Frame Daily, Jakarta - Harga pangan menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan setelah inflasi Indonesia pada September 2026 mencapai 3,28 persen secara tahunan. Badan Pusat Statistik mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 4,37 persen dan memberikan andil 1,28 persen terhadap inflasi tahunan.
Secara bulanan, inflasi nasional pada September tercatat 0,30 persen. Sementara itu, inflasi komponen volatile food mencapai 1,46 persen secara bulanan dan 5,03 persen secara tahunan, menurut Bank Indonesia.
Cabai hingga Beras Beri Tekanan
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu pendorong utama inflasi September.
“Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahun ini utamanya didorong oleh tiga kelompok,” kata Ateng Hartono dalam Rilis BPS di Jakarta, Kamis (1/10/2026).
BPS mencatat sejumlah komoditas memberikan kontribusi terhadap kenaikan harga kelompok tersebut, antara lain ikan segar, daging ayam ras, cabai rawit, beras, minyak goreng, sigaret kretek mesin, dan daging sapi.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan inflasi tidak hanya berasal dari perubahan harga barang tertentu, tetapi juga berkaitan dengan kebutuhan konsumsi sehari-hari. Ketika komoditas pangan mengalami kenaikan, dampaknya dapat lebih cepat dirasakan rumah tangga karena frekuensi pembeliannya relatif tinggi.
Produksi dan Cuaca Ikut Mempengaruhi
Bank Indonesia mencatat inflasi volatile food September meningkat dibandingkan Agustus. Pada Agustus, kelompok tersebut mengalami inflasi 0,88 persen secara bulanan, lalu meningkat menjadi 1,46 persen pada September.
Menurut BI, kenaikan tersebut terutama dipengaruhi cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, beras, dan telur ayam ras. Penurunan produksi di sejumlah daerah sentra akibat gangguan cuaca serta kenaikan biaya input produksi menjadi faktor yang ikut memengaruhi harga.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa stabilitas harga pangan sangat bergantung pada keseimbangan antara pasokan dan permintaan. Gangguan produksi dapat mengurangi ketersediaan komoditas ketika kebutuhan masyarakat tetap berjalan.
Karena itu, pengendalian inflasi pangan tidak cukup dilakukan ketika harga sudah meningkat. Ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, produksi di daerah sentra, dan antisipasi gangguan cuaca menjadi bagian penting dari upaya menjaga harga.
Inflasi Pangan Lebih Tinggi dari Inflasi Nasional
Perbedaan antara inflasi nasional dan inflasi pangan menjadi indikator yang menarik. Inflasi nasional berada di level 3,28 persen secara tahunan, sedangkan volatile food mencapai 5,03 persen.
Artinya, tekanan harga pada kelompok pangan lebih tinggi daripada kenaikan harga konsumen secara keseluruhan. Meski demikian, angka tersebut tidak berarti seluruh bahan pangan mengalami kenaikan dengan tingkat yang sama.
Struktur konsumsi setiap rumah tangga juga berbeda. Keluarga yang mengalokasikan sebagian besar pengeluarannya untuk kebutuhan makanan dapat merasakan perubahan harga lebih kuat dibandingkan rumah tangga dengan pola konsumsi berbeda.
Karena itu, angka inflasi nasional perlu dibaca bersama komponen pembentuknya. Data tersebut memberikan gambaran lebih lengkap mengenai sumber tekanan harga yang sedang terjadi.
Pemerintah dan BI Perkuat Pengendalian
Bank Indonesia menyatakan pengendalian inflasi dilakukan melalui sinergi dengan pemerintah pusat dan daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah.
BI menyebut penguatan ketahanan pangan serta Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera menjadi bagian dari langkah menjaga stabilitas harga. Bank Indonesia juga mengantisipasi potensi gangguan cuaca ekstrem terhadap harga bahan pangan.
Bagi masyarakat, perkembangan harga pangan menjadi indikator yang penting dipantau menjelang akhir 2026. Kenaikan pada komoditas yang menjadi kebutuhan rutin dapat memengaruhi pengeluaran rumah tangga meski inflasi nasional masih berada dalam sasaran.
Dengan inflasi volatile food sebesar 5,03 persen secara tahunan, pengendalian pasokan pangan menjadi salah satu kunci untuk menjaga agar tekanan harga tidak meluas ke kelompok pengeluaran lainnya.
Komentar