Frame Daily, Jakarta - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kembali menjadi perhatian pelaku usaha dan masyarakat setelah penyesuaian harga sejumlah BBM nonsubsidi di tengah lonjakan harga minyak dunia. Walaupun pemerintah memastikan harga BBM bersubsidi tetap dipertahankan hingga akhir 2026, kalangan ekonom mengingatkan bahwa dampak kenaikan BBM nonsubsidi tetap dapat menjalar ke berbagai sektor ekonomi melalui peningkatan biaya operasional, logistik, dan distribusi.
Kenaikan biaya energi umumnya memicu efek berantai. Dunia usaha menghadapi biaya produksi yang lebih tinggi, sementara masyarakat berpotensi merasakan kenaikan harga barang dan jasa secara bertahap apabila pelaku usaha melakukan penyesuaian harga.
Transportasi dan Logistik Menjadi Sektor Pertama
Sektor transportasi menjadi yang paling cepat merasakan dampak kenaikan BBM. Kendaraan operasional perusahaan distribusi, jasa ekspedisi, angkutan barang, hingga transportasi antarkota memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan bakar.
Ketika biaya operasional meningkat, perusahaan biasanya melakukan efisiensi atau menyesuaikan tarif angkut. Dampaknya kemudian menjalar ke berbagai komoditas karena sebagian besar barang konsumsi bergantung pada distribusi darat.
Ekonom menilai sektor logistik memiliki peran penting dalam menentukan stabilitas harga barang di tingkat konsumen. Kenaikan ongkos distribusi dapat meningkatkan biaya rantai pasok secara keseluruhan.

Industri Manufaktur Menghadapi Tekanan Biaya Produksi
Industri manufaktur juga termasuk sektor yang cukup sensitif terhadap perubahan harga energi. Selain menggunakan BBM untuk transportasi bahan baku dan produk jadi, banyak pabrik mengoperasikan mesin produksi yang membutuhkan energi dalam jumlah besar.
Kenaikan biaya produksi dapat mengurangi margin keuntungan perusahaan. Dalam kondisi tertentu, perusahaan memilih menaikkan harga jual produk agar operasional tetap berjalan.
Sektor makanan dan minuman, tekstil, kimia, hingga bahan bangunan menjadi industri yang berpotensi mengalami tekanan apabila biaya energi terus meningkat.
Perdagangan dan UMKM Ikut Tertekan
Pedagang grosir, pasar tradisional, hingga pelaku UMKM juga tidak luput dari dampak kenaikan BBM. Biaya pengiriman barang dari distributor menuju pasar menjadi lebih mahal sehingga harga pokok penjualan meningkat.
Pelaku usaha kecil biasanya memiliki ruang keuntungan yang terbatas. Ketika biaya operasional naik, sebagian memilih menaikkan harga produk, sementara sebagian lainnya mengurangi margin keuntungan agar pelanggan tidak beralih.
Kondisi tersebut berpotensi memperlambat aktivitas perdagangan apabila daya beli masyarakat ikut melemah.

Sektor Pertanian dan Perikanan
Sektor pertanian dan perikanan juga terdampak, terutama untuk penggunaan mesin pertanian, pompa air, kendaraan pengangkut hasil panen, hingga kapal nelayan yang menggunakan bahan bakar.
Peningkatan biaya produksi dapat memengaruhi harga hasil panen dan komoditas pangan apabila berlangsung dalam waktu yang lama.
Meski demikian, sejumlah ekonom menilai dampak terhadap pangan akan lebih terbatas apabila kenaikan hanya terjadi pada BBM nonsubsidi, karena distribusi logistik nasional masih banyak menggunakan solar bersubsidi yang belum mengalami penyesuaian harga.

Pariwisata dan Jasa
Industri pariwisata juga menghadapi tantangan melalui kenaikan biaya perjalanan. Maskapai, operator bus wisata, perusahaan rental kendaraan, hingga agen perjalanan harus menghitung ulang biaya operasional.
Jika tarif transportasi meningkat, minat masyarakat untuk berwisata berpotensi menurun sehingga memengaruhi tingkat hunian hotel, restoran, dan destinasi wisata.
Di sektor jasa, perusahaan yang memiliki mobilitas tinggi juga harus mengalokasikan anggaran operasional lebih besar dibanding sebelumnya.
Ekonom Ingatkan Risiko Inflasi
Ekonom Universitas Gadjah Mada, Eddy Junarsin, menilai kenaikan harga BBM memiliki potensi meningkatkan inflasi apabila tidak diantisipasi melalui kebijakan yang tepat.
"Kenaikan harga BBM sangat berpotensi meningkatkan laju inflasi sehingga pemerintah harus mengelolanya dengan segera," ujar Eddy seperti dikutip Kompas.com. Ia juga menyarankan penguatan sektor pangan, perbaikan transportasi publik, serta langkah-langkah efisiensi untuk menekan dampak terhadap masyarakat.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan dampak inflasi dari kenaikan BBM nonsubsidi diperkirakan relatif terbatas karena jenis BBM tersebut tidak mendominasi transportasi umum. Pemerintah juga menegaskan harga BBM bersubsidi tetap dipertahankan guna menjaga daya beli masyarakat.

Di sisi lain, Bank Dunia memperingatkan bahwa lonjakan harga minyak dunia berpotensi meningkatkan beban subsidi energi serta mempersempit ruang fiskal pemerintah. Lembaga tersebut juga menilai reformasi subsidi yang lebih tepat sasaran dapat menjadi salah satu solusi untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus melindungi kelompok masyarakat rentan.
Dengan kondisi tersebut, sektor transportasi, logistik, manufaktur, perdagangan, pertanian, perikanan, hingga pariwisata diperkirakan menjadi kelompok usaha yang paling merasakan tekanan apabila kenaikan harga BBM berlangsung dalam jangka waktu lebih panjang. Besarnya dampak akan sangat bergantung pada perkembangan harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, serta kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.
Komentar