Frame Daily, Jakarta - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus bergerak cepat dalam mengatasi permasalahan sampah di ibu kota melalui pendekatan berbasis komunitas. Langkah konkret terbaru ditunjukkan langsung oleh orang nomor satu di Jakarta. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung resmikan biopori di Duren Sawit, Jakarta Timur, pada Minggu (7/6). Peresmian ini difokuskan pada penerapan inovasi ramah lingkungan berupa metode Biopori Jumbo yang digagas secara mandiri oleh warga lokal di kawasan RW 014, Kelurahan Pondok Kelapa.
Inisiatif luar biasa dari masyarakat setempat ini mendapat apresiasi yang sangat tinggi dari pemerintah daerah. Saat melakukan peninjauan langsung ke lokasi, Pramono Anung mengungkapkan rasa kagumnya terhadap kepedulian lingkungan yang ditunjukkan oleh warga Jakarta Timur. Ia menegaskan bahwa partisipasi aktif warga dalam mengelola sampah organik rumah tangga dari sumbernya adalah kunci utama untuk mengurangi beban volume pembuangan yang selama ini menumpuk di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang.

Metode pengolahan limbah yang diresmikan kali ini memiliki keunggulan yang jauh berbeda jika dibandingkan dengan lubang resapan biasa. Berdasarkan data teknis di lapangan, sistem Biopori Jumbo yang diterapkan oleh warga Pondok Kelapa tersebut dirancang sedemikian rupa sehingga satu unit lubangnya dapat melayani kebutuhan pengolahan limbah untuk dua rumah sekaligus. Hebatnya lagi, sistem pengelolaan ini tercatat mampu menampung dan mengolah volume sampah organik hingga mencapai 3.700 kilogram per tiga bulan. Hal ini tentu menjadi lompatan besar bagi efisiensi pengelolaan kebersihan lingkungan di tingkat rukun warga.
Dalam pidato sambutannya, Gubernur Pramono Anung menyampaikan harapannya agar gerakan pelestarian lingkungan berbasis masyarakat ini tidak hanya berhenti di satu titik saja. Ia sangat berharap agar keberhasilan warga RW 014 Pondok Kelapa dapat menularkan tren positif dan memicu daerah-daerah lain di Jakarta untuk merasa "iri" dalam arti yang positif. Dengan adanya rasa kompetitif yang sehat antarwilayah, proses edukasi pemilahan sampah di tengah masyarakat diyakini akan berjalan jauh lebih cepat dan masif.
Lebih lanjut, Pramono juga membidik proyek lingkungan di kawasan Duren Sawit ini untuk menjadi role model atau percontohan resmi bagi wilayah-wilayah lain di seluruh pelosok Jakarta. Strategi utama dari Pemprov DKI Jakarta ke depan adalah mendorong replikasi massal sistem serupa demi mempercepat target pencapaian Jakarta Zero Waste (bebas sampah). Melalui skema pemilahan yang konsisten, sampah yang diangkut ke tempat pembuangan akhir nantinya benar-benar hanya menyisakan sampah residu saja yang sudah tidak bisa diolah kembali.

Hingga saat peresmian berlangsung, warga RW 014 tercatat telah sukses membangun dan mengoperasikan 130 titik Biopori Jumbo di lingkungan mereka. Angka tersebut sudah mendekati target awal mereka yang berada di kisaran 150 unit. Melihat efektivitas dan antusiasme warga yang begitu tinggi, pengurus lingkungan setempat bahkan sudah merencanakan agenda ekspansi jangka pendek dengan menambah total fasilitas hingga menyentuh angka 200 titik, yang nantinya tersebar merata di area pemukiman warga maupun ruang publik terbuka.
Dampak positif dari program ini juga dirasakan langsung secara ekonomi dan ekologi oleh masyarakat sekitar. Sampah organik rumah tangga yang dimasukkan ke dalam lubang-lubang besar tersebut nantinya akan mengalami proses dekomposisi alami selama kurang lebih dua bulan. Setelah matang, hasil penguraian tersebut akan dipanen dalam bentuk pupuk kompos berkualitas tinggi. Pupuk organik gratis hasil swadaya ini nantinya akan langsung dimanfaatkan kembali untuk menyuburkan tanaman di empat titik lahan publik dan ruang terbuka hijau yang ada di wilayah lingkungan RW mereka.
Selain berfokus pada pengolahan limbah basah, Pramono Anung juga menyambut baik sinergi dan kolaborasi yang terjalin antara warga setempat dengan pihak sektor swasta untuk mengelola kategori sampah anorganik serta limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Menurutnya, integrasi pengelolaan lingkungan yang menyeluruh seperti inilah yang akan menjadi fondasi kuat dalam menciptakan ekosistem perkotaan yang sehat, berkelanjutan, dan nyaman untuk ditinggali oleh generasi masa depan warga Jakarta.
Komentar