Frame Daily, Jakarta - Bagi banyak warga Jabodetabek, perjalanan menuju tempat kerja masih menjadi aktivitas yang melelahkan setiap hari. Antre di halte, berpindah moda transportasi, hingga menunggu bus atau kereta yang penuh sudah menjadi rutinitas yang sulit dihindari.
Kepadatan penumpang masih terlihat di sejumlah titik transit seperti Harmoni, Dukuh Atas, Tanah Abang, hingga Duri, terutama saat jam sibuk pagi dan sore ketika arus perpindahan antarmoda terjadi secara bersamaan.
Banyak commuter mengaku harus menghabiskan waktu antara dua hingga empat jam setiap hari di perjalanan. Durasi tersebut belum termasuk waktu antre saat transit maupun menunggu armada yang datang dalam kondisi penuh.
“Kadang baru sampai kantor saja sudah capek duluan karena perjalanan panjang dan antre terus,” ujar salah satu pekerja asal Bekasi yang setiap hari menggunakan KRL dan TransJakarta.
Tracking Bus Masih Dikeluhkan Pengguna
Selain kepadatan halte, akurasi informasi kedatangan bus juga mulai menjadi perhatian pengguna transportasi publik.
Laporan analitis pengalaman pengguna dan tracking bus TransJakarta pada 24–25 Mei 2026 menunjukkan rata-rata keterlambatan Estimated Time of Arrival (ETA) aplikasi resmi mencapai sekitar 127 detik dibanding kedatangan bus sebenarnya. Sementara Google Maps dinilai sedikit lebih akurat dengan rata-rata selisih sekitar 110 detik.
Laporan tersebut juga mencatat sekitar 60 persen pengguna lebih memilih menggunakan Google Maps atau JAKI dibanding aplikasi resmi TransJakarta untuk melihat posisi dan kedatangan bus secara real-time.
Blind Spot Layanan Masih Terjadi
Meski integrasi transportasi publik Jakarta terus berkembang, pengalaman pengguna di lapangan menunjukkan masih adanya blind spot yang jarang dibahas secara terbuka.
Mulai dari halte yang padat, bus datang sudah penuh, hingga aplikasi tracking yang dinilai belum konsisten masih menjadi keluhan harian commuter.
Dalam laporan yang sama, sejumlah pengguna juga mengeluhkan aplikasi resmi yang sering lag dan ETA yang dianggap terlalu optimistis dibanding kondisi nyata di lapangan.
Sementara itu, respons resmi yang muncul sejauh ini lebih banyak berfokus pada optimalisasi layanan secara umum dan belum secara spesifik menjawab persoalan akurasi tracking maupun kepadatan saat jam sibuk.
Transportasi Publik Jadi Andalan Sekaligus Tantangan
Meski penuh tantangan, transportasi publik tetap menjadi pilihan utama masyarakat urban karena dianggap lebih hemat dibanding kendaraan pribadi di tengah kemacetan Jakarta.
Namun bagi sebagian commuter, perjalanan harian kini bukan hanya soal berpindah tempat, melainkan juga soal menjaga energi sebelum memulai aktivitas kerja setiap pagi.
Komentar