Frame Daily,JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih menjadi perhatian pelaku pasar setelah mengalami tekanan sepanjang Mei 2026. Mata uang Garuda tercatat bergerak di kisaran level Rp17.800 per dolar AS, mendekati posisi terlemah sepanjang sejarah.
Pergerakan kurs tersebut terjadi di tengah kuatnya dolar AS di pasar global, tingginya ketidakpastian geopolitik, serta keluarnya sebagian dana asing dari pasar negara berkembang.
Data pasar menunjukkan rupiah sempat menyentuh level Rp17.857 per dolar AS pada perdagangan 28 Mei 2026. Posisi tersebut lebih lemah dibandingkan penutupan hari sebelumnya di kisaran Rp17.801 per dolar AS.
Apa yang Menekan Rupiah?
Pelemahan rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor domestik. Bank Indonesia menyebut tekanan berasal dari kombinasi faktor global, termasuk kebijakan suku bunga tinggi bank sentral Amerika Serikat (The Fed), ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta perpindahan dana investor menuju aset yang dianggap lebih aman.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyatakan bank sentral akan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah.
Dilansir dari Reuters, Bank Indonesia menegaskan memiliki cadangan devisa yang cukup untuk melakukan intervensi secara berkelanjutan guna meredam gejolak nilai tukar.
Dampak ke Masyarakat dan Dunia Usaha
Melemahnya rupiah membuat biaya impor menjadi lebih mahal. Kondisi ini dapat memengaruhi harga sejumlah barang yang masih bergantung pada bahan baku atau komponen impor, mulai dari elektronik hingga sektor industri manufaktur.
Di sisi lain, eksportir berpotensi memperoleh keuntungan karena produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional saat dikonversi ke dolar AS.
Pelaku usaha juga mencermati pergerakan kurs karena berpengaruh terhadap biaya produksi, pembayaran utang luar negeri, serta strategi investasi perusahaan.
Investor Pantau Rupiah dan IHSG
Pergerakan rupiah saat ini menjadi salah satu indikator utama yang diperhatikan investor di pasar saham. Pelemahan nilai tukar sering kali memengaruhi sentimen pasar dan berpotensi meningkatkan volatilitas perdagangan.
Sebelumnya, sejumlah analis menilai tekanan terhadap rupiah juga dipicu oleh tingginya permintaan dolar AS untuk kebutuhan pembayaran utang luar negeri perusahaan pada periode April hingga Mei 2026.
Selain itu, ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed masih menjadi faktor yang menentukan arah pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Prospek Rupiah
Pelaku pasar saat ini menunggu sejumlah data ekonomi global dan langkah lanjutan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Meski rupiah masih berada dalam tekanan, pasar berharap kombinasi intervensi Bank Indonesia, stabilitas ekonomi domestik, dan masuknya kembali aliran modal asing dapat membantu menahan pelemahan lebih lanjut dalam beberapa pekan mendatang.
Komentar