FIFA berpotensi memengaruhi masa depan penyelenggaraan Piala Dunia sebagai kompetisi sepak bola paling prestisius di dunia.
Komentar