Frame Daily, jakarta - Kondisi tenda jemaah haji Malaysia yang bersih dan rapi usai puncak pelaksanaan ibadah haji di Mina menjadi perhatian publik dunia. Potret yang beredar di media sosial memperlihatkan area penginapan jemaah Malaysia ditinggalkan dalam keadaan tertata dengan minim sampah, sehingga menuai banyak apresiasi dari warganet.
Pujian tersebut turut disampaikan Menteri di Jabatan Perdana Menteri (Hal Ehwal Agama) Malaysia, Dr. Zulkifli Hasan. Melalui akun Facebook resminya, ia menilai kebersihan yang dijaga para jemaah mencerminkan disiplin, adab, serta rasa tanggung jawab terhadap fasilitas bersama selama berada di Tanah Suci.
Menurut Zulkifli, budaya menjaga kebersihan yang ditunjukkan jemaah Malaysia bukan sekadar persoalan kerapian lingkungan, melainkan bagian dari nilai ibadah yang dijalankan selama musim haji.
"Jemaah haji Malaysia sering dipuji karena disiplin dan budaya menjaga kebersihan di Tanah Suci, terutama di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Walau sesak, panas, dan penat, khemah tetap dijaga bersih dan teratur. Karena ibadah bukan sekadar ritual, tapi juga tentang adab dan amanah," tulis Zulkifli dalam unggahannya.
Kondisi tenda jemaah haji Malaysia yang bersih dan rapi di Mina menuai pujian. Budaya disiplin dan program Haji Lestari dinilai berperan besar.
Budaya Kebersihan Dibangun Bertahun-tahun
Zulkifli menjelaskan bahwa tindakan sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya dan menjaga area pejalan kaki tetap bersih memiliki makna yang lebih luas. Menurut dia, perilaku tersebut mencerminkan kepedulian terhadap sesama jemaah sekaligus penghormatan terhadap tempat-tempat suci.
Reputasi positif jemaah Malaysia dalam menjaga kebersihan bukanlah hal yang muncul secara tiba-tiba. Lembaga Tabung Haji Malaysia selama bertahun-tahun menjalankan berbagai program edukasi dan kampanye kebersihan kepada jemaah yang akan berangkat ke Tanah Suci.
Salah satu program yang dijalankan adalah Kempen Kebersihan Masyair yang bertujuan membangun kesadaran jemaah untuk menjaga lingkungan selama berada di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Program tersebut menjadi bagian dari pendekatan yang lebih luas dalam penyelenggaraan haji Malaysia, yang tidak hanya berfokus pada pelaksanaan ibadah, tetapi juga pembentukan budaya disiplin dan kepedulian terhadap lingkungan.
Dukung Program Haji Berkelanjutan
Pada musim haji 1447 Hijriah atau 2026 Masehi, otoritas Malaysia juga meluncurkan Inisiatif Haji Lestari atau Green Hajj. Program tersebut dirancang untuk mendukung penyelenggaraan ibadah haji yang lebih ramah lingkungan.
Salah satu langkah yang diperkenalkan melalui program itu adalah mendaur ulang kain ihram bekas pakai jemaah pria menjadi berbagai produk yang dapat dimanfaatkan kembali. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi limbah yang dihasilkan selama musim haji.
Komitmen terhadap kebersihan dan pengelolaan haji yang terstruktur menjadi salah satu faktor yang mendukung keberhasilan Malaysia mempertahankan penghargaan Labaytum Diamond Award 2026 dari Pemerintah Arab Saudi.
Penghargaan tersebut diberikan kepada negara yang dinilai memiliki kinerja terbaik dalam penyelenggaraan misi haji, termasuk aspek pelayanan, pengelolaan jemaah, serta kepatuhan terhadap standar yang ditetapkan otoritas Arab Saudi.
Kondisi tenda jemaah Malaysia yang bersih di Mina menjadi salah satu contoh nyata hasil dari pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan. Praktik tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi jemaah dari berbagai negara dalam menjaga kebersihan dan kenyamanan lingkungan selama menjalankan ibadah haji di Tanah Suci.
Komentar