Frame Daily, Washington DC -Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjalani operasi pengamanan rahasia saat meninggalkan Ankara, Turki, pada Juli 2026. Trump ternyata tidak langsung terbang menggunakan Air Force One seperti yang diketahui publik.
Menurut laporan The Washington Post yang kemudian diberitakan Reuters, Trump diam-diam dipindahkan dari Air Force One ke pesawat militer C-32A melalui sebuah truk katering bandara. Operasi tersebut dilakukan setelah muncul informasi mengenai potensi ancaman terhadap keselamatan Trump yang dikaitkan dengan Iran.
Peristiwa itu terjadi setelah Trump menghadiri KTT NATO di Ankara pada 7-8 Juli. Pada saat itu, ketegangan antara Washington dan Teheran sedang meningkat setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran.
Di hadapan kamera, Trump tetap terlihat menaiki Air Force One. Manuver tersebut diduga menjadi bagian dari operasi pengelabuan untuk membuat publik dan pihak yang berpotensi mengincarnya percaya bahwa Trump berada di dalam pesawat tersebut.
Air Force One Dijadikan Pesawat Pengalih
Setelah Trump terlihat naik ke Air Force One, rombongan wartawan kepresidenan dan sejumlah staf tetap berada di pesawat tersebut.
Trump kemudian dipindahkan secara tersembunyi menggunakan truk katering menuju pesawat C-32A yang berada tidak jauh dari Air Force One.
C-32A merupakan pesawat militer yang lebih kecil dibandingkan Air Force One. Pesawat tersebut kemudian membawa Trump menuju Inggris.
Rekaman yang dianalisis The Washington Post memperlihatkan pergerakan truk katering dari Air Force One menuju C-32A di Bandara Esenboğa, Ankara, pada 8 Juli.
Pesawat yang membawa Trump tiba di Inggris sekitar pukul 22.20 waktu setempat. Beberapa menit kemudian, Air Force One yang membawa wartawan dan rombongan lainnya menyusul.
Trump kemudian kembali terlihat turun dari Air Force One pada malam yang sama.
Ancaman Iran Jadi Alasan Operasi
Informasi awal menyebut operasi tersebut dipicu ancaman pembunuhan terhadap Trump yang dikaitkan dengan Iran.
Reuters melaporkan pada 13 Agustus bahwa pejabat dan sumber yang mengetahui situasi tersebut mengatakan Amerika Serikat sebelumnya menerima sejumlah peringatan mengenai kemungkinan upaya Iran menyerang Trump. Salah satu peringatan paling serius berkaitan dengan kemungkinan serangan terhadap pesawat Trump saat berada di Ankara.
Akan tetapi, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa tingkat keyakinan terhadap ancaman tersebut tidak sepenuhnya solid.
The Washington Post melaporkan pada 12 Agustus bahwa CIA memiliki tingkat keyakinan rendah terhadap informasi intelijen yang menjadi dasar peringatan tersebut. CIA disebut memiliki keraguan terhadap informasi dari intelijen Israel mengenai ancaman terhadap Trump.
Reuters kemudian melaporkan bahwa badan intelijen Amerika Serikat tidak dapat memverifikasi secara independen sejumlah peringatan Israel terkait rencana Iran untuk membunuh Trump. Intelijen Turki juga disebut tidak menemukan bukti yang mendukung klaim tersebut.
Meski terdapat keraguan mengenai validitas ancaman, Secret Service dan pihak militer tetap mengambil langkah pencegahan.
Trump Sebut Hanya Mengikuti Arahan Secret Service
Trump kemudian memberikan penjelasan mengenai operasi tersebut. Ia mengatakan keputusan untuk memindahkannya dari Air Force One bukan berasal darinya.
Trump menyebut dirinya hanya mengikuti instruksi Secret Service dan militer.
"Ya, itu sepenuhnya keputusan Secret Service," kata Trump kepada wartawan, seperti diberitakan Reuters pada 12 Agustus.
Trump juga mengatakan pesawat yang digunakannya justru berpotensi menghadapi risiko lebih besar karena pesawat tersebut bisa menjadi sasaran jika pihak yang mengancam mengetahui keberadaannya.
Ia menyatakan tidak banyak bertanya mengenai detail ancaman karena dirinya kerap menerima ancaman.
Operasi Rahasia Picu Pertanyaan
Operasi tersebut menimbulkan pertanyaan karena sejumlah wartawan kepresidenan dan staf Gedung Putih yang berada di Air Force One tidak mengetahui bahwa Trump telah meninggalkan pesawat.
Laporan terbaru The Washington Post menyebut beberapa pembantu dekat Trump ikut dalam perpindahan rahasia menggunakan truk katering. Sebaliknya, tidak ada pejabat kabinet yang disebut ikut dalam perpindahan tersebut.
Kasus ini juga memicu perdebatan mengenai transparansi perjalanan presiden serta perlindungan terhadap rombongan kepresidenan.
Di sisi lain, operasi tersebut memperlihatkan bagaimana ancaman keamanan terhadap presiden dapat mengubah prosedur perjalanan dalam hitungan menit.
Hingga pertengahan Agustus 2026, belum ada bukti publik yang memastikan bahwa Iran benar-benar menyiapkan serangan terhadap pesawat Trump di Ankara. Meski demikian, ancaman tersebut dinilai cukup serius oleh aparat keamanan untuk menjalankan operasi pengelabuan yang dirancang agar keberadaan presiden sulit dilacak.
Komentar