BNPB Catat 11 bencana dalam sehari, banjir dan kekeringan kepung sejumlah daerah

BNPB Catat 11 bencana dalam sehari, banjir dan kekeringan kepung sejumlah daerah
Foto udara: Dok Humas BNPB

Frame Daily, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB melaporkan perkembangan terbaru situasi bencana di berbagai wilayah Indonesia selama periode Rabu (13/5/2026) pukul 07.00 WIB hingga Kamis (14/5/2026) pukul 07.00 WIB.

Dalam rentang waktu tersebut, tercatat 11 kejadian bencana yang terjadi di sejumlah daerah, dengan lima kejadian masuk kategori menonjol karena berdampak signifikan dan masih dalam proses penanganan. Laporan ini disampaikan melalui siaran pers yang dirilis di Jakarta pada Kamis, 14 Mei 2026.

Kondisi cuaca ekstrem, banjir, gerakan tanah hingga kekeringan masih mendominasi kejadian bencana di beberapa provinsi. BNPB mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi basah maupun kering.

Banjir Tanah Datar Rendam Ratusan Rumah, Akses Terputus

Salah satu kejadian yang menjadi sorotan terjadi di Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat. Banjir melanda wilayah tersebut pada Rabu (13/5/2026) dan berdampak pada 275 kepala keluarga atau sekitar 252 jiwa.

Selain itu, sebanyak 122 unit rumah dilaporkan terdampak banjir. Hingga kini, proses pendataan masih terus dilakukan oleh petugas di lapangan.

BNPB menyebut kondisi banjir mulai berangsur surut. Meski demikian, sejumlah wilayah masih sulit dijangkau karena adanya jembatan yang putus akibat derasnya arus air.

Situasi ini menjadi perhatian karena Pemerintah Kabupaten Tanah Datar saat ini masih berada dalam masa transisi darurat menuju pemulihan pascabencana banjir dan longsor yang terjadi pada November 2025 lalu. Masa transisi tersebut berlaku sejak 28 Desember 2025 hingga 31 Juli 2026.

Kekeringan Landa Bondowoso, BPBD Salurkan Air Bersih

Di wilayah lain, bencana kekeringan terjadi di Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur pada Rabu (13/5/2026).

Sebanyak 89 kepala keluarga terdampak akibat berkurangnya pasokan air bersih di wilayah tersebut. Sebagai langkah penanganan darurat, BPBD Kabupaten Bondowoso mendistribusikan air bersih menggunakan dua unit truk tangki berkapasitas masing-masing 5.000 liter.

Distribusi air dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang terdampak kekeringan di beberapa titik wilayah terdampak.

Gerakan Tanah di Cilacap, Jalan Ambles Belum Bisa Dilalui

Sementara itu, BNPB juga memperbarui data penanganan gerakan tanah di Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah yang terjadi sejak Selasa (6/5/2026).

Bencana tersebut berdampak pada 11 kepala keluarga dan menyebabkan empat kepala keluarga harus mengungsi.

Kerusakan yang tercatat meliputi tiga rumah rusak ringan, tujuh rumah rusak sedang dan satu rumah rusak berat.

Hingga Kamis (14/5/2026), akses jalan yang ambles masih belum dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Pemerintah daerah menetapkan status siaga darurat sejak 30 September 2025 hingga 30 Mei 2026 guna mempercepat proses penanganan.

Banjir di Kolaka dan Kolaka Timur Mulai Surut

Di Provinsi Sulawesi Tenggara, banjir juga melanda dua wilayah berbeda, yakni Kabupaten Kolaka Timur dan Kabupaten Kolaka.

Banjir di Kolaka Timur yang terjadi sejak Kamis (8/5/2026) berdampak pada 282 kepala keluarga. Sebanyak 276 rumah terdampak, dua rumah mengalami rusak ringan dan empat rumah rusak sedang.

Pemerintah daerah menetapkan status tanggap darurat sejak 8 Mei hingga 22 Mei 2026. BNPB menyebut kondisi banjir saat ini telah surut.

Sementara itu, di Kabupaten Kolaka, banjir yang terjadi pada Selasa (12/5/2026) berdampak lebih luas dengan total 595 kepala keluarga atau sekitar 2.062 jiwa terdampak.

Sebanyak 587 unit rumah turut terdampak akibat genangan banjir. Pemerintah daerah menetapkan status tanggap darurat mulai 13 Mei hingga 26 Mei 2026.

“Kondisi terkini menunjukkan genangan telah surut dan warga mulai melakukan pembersihan rumah terdampak,” tulis BNPB dalam laporan resminya.

Tiga Gunung Api Masih Berstatus Siaga

Selain memantau bencana hidrometeorologi, BNPB juga terus memonitor aktivitas gunung api berdasarkan laporan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi atau PVMBG.

Hingga Rabu (13/5/2026), terdapat tiga gunung api di Indonesia yang masih berada pada status Level III atau Siaga, yaitu Gunung Lewotobi Laki-laki, Gunung Merapi dan Gunung Semeru.

Status tersebut menunjukkan adanya peningkatan aktivitas vulkanik yang perlu terus diwaspadai masyarakat di sekitar kawasan gunung api.

BNPB Imbau Warga Tingkatkan Kewaspadaan

Berdasarkan prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau BMKG, sejumlah wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang.

Wilayah yang diperkirakan terdampak cuaca ekstrem meliputi Aceh, Kepulauan Riau, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Papua hingga Nusa Tenggara Barat.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi resmi dari pemerintah daerah, BPBD dan BMKG.

“Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi resmi dari pemerintah daerah, BPBD dan BMKG, serta segera melakukan langkah antisipasi dan evakuasi apabila terjadi peningkatan ancaman bahaya,” kata Abdul Muhari dalam siaran pers BNPB, Kamis (14/5/2026).

Ia menegaskan kesiapsiagaan dan respons cepat seluruh unsur menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko dan dampak bencana di berbagai wilayah Indonesia.

Ditulis oleh T A

Komentar