Frame Daily, Jakarta – Kementerian Agama (Kemenag) merilis 90 buku digital Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Bahasa Arab yang dapat diunduh secara gratis oleh guru maupun siswa madrasah. Buku-buku tersebut mencakup jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), hingga Madrasah Aliyah Negeri Program Keagamaan (MAN PK) sebagai bagian dari penguatan literasi dan implementasi kurikulum di lingkungan madrasah.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Amien Suyitno, mengatakan seluruh buku telah tersedia dalam format digital dan dapat diakses melalui laman resmi Kementerian Agama.
“Kita sudah siapkan 90 buku mata pelajaran PAI dan Bahasa Arab untuk siswa madrasah. Semua bisa diunduh melalui website Kementerian Agama secara gratis,” ujar Amien Suyitno di Jakarta, Selasa (4/8/2026).
Menurut Amien, penyediaan buku digital tersebut bertujuan mempermudah akses guru dan siswa terhadap bahan ajar sekaligus mendukung penguatan budaya literasi di madrasah.
“Ini semua kita siapkan untuk memudahkan siswa dan guru madrasah, sekaligus menjadi langkah kami untuk ikut berkontribusi dalam penguatan literasi,” katanya.
Terdiri dari 90 Buku untuk MI hingga MAN Program Keagamaan
Sebanyak 90 buku yang diterbitkan Kemenag terdiri atas 58 Buku Teks Utama (BTU) mata pelajaran PAI dan Bahasa Arab untuk jenjang MI, MTs, dan MA, serta 32 buku mata pelajaran PAI dan Bahasa Arab khusus bagi siswa Madrasah Aliyah Negeri Program Keagamaan (MAN PK).

Buku-buku tersebut mencakup mata pelajaran:
- Al-Qur’an Hadis
- Akidah Akhlak
- Fikih
- Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)
- Bahasa Arab
Sementara untuk MAN Program Keagamaan tersedia materi yang lebih spesifik, seperti Tafsir, Hadis, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadis, Ushul Fikih, Ilmu Kalam, Akhlak Tasawuf, hingga Bahasa Arab tingkat lanjut.
Disusun Sesuai Standar Nasional
Amien menjelaskan penyusunan buku dilakukan melalui proses yang panjang, mulai dari seleksi penulis, telaah oleh reviewer, evaluasi penilai, hingga pengawasan oleh Pusat Penilaian Buku Agama, Lektur, dan Literasi Keagamaan (PBAL2K) Kementerian Agama.
Menurutnya, penerbitan Buku Teks Utama juga merupakan amanat Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan, yang menugaskan pemerintah menyediakan bahan ajar bermutu bagi peserta didik.
“Buku-buku ini ditulis dengan tahapan dan penjenjangan yang terorganisir. Penjaringan penulis dilakukan secara ketat, kemudian ditelaah oleh reviewer, dievaluasi oleh penilai, dan diawasi supervisor dengan pelibatan penuh PBAL2K,” jelasnya.

Mengusung Kurikulum Berbasis Cinta
Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Nyayu Khodijah mengatakan buku terbaru tersebut telah disesuaikan dengan Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 1503 Tahun 2025 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum pada RA, MI, MTs, MA, dan MAK.
Ia menjelaskan materi pembelajaran disusun dengan pendekatan yang berbeda pada setiap jenjang pendidikan. Untuk siswa MI dan MTs, materi dibuat lebih interaktif agar mudah dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sementara pada tingkat MA, materi disusun lebih mendalam untuk menjawab tantangan perkembangan zaman.
Nyayu menambahkan, seluruh Buku Teks Utama juga mengusung konsep Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang menanamkan lima nilai utama, yakni cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, cinta ilmu, cinta lingkungan, cinta diri dan sesama manusia, serta cinta tanah air.
“Murid madrasah tidak saja dibekali dengan pengetahuan tetapi juga dilatih menjadi insan yang memiliki cara berpikir, bersikap, dan bertindak moderat,” ujarnya.
Menurut Nyayu, sikap moderat tersebut mencakup nilai toleransi, saling menghormati, menghindari klaim kebenaran secara eksklusif, menolak kekerasan, serta menghargai budaya lokal.
Buku Digital Bisa Diakses Gratis
Kemenag menyatakan seluruh buku tersedia dalam format digital agar lebih efisien serta memudahkan akses bagi guru maupun siswa di berbagai daerah.
Selain menjadi bahan ajar utama di madrasah, buku digital tersebut juga dirancang sebagai dokumen yang bersifat dinamis sehingga dapat terus diperbarui sesuai perkembangan kebutuhan pendidikan.
Kementerian Agama juga membuka ruang bagi masyarakat untuk memberikan masukan sebagai bagian dari penyempurnaan isi buku pada masa mendatang.
Komentar