frame Daily, Jakarta - Pernah terbangun pada pagi hari, tetapi merasa masih berada di antara dunia mimpi dan kenyataan? Kondisi tersebut dapat membuat seseorang membutuhkan waktu untuk benar-benar sadar, bahkan masih mengingat mimpi dengan sangat jelas. Fenomena ini kerap dikaitkan dengan sleep inertia, yakni kondisi transisi ketika otak belum sepenuhnya beralih dari tidur menuju keadaan terjaga.
Sleep inertia sebenarnya bukan istilah untuk menjelaskan mimpi yang terasa nyata. Dalam konteks medis, sleep inertia menggambarkan rasa mengantuk, bingung, sulit berkonsentrasi, lambat merespons, hingga mengalami gangguan kemampuan berpikir sesaat setelah bangun tidur.
Di sisi lain, mimpi yang terasa sangat realistis lebih sering berkaitan dengan fase rapid eye movement (REM), fase tidur yang dikenal menghasilkan mimpi lebih hidup. Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical Sleep Medicine menemukan adanya hubungan antara tingginya proporsi tidur REM dan kemungkinan seseorang melaporkan mimpi yang bersifat vivid atau terasa sangat nyata.
Apa Itu Sleep Inertia?
Sleep inertia adalah keadaan sementara ketika seseorang sudah terbangun secara fisik, tetapi fungsi otak belum sepenuhnya mencapai tingkat kewaspadaan seperti saat terjaga normal. Kondisi ini dapat ditandai dengan rasa mengantuk, disorientasi, sulit berkonsentrasi, respons yang melambat, gangguan koordinasi, hingga kesulitan mengambil keputusan.
Cleveland Clinic menyebut sleep inertia umumnya berlangsung sekitar 15 hingga 60 menit. Durasi tersebut dapat menjadi lebih panjang ketika seseorang mengalami kurang tidur atau memiliki gangguan tidur tertentu. Dalam kondisi tertentu, sleep inertia juga dapat memengaruhi keselamatan karena kemampuan seseorang untuk bereaksi dan mengambil keputusan belum optimal.
Sleep inertia juga tidak selalu berarti seseorang mengalami gangguan kesehatan. Kondisi ini dapat terjadi secara alami ketika seseorang terbangun, terutama jika proses bangun berlangsung tiba-tiba atau terjadi pada tahap tidur tertentu. Namun, apabila rasa bingung dan mengantuk berlangsung lama serta mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut perlu diperhatikan lebih lanjut.
Mengapa Mimpi Pagi Hari Terasa Lebih Nyata?
Salah satu penjelasannya berkaitan dengan pola tidur. Dalam satu malam, manusia melewati beberapa siklus tidur yang terdiri atas fase non-REM dan REM. Fase REM menjadi semakin panjang pada bagian akhir periode tidur, sehingga menjelang pagi seseorang dapat menghabiskan waktu lebih banyak dalam fase tersebut.
National Institute of Child Health and Human Development (NICHD) menjelaskan bahwa mimpi umumnya paling vivid selama tidur REM, meskipun mimpi juga dapat terjadi pada tidur non-REM. Karena itu, ketika seseorang terbangun dari atau berdekatan dengan fase REM pada pagi hari, isi mimpi dapat terasa lebih jelas dan mudah diingat.
Penelitian terhadap 505 veteran yang menjalani pemeriksaan tidur menemukan bahwa peserta dengan proporsi tidur REM lebih dari 25 persen memiliki kemungkinan lebih dari dua kali lipat untuk melaporkan mimpi vivid dibandingkan peserta dengan proporsi REM yang lebih rendah. Temuan tersebut menunjukkan adanya hubungan antara REM dan pengalaman mimpi yang terasa lebih nyata, meskipun penelitian tersebut tidak berarti setiap mimpi vivid merupakan tanda gangguan tidur.
Hubungan Sleep Inertia dengan Bangun Lalu Tidur Lagi
Kebiasaan mematikan alarm kemudian kembali tidur dapat membuat seseorang mengalami beberapa kali transisi antara tidur dan terjaga dalam waktu singkat. Ketika bangun untuk beberapa saat kemudian kembali tertidur, otak dapat kembali memasuki bagian tertentu dari siklus tidur sebelum akhirnya terbangun lagi.
Situasi tersebut dapat membuat pengalaman bangun terasa tidak nyaman. Seseorang mungkin merasa sangat mengantuk, sulit berpikir jernih, atau membutuhkan waktu untuk memahami bahwa dirinya sudah benar-benar bangun. Pengalaman mimpi yang baru saja terjadi juga dapat terasa sangat dekat dengan kenyataan.
Namun, perlu dibedakan antara sleep inertia dan fenomena mimpi vivid. Sleep inertia merupakan keadaan gangguan kewaspadaan sementara setelah bangun, sedangkan mimpi vivid menggambarkan karakter pengalaman mimpi yang terasa jelas dan realistis. Keduanya dapat muncul berdekatan, tetapi bukan istilah medis yang sama.
Kurang tidur juga dapat memperburuk sleep inertia. Cleveland Clinic mencatat bahwa bangun dari tidur dalam atau tidur tahap NREM 3, tidur yang tidak mencukupi, pola kerja malam, serta sejumlah kondisi dan obat tertentu dapat berkontribusi terhadap munculnya sleep inertia.
Kapan Kondisi Ini Perlu Diperhatikan?
Sesekali mengalami mimpi yang sangat nyata atau merasa sedikit linglung setelah bangun pada dasarnya bukan alasan untuk langsung menganggap seseorang mengalami gangguan tidur. Pengalaman tersebut dapat menjadi bagian dari proses normal tidur dan bangun.
Yang perlu diperhatikan adalah frekuensi dan dampaknya. Jika seseorang hampir setiap hari mengalami kesulitan bangun, tetap sangat mengantuk setelah tidur cukup, mengalami kebingungan berkepanjangan, atau kondisi tersebut mengganggu pekerjaan dan aktivitas harian, evaluasi medis dapat dipertimbangkan.
Gangguan tidur tertentu, termasuk obstructive sleep apnea dan idiopathic hypersomnia, dapat berkaitan dengan rasa kantuk berlebihan atau kesulitan bangun. Pada idiopathic hypersomnia, misalnya, sleep inertia dapat menjadi salah satu gejalanya, disertai rasa tidak segar setelah tidur dan kantuk berlebihan pada siang hari.
Cleveland Clinic juga menyarankan konsultasi dengan dokter atau spesialis tidur apabila sleep inertia berlangsung lama, mengganggu fungsi sehari-hari, atau tidak membaik meskipun kebiasaan tidur sudah diperbaiki.

Cara Mengurangi Sleep Inertia di Pagi Hari
Langkah pertama adalah memastikan kebutuhan tidur terpenuhi secara konsisten. Kurang tidur dapat meningkatkan rasa mengantuk dan membuat proses transisi menuju kondisi terjaga menjadi lebih sulit. Jadwal tidur dan bangun yang relatif konsisten juga membantu menjaga ritme tidur-bangun.
Mengurangi kebiasaan menekan tombol snooze berulang kali dapat menjadi salah satu strategi. Cleveland Clinic merekomendasikan pendekatan RISE-UP, yang antara lain mencakup menahan keinginan untuk kembali tidur, meningkatkan aktivitas pada satu jam pertama setelah bangun, serta menggunakan rutinitas pagi untuk membantu tubuh beralih ke kondisi aktif.
Paparan cahaya pada pagi hari dan aktivitas fisik ringan juga dapat membantu tubuh beralih menuju kondisi terjaga. Rutinitas sederhana seperti membuka tirai, berjalan sebentar, mandi, atau segera melakukan aktivitas pagi dapat membantu mengurangi rasa berat setelah bangun.
Pada akhirnya, sleep inertia merupakan bagian dari proses transisi tidur menuju kondisi terjaga yang dapat dialami banyak orang. Sementara itu, mimpi yang terasa sangat nyata pada pagi hari kemungkinan berkaitan dengan aktivitas tidur REM dan kedekatan waktu terbangun dengan fase tersebut. Selama terjadi sesekali dan tidak mengganggu aktivitas, pengalaman tersebut umumnya tidak perlu dianggap sebagai tanda penyakit. Namun, sleep inertia yang berlangsung lama, kantuk berlebihan, atau kesulitan bangun yang terus berulang perlu mendapat perhatian karena dapat berkaitan dengan masalah tidur yang membutuhkan evaluasi lebih lanjut.

Komentar