Frame Daily, JAKARTA – Batik Kudus, Demak, dan Banyumas kembali mendapat sorotan melalui pameran bertajuk Jejak Keindahan: Batik Kudus, Demak, dan Banyumas di Museum Tekstil Jakarta. Menghadirkan 60 koleksi kain batik, pameran ini menjadi upaya memperkenalkan kembali warisan budaya dari tiga daerah yang pernah mengalami masa kejayaan, tetapi kini kurang dikenal masyarakat luas.
Pameran tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional 2026. Masyarakat dapat melihat langsung kekayaan motif dan karakter batik dari ketiga daerah tersebut hingga 2 November 2026.
Batik Kudus, Demak, dan Banyumas memiliki perjalanan panjang yang berkaitan erat dengan kehidupan sosial, budaya, serta sejarah masyarakat setempat. Tradisi pembuatannya mengalami pasang surut, terutama ketika perubahan selera pasar dan berkurangnya regenerasi pembatik memengaruhi keberlanjutan produksi.
Kurator Junior Museum Tekstil, Mutiara Zahwa Nauli Siregar, menjelaskan bahwa ketiga daerah tersebut dahulu aktif menghasilkan batik. Akan tetapi, masa keemasannya mulai meredup seiring penurunan produksi yang cukup signifikan pada periode 1960–1980-an.
“Batik yang berjuang ini perlu kita perkenalkan lagi, karena mau bagaimanapun batik ini tetap merupakan salah satu dari identitas nasional kita, dengan keindahannya yang tidak kalah menarik untuk mata dan hati,” kata Zahwa kepada ANTARA di Jakarta.
60 Koleksi Ungkap Kekayaan Motif Nusantara
Pameran Jejak Keindahan menampilkan 60 koleksi batik yang berasal dari tiga daerah. Rinciannya terdiri atas 15 koleksi Batik Kudus, tiga koleksi Batik Demak, dan 42 koleksi Batik Banyumas.
Sebagian besar koleksi yang dipamerkan merupakan batik tulis dari koleksi lama Museum Tekstil. Setiap kain memperlihatkan karakter visual yang berbeda, mulai dari stilasi tumbuhan dan bunga hingga motif burung serta ragam hias yang mencerminkan kreativitas pembatik pada zamannya.
Batik Kudus dikenal melalui motif berukuran besar dengan komposisi berani. Karakter tersebut berpadu dengan isen-isen, yakni ragam isian pada bidang motif, yang dibuat dengan detail untuk memperkaya tampilan kain.
Salah satu koleksi yang ditampilkan adalah kain panjang berbahan katun bergaya kudusan dengan motif tanaman air, kyai janggar, dan beras mawur. Pengunjung juga dapat melihat kain panjang pagi sore dengan motif buket, burung, kupu-kupu, dan sisik ulo.
Ragam tersebut memperlihatkan bagaimana pembatik Kudus mengolah unsur alam menjadi pola dekoratif. Perpaduan motif utama dan isian terperinci menjadi bagian dari identitas visual batik daerah tersebut.
Batik Demak dan Banyumas Punya Ciri Khas
Berbeda dengan Kudus, Batik Demak menampilkan karakter batik pesisir yang berpadu dengan stilasi flora. Salah satu koleksi pameran berupa kain panjang pagi sore berbahan katun dengan motif tabur bunga susymoyo lungkembang ukel tapaitik, ceplok nitik, dan isen semarangan.
Motif tersebut menunjukkan keragaman bentuk serta komposisi yang berkembang dalam tradisi batik Demak. Unsur tumbuhan dan pola geometris menjadi bagian dari kekayaan visual yang dapat ditelusuri melalui koleksi museum.
Adapun Batik Banyumas memiliki karakter garis dan motif yang tegas. Dari 42 koleksi yang ditampilkan, pengunjung dapat melihat kain panjang berbahan katun dengan motif lung-lungan, burung berlatar andang mukti, serta ukel.
Koleksi lainnya berupa kain panjang batik tulis dengan motif buketan tambal. Perbedaan karakter tersebut memperlihatkan bahwa tradisi batik Indonesia tidak berkembang dalam satu corak tunggal, melainkan dipengaruhi lingkungan, sejarah, dan kreativitas masyarakat di setiap daerah.
Keberagaman itu menjadi salah satu alasan penting untuk memperkenalkan kembali Batik Kudus, Demak, dan Banyumas kepada generasi muda. Melalui pameran, pengunjung dapat mengenali motif sekaligus memahami nilai sejarah yang terkandung dalam setiap kain.
Jejak Sejarah dan Pengaruh Islam
Selain menampilkan keindahan visual, pameran ini mengangkat hubungan batik dengan perjalanan sejarah masyarakat. Zahwa menjelaskan bahwa ketiga daerah memiliki pengaruh Islam yang kuat dalam perkembangan tradisi batiknya.
“Ketiga daerah ini memiliki pengaruh islam yang cukup kuat karena karya Batik daerah tersebut dipelopori oleh figur Muslim di Indonesia yang terkenal seperti Sultan Agung di Kudus, Sunan Kalijaga di Demak bahkan sampai Najendra, salah satu pengikut Pangeran Diponegoro yang menetap di Banyumas,” tutur Zahwa.
Keterangan tersebut menunjukkan pentingnya melihat batik tidak hanya sebagai produk kerajinan, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan kebudayaan. Motif, teknik pembuatan, dan persebaran tradisi batik berkaitan dengan interaksi sosial yang berlangsung dari generasi ke generasi.
Meski demikian, keberlanjutan Batik Kudus, Demak, dan Banyumas menghadapi tantangan. Perubahan pola kehidupan, perkembangan selera masyarakat, faktor sosial ekonomi, serta berkurangnya minat generasi muda menjadi sejumlah hal yang memengaruhi regenerasi pembatik.
Ketika jumlah pembuat batik berkurang, pengetahuan mengenai teknik, motif, dan pewarnaan berisiko tidak tersampaikan secara utuh kepada generasi berikutnya. Karena itu, dokumentasi dan pengenalan kepada masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan tradisi tersebut.
Museum Tekstil Dorong Pelestarian Batik
Kepala Unit Pengelola Museum Seni, Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Sri Kusumawati, mengatakan pelestarian batik tidak cukup dilakukan dengan menjaga kain sebagai benda koleksi.
Menurut Sri, pengetahuan mengenai pembuat, daerah asal, teknik, motif, pewarnaan, fungsi, serta cerita masyarakat di balik setiap kain juga perlu didokumentasikan. Informasi tersebut membantu masyarakat memahami nilai budaya yang tidak selalu terlihat dari penampilan fisik sebuah kain.
“Meskipun masa kejayaannya mungkin telah berlalu, jejak keterampilan, kreativitas, dan nilai budaya yang terkandung dalam karya-karya tersebut tetap hidup hingga hari ini,” ujar Sri kepada ANTARA di Jakarta.
Melalui pameran Jejak Keindahan, Museum Tekstil berupaya menjadi penghubung antara warisan masa lalu dan perkembangan batik pada masa kini. Koleksi yang dipamerkan diharapkan membuka ruang dialog mengenai sejarah, kreativitas, serta tantangan pelestarian batik daerah.
Momentum Hari Batik Nasional juga menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan masyarakat. Pengenalan motif, penggunaan produk batik, serta dukungan terhadap para perajin dapat membantu menjaga tradisi tersebut tetap relevan.
Pameran Batik Kudus, Demak, dan Banyumas di Museum Tekstil Jakarta berlangsung hingga 2 November 2026. Melalui 60 koleksi yang ditampilkan, masyarakat diajak mengenali kembali kekayaan batik daerah sekaligus memahami pentingnya menjaga keterampilan dan pengetahuan yang diwariskan para pembatik.
Upaya menghidupkan kembali batik yang kurang dikenal tidak berhenti pada penyelenggaraan pameran. Keberlangsungannya juga bergantung pada kemauan masyarakat untuk mempelajari, menghargai, dan menggunakan batik sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia.
Komentar