Delapan Anggota TPNPB OPM Ikrar Setia NKRI

Delapan anggota aktif TPNPB-OPM, termasuk Danyon Kodap XV Kupel Ngalum Oksibil, menyatakan setia kepada NKRI di Distrik Kiwirok, Papua Pegunungan. Mereka menyerahkan lima pucuk senjata api kepada TNI dan berikrar meninggalkan kelompok bersenjata di hadapan ratusan warga.

Delapan Anggota TPNPB OPM Ikrar Setia NKRI
Frame Daily - TS

Frame Daily, KIWIROK – Delapan anggota aktif Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat–Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM), termasuk Komandan Batalion (Danyon) Kodap XV Kupel Ngalum Oksibil, menyatakan kembali bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Prosesi ikrar setia tersebut berlangsung di Lapangan Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua Pegunungan, disaksikan keluarga, tokoh adat, tokoh agama, kepala distrik, serta ratusan warga setempat.

Dalam kegiatan tersebut, Kupel Ngalum Oksibil bersama tujuh anggotanya secara terbuka melepaskan atribut dan identitas yang selama ini melekat sebagai bagian dari TPNPB-OPM. Mereka juga menyerahkan lima pucuk senjata api yang diterima langsung oleh Wakil Panglima Komando Operasi TNI Habema, Brigjen TNI Riyanto.

Peristiwa itu menjadi salah satu perkembangan penting dalam upaya menciptakan stabilitas keamanan di wilayah Pegunungan Bintang yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu daerah rawan konflik bersenjata di Papua.

Frame Daily - TS

Di hadapan masyarakat dan unsur pemerintah daerah, kedelapan eks anggota kelompok bersenjata tersebut mengucapkan ikrar dan sumpah setia kepada NKRI. Pernyataan itu disambut tepuk tangan dan dukungan dari warga yang hadir.

“Kami menyaksikan secara langsung proses pengucapan sumpah setia kepada NKRI yang dilakukan oleh delapan anggota aktif TPNPB-OPM, termasuk komandan batalionnya,” demikian informasi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.

Frame Daily - TS

Pendekatan Humanis Jadi Faktor Pendorong

Distrik Kiwirok sebelumnya dikenal sebagai salah satu wilayah yang kerap mengalami gangguan keamanan. Kawasan ini pernah menjadi lokasi serangkaian serangan kelompok bersenjata terhadap fasilitas publik dan aparat keamanan.

Beberapa peristiwa yang pernah terjadi di wilayah tersebut antara lain penyerangan permukiman warga, pembakaran sekolah dan puskesmas, hingga gangguan terhadap pelayanan masyarakat. Kondisi itu sempat memicu gelombang pengungsian warga yang meninggalkan kampung halamannya demi alasan keselamatan.

Menurut keterangan TNI, perubahan sikap yang ditunjukkan Kupel Ngalum Oksibil dan tujuh anggotanya tidak terlepas dari pendekatan humanis yang dilakukan personel Satgas TNI di bawah kendali Komando Operasi TNI Habema.

Frame Daily - TS

Pendekatan tersebut dilakukan melalui komunikasi dengan masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, serta berbagai program sosial yang menyentuh kebutuhan warga di daerah pedalaman Papua.

TNI juga terlibat dalam berbagai kegiatan pendampingan masyarakat, termasuk membantu peningkatan akses pendidikan, pelayanan kesehatan, dan pembangunan infrastruktur dasar di sejumlah wilayah terpencil. Melalui kegiatan tersebut, hubungan antara aparat keamanan dan masyarakat setempat disebut semakin terbuka sehingga menciptakan ruang dialog yang lebih kondusif.

Lima Senjata Diserahkan kepada TNI Selain menyatakan kesetiaan kepada NKRI, delapan mantan anggota TPNPB-OPM itu menyerahkan lima pucuk senjata api sebagai bentuk komitmen meninggalkan aktivitas bersenjata. Penyerahan dilakukan secara simbolis kepada Brigjen TNI Riyanto yang hadir dalam kegiatan tersebut. Proses berlangsung terbuka dan disaksikan berbagai unsur masyarakat di Distrik Kiwirok.

Brigjen TNI Riyanto mengatakan pendekatan yang mengedepankan kemanusiaan menjadi salah satu kunci dalam membangun kepercayaan masyarakat Papua. “Pendekatan humanis yang dilakukan seluruh personel Satgas TNI pada akhirnya mampu mengikis stigma negatif yang selama ini berkembang terhadap pemerintah dan TNI,” ujar Riyanto.

Skor Pertandingan Canada vs Bosnia Berakhir Sama KuatFrame Daily
Portal Berita modern yang menyajikan informasi terkini, akurat, dan berdampak.

Ia menegaskan masa depan Papua harus dibangun melalui persaudaraan, dialog, dan kerja sama seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, penyelesaian konflik tidak dapat dicapai melalui permusuhan yang berkepanjangan. Karena itu, ruang perdamaian harus terus dibuka bagi siapa pun yang ingin kembali hidup berdampingan secara damai. Riyanto juga mengajak anggota kelompok bersenjata yang masih berada di hutan untuk tidak ragu kembali kepada keluarga dan masyarakat.

“Pintu perdamaian selalu terbuka bagi siapa pun yang ingin meninggalkan konflik dan ikut membangun kampung halamannya,” katanya. Hingga kegiatan berakhir, situasi di Distrik Kiwirok dilaporkan berlangsung aman dan kondusif. Pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan aparat keamanan berkomitmen mengawal proses reintegrasi delapan mantan anggota TPNPB-OPM tersebut agar dapat kembali beraktivitas di tengah masyarakat.

Ditulis oleh T.S

Komentar