Frame Daily, Jakarta - Risiko terhadap jalur perdagangan energi dunia kembali meningkat. Pasukan Houthi yang didukung Iran dilaporkan telah merebut Pulau Perim dan Dhubab, dua lokasi strategis di sekitar Selat Bab el-Mandeb, Yaman.
Di kutip dari Reuters pada Jumat (11/9/2026), Houthi merebut kedua lokasi tersebut setelah sebelumnya menguasai kota pelabuhan Mocha dan bergerak melalui Kepulauan Hanish di Laut Merah. Perkembangan itu memperkuat posisi kelompok tersebut di sekitar jalur yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Namun, perebutan Perim dan Dhubab belum berarti Houthi menguasai atau menutup seluruh Selat Bab el-Mandeb. Mengapa perkembangan ini begitu penting bagi pasar energi dunia?
Hormuz Terganggu, Bab el-Mandeb Semakin Penting
Selat Hormuz selama ini menjadi salah satu jalur utama pengiriman minyak dan gas dari kawasan Teluk menuju pasar internasional.
Menurut Badan Informasi Energi Amerika Serikat (Energy Information Administration/EIA), aliran minyak mentah dan produk petroleum melalui Hormuz rata-rata mencapai sekitar 21,6 juta barel per hari pada kuartal IV 2025. Ketika konflik mengganggu pelayaran, volumenya turun menjadi sekitar 4,9 juta barel per hari pada kuartal II 2026.
Gangguan tersebut membuat sebagian minyak Arab Saudi dapat dialihkan melalui jaringan pipa East-West menuju Yanbu di pesisir Laut Merah untuk menghindari Hormuz. Akibatnya, posisi Bab el-Mandeb menjadi semakin penting.
EIA mencatat volume minyak dan produk petroleum yang melewati Bab el-Mandeb meningkat dari sekitar 5,4 juta barel per hari pada kuartal IV 2025 menjadi 8,1 juta barel per hari pada kuartal II 2026.
Artinya, ketika Hormuz mengalami gangguan, jalur Laut Merah menjadi salah satu alternatif. Kini kawasan jalur tersebut ikut menghadapi peningkatan risiko keamanan.
Dua Jalur Energi Sama-sama Tertekan
Bab el-Mandeb merupakan selat sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Dari sana, kapal dapat menuju Terusan Suez dan Mediterania atau bergerak ke Samudra Hindia.
Jika risiko keamanan meningkat dan membuat kapal menghindari Bab el-Mandeb, sebagian pelayaran dapat mengambil rute lebih panjang mengitari Afrika melalui Tanjung Harapan.
Dampaknya bisa berupa perjalanan lebih lama, konsumsi bahan bakar lebih besar, kenaikan biaya pengiriman hingga meningkatnya premi asuransi pelayaran.
Namun kondisi saat ini perlu dibaca secara hati-hati. Bab el-Mandeb belum dinyatakan tertutup, dan pelayaran masih berlangsung meski menghadapi risiko keamanan yang lebih tinggi.
Hal serupa berlaku untuk Hormuz. Jalur tersebut masih dilalui kapal, tetapi arus pelayaran telah mengalami gangguan dibandingkan kondisi normal. Situasi inilah yang menjadi perhatian pasar energi.
Hormuz dan Bab el-Mandeb memiliki fungsi geografis berbeda, tetapi keduanya merupakan titik sempit atau chokepoint penting bagi perdagangan energi global. Ketika satu jalur terganggu, sebagian aliran minyak masih dapat dialihkan. Masalah menjadi lebih serius ketika jalur alternatifnya ikut berada dalam tekanan.
Karena itu, perebutan Perim dan Dhubab penting bukan karena Bab el-Mandeb sudah tertutup, melainkan karena risiko kini meningkat di dua jalur strategis energi Timur Tengah secara bersamaan.
Jika gangguan semakin meluas atau membuat lebih banyak kapal menghindari kawasan tersebut, tekanan terhadap biaya transportasi, pasokan, dan pada akhirnya harga energi global dapat semakin besar.
Komentar