Eco-Anxiety Ancam Kesehatan Mental Anak Muda

Eco-anxiety semakin banyak dialami anak muda akibat krisis iklim. Kondisi ini memengaruhi kesehatan mental dan membutuhkan dukungan serta aksi nyata.

Eco-Anxiety Ancam Kesehatan Mental Anak Muda
Ilustrasi eco-anxiety, kondisi psikologis berupa kecemasan berlebih yang dipicu oleh krisis iklim dan kerusakan lingkungan. (Frame Daily)

Frame Daily, jakarta - Meningkatnya dampak perubahan iklim tidak hanya memengaruhi lingkungan, tetapi juga kesehatan mental, terutama di kalangan anak muda. Fenomena yang dikenal sebagai eco-anxiety atau kecemasan terhadap ancaman krisis iklim kini menjadi perhatian para peneliti, organisasi kesehatan, hingga lembaga internasional karena dinilai semakin banyak dirasakan generasi muda.

Eco-anxiety bukan merupakan gangguan mental tersendiri, melainkan respons emosional berupa rasa cemas, takut, sedih, hingga putus asa akibat perubahan iklim dan ketidakpastian masa depan. Perasaan tersebut dapat muncul setelah seseorang menyaksikan bencana alam, gelombang panas, banjir, kebakaran hutan, atau terus-menerus menerima informasi mengenai kerusakan lingkungan.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak muda menjadi kelompok yang paling rentan mengalami kondisi tersebut. Mereka dinilai memiliki kesadaran tinggi terhadap isu lingkungan, namun pada saat yang sama merasa memiliki kendali yang terbatas dalam menghadapi ancaman perubahan iklim yang terus berkembang.

Apa Itu Eco-Anxiety?

Eco-anxiety merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan tekanan psikologis akibat kekhawatiran terhadap perubahan iklim dan kerusakan lingkungan. Organisasi Dana Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) menjelaskan bahwa kecemasan tersebut merupakan respons yang dapat dipahami ketika seseorang menyadari ancaman nyata terhadap bumi dan masa depan generasi berikutnya.

Meski demikian, eco-anxiety berbeda dengan gangguan kecemasan klinis. Kondisi ini menjadi perhatian apabila rasa cemas mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti sulit tidur, kehilangan konsentrasi, menurunnya motivasi belajar atau bekerja, hingga muncul perasaan putus asa terhadap masa depan.

Survei global yang dikutip UNICEF terhadap 10.000 responden berusia 16–25 tahun di 10 negara menunjukkan hampir 60 persen responden merasa sangat atau sangat khawatir terhadap persoalan lingkungan. Sebanyak 45 persen bahkan mengaku kecemasan tersebut telah memengaruhi kehidupan sehari-hari, termasuk pola tidur, makan, belajar, dan kemampuan berkonsentrasi.

Anak Muda Indonesia Tidak Luput dari Risiko

Fenomena serupa juga ditemukan di Indonesia. Penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Adolescence and Youth melibatkan 1.108 responden berusia 10–24 tahun dari berbagai wilayah Indonesia. Studi tersebut menemukan adanya hubungan yang kuat antara tingkat eco-anxiety dengan kecemasan umum (general anxiety).

Penelitian itu juga mengidentifikasi sejumlah faktor yang berkaitan dengan tingginya tingkat eco-anxiety, antara lain usia remaja, perempuan, riwayat gangguan mental, status sebagai pelajar, kondisi ekonomi keluarga yang lebih rendah, serta lokasi tempat tinggal. Para peneliti menilai temuan tersebut menunjukkan perlunya perhatian terhadap kesehatan mental generasi muda di tengah meningkatnya dampak perubahan iklim.

Indonesia sendiri termasuk negara yang menghadapi berbagai risiko akibat perubahan iklim, mulai dari banjir, kekeringan, kenaikan suhu, hingga pencemaran udara. Kondisi tersebut membuat anak-anak dan remaja menjadi kelompok yang semakin rentan mengalami tekanan psikologis terkait lingkungan.

Krisis Iklim Memengaruhi Masa Depan Generasi Muda

UNICEF menegaskan bahwa krisis iklim bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut hak anak. Dampaknya dapat dirasakan pada sektor kesehatan, pendidikan, keamanan, hingga kesejahteraan sosial akibat meningkatnya kejadian cuaca ekstrem dan bencana alam.

Di Indonesia, lebih dari 50 ribu sekolah dilaporkan terdampak bencana terkait iklim sepanjang 2009–2018. Selain mengganggu proses belajar, bencana juga meningkatkan risiko trauma psikologis pada anak-anak dan remaja.

Kondisi tersebut membuat sebagian anak muda merasa masa depan mereka menjadi tidak pasti. Kekhawatiran terhadap ketersediaan pangan, kualitas udara, akses air bersih, hingga peluang hidup yang layak menjadi bagian dari sumber kecemasan yang terus berkembang.

Para ahli juga menilai paparan informasi mengenai perubahan iklim melalui media sosial dapat memperkuat rasa cemas apabila tidak diimbangi dengan informasi yang akurat dan solusi yang membangun. Karena itu, literasi mengenai perubahan iklim dinilai penting agar masyarakat mampu memahami persoalan secara proporsional tanpa terjebak pada rasa takut yang berlebihan.

Dukungan dan Aksi Nyata Menjadi Kunci

Pakar kesehatan mental menilai eco-anxiety tidak selalu berdampak negatif. Dalam kadar tertentu, rasa cemas dapat menjadi dorongan untuk melakukan tindakan positif, seperti mengurangi sampah, menghemat energi, mengikuti kegiatan pelestarian lingkungan, atau terlibat dalam komunitas peduli iklim.

UNICEF mendorong orang tua, sekolah, pemerintah, dan masyarakat untuk memberikan ruang bagi anak muda dalam menyampaikan kekhawatiran mereka sekaligus melibatkan mereka dalam berbagai aksi lingkungan. Pendekatan tersebut dinilai dapat meningkatkan rasa memiliki kendali terhadap situasi sehingga membantu mengurangi tekanan psikologis.

Selain itu, akses terhadap layanan kesehatan mental juga menjadi aspek penting. Individu yang mengalami kecemasan berkepanjangan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari disarankan mencari bantuan profesional agar kondisi tersebut dapat ditangani secara tepat.

Seiring meningkatnya dampak perubahan iklim di berbagai belahan dunia, eco-anxiety diperkirakan akan menjadi isu yang semakin relevan dalam pembahasan kesehatan mental. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak muda merupakan kelompok yang paling rentan mengalami kondisi ini. Karena itu, upaya menghadapi krisis iklim perlu berjalan beriringan dengan penguatan dukungan psikologis, edukasi, serta pelibatan generasi muda dalam aksi nyata agar kekhawatiran terhadap masa depan dapat diubah menjadi langkah yang konstruktif.

Ditulis oleh Tita Melati

Komentar