Inflasi Daerah Berbeda Jauh, Ini Wilayah dengan Harga Tertinggi

Inflasi September 2026 berbeda antarwilayah. Sulawesi Utara mencatat inflasi tertinggi 7,59 persen, sedangkan Sumatera Selatan 2,55 persen.

Inflasi Daerah Berbeda Jauh, Ini Wilayah dengan Harga Tertinggi
perbedaan tingkat inflasi antarwilayah di Indonesia yang dipengaruhi kondisi pasokan, distribusi, dan perubahan harga komoditas pada September 2026. (Ilustrasi/AI/framedaily.id)

Frame Daily, Jakarta - Inflasi Indonesia pada September 2026 tercatat 3,28 persen secara tahunan. Di balik angka nasional tersebut, tekanan harga di setiap daerah menunjukkan perbedaan yang cukup lebar, dengan Sulawesi Utara mencatat inflasi tertinggi dan Sumatera Selatan menjadi yang terendah di tingkat provinsi berdasarkan dari laporan data BPS.

BPS mencatat inflasi tahunan Sulawesi Utara mencapai 7,59 persen, sedangkan Sumatera Selatan berada di level 2,55 persen. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat di setiap daerah menghadapi dinamika harga yang tidak sepenuhnya sama.

Sulawesi Utara Catat Inflasi Tertinggi

Inflasi Sulawesi Utara sebesar 7,59 persen menjadi angka tertinggi di tingkat provinsi pada September. Angka tersebut jauh di atas inflasi nasional sebesar 3,28 persen.

Sementara itu, Sumatera Selatan mencatat inflasi 2,55 persen. BPS juga mencatat seluruh provinsi mengalami inflasi tahunan pada September 2026.

Perbedaan tersebut tidak serta-merta menunjukkan kondisi ekonomi satu daerah lebih baik atau lebih buruk. Inflasi merupakan indikator perubahan harga yang dipengaruhi struktur konsumsi, pasokan, distribusi, serta kondisi komoditas di wilayah masing-masing.

Karena itu, angka nasional perlu dilengkapi dengan data regional agar perubahan biaya hidup dapat dipahami secara lebih utuh.

Minahasa Utara Mencatat 9,05 Persen

Perbedaan bahkan lebih besar jika dilihat pada tingkat kabupaten dan kota. BPS mencatat Kabupaten Minahasa Utara mengalami inflasi tahunan tertinggi sebesar 9,05 persen pada September 2026.

Di sisi lain, Kabupaten Timor Tengah Selatan mencatat inflasi terendah sebesar 1,04 persen.

Rentang tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga dapat sangat berbeda pada wilayah yang berbeda. Faktor geografis, produksi pangan, jalur distribusi, serta struktur ekonomi lokal dapat memengaruhi pergerakan harga.

Kondisi tersebut juga membuat kebijakan pengendalian inflasi perlu mempertimbangkan karakteristik masing-masing daerah. Pendekatan yang sama belum tentu memberikan hasil yang sama pada seluruh wilayah.

Pangan Menjadi Salah Satu Faktor

Secara nasional, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu sumber utama inflasi September. Kelompok tersebut mencatat inflasi 4,37 persen dan memberikan andil 1,28 persen terhadap inflasi tahunan.

BPS menyebut ikan segar, daging ayam ras, cabai rawit, beras, minyak goreng, sigaret kretek mesin, dan daging sapi termasuk komoditas yang mendorong kenaikan pada kelompok tersebut.

Sementara itu, Bank Indonesia mencatat tekanan volatile food meningkat menjadi 5,03 persen secara tahunan. Gangguan cuaca dan kenaikan biaya input produksi disebut ikut memengaruhi harga sejumlah komoditas pangan.

Faktor tersebut penting bagi daerah yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap pasokan dari wilayah lain. Gangguan produksi atau distribusi dapat membuat perubahan harga lebih cepat terasa di tingkat konsumen.

Pengendalian Harga Tidak Bisa Seragam

Perbedaan inflasi antardaerah memperlihatkan pentingnya koordinasi pemerintah pusat dan daerah. Bank Indonesia menyebut TPIP dan TPID menjadi bagian dari sinergi pengendalian inflasi.

Kebijakan tersebut diperlukan untuk memastikan pasokan komoditas tetap tersedia, distribusi berjalan, dan tekanan harga dapat ditangani sesuai karakteristik wilayah.

Pada akhirnya, inflasi nasional sebesar 3,28 persen memberikan gambaran umum kondisi harga. Data regional memberikan lapisan informasi tambahan mengenai bagaimana perubahan harga tersebut berlangsung di tingkat masyarakat.

Perbedaan dari 1,04 persen hingga 9,05 persen pada tingkat kabupaten/kota menunjukkan bahwa kondisi harga di Indonesia tidak bisa dilihat hanya dari satu angka nasional.

Ditulis oleh Shidarta

Komentar