Frame Daily, Palu – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang wilayah Sulawesi Tengah pada Selasa (16/6/2026) tidak hanya memicu kepanikan warga, tetapi juga berdampak pada aktivitas masyarakat di Kota Palu. Sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dipadati kendaraan sejak beberapa saat setelah guncangan dirasakan.
Antrean panjang terlihat di SPBU Jalan Moh. Yamin serta beberapa titik lainnya di Kota Palu. Mobil dan sepeda motor mengular hingga ke badan jalan akibat meningkatnya jumlah warga yang ingin mengisi bahan bakar.
Situasi tersebut dipicu oleh kekhawatiran masyarakat terhadap kemungkinan terganggunya distribusi BBM pascagempa. Sebagian warga juga mengaku masih menyimpan trauma atas bencana gempa dan tsunami yang melanda Palu pada tahun 2018 lalu.
Kekhawatiran Warga Picu Panic Buying
Fenomena pembelian dalam jumlah besar atau panic buying terjadi beberapa jam setelah gempa berkekuatan M 6,7 mengguncang wilayah Sulawesi Tengah. Banyak warga memilih mengisi penuh tangki kendaraan mereka sebagai langkah antisipasi apabila terjadi gempa susulan atau gangguan pasokan bahan bakar.
Tidak sedikit warga yang membawa lebih dari satu kendaraan ke SPBU. Kondisi tersebut membuat antrean semakin panjang dibandingkan hari-hari biasa.
Seorang warga Palu mengaku sengaja datang lebih awal ke SPBU karena khawatir pasokan BBM akan menipis apabila masyarakat berbondong-bondong melakukan pengisian.
"Trauma kejadian tahun 2018 masih ada. Jadi kami memilih mengisi penuh kendaraan untuk berjaga-jaga," ujarnya.
Antrean Terjadi di Sejumlah Lokasi

Selain SPBU di Jalan Moh. Yamin, kepadatan kendaraan juga dilaporkan terjadi di beberapa SPBU lainnya yang berada di wilayah Kota Palu. Pengendara roda dua dan roda empat terlihat mengantre secara bergantian untuk mendapatkan bahan bakar.
Petugas SPBU tetap melayani masyarakat seperti biasa. Aktivitas pengisian BBM berlangsung normal meski volume kendaraan yang datang mengalami peningkatan cukup signifikan.
Arus lalu lintas di sekitar lokasi sempat melambat akibat panjangnya antrean kendaraan yang meluber hingga mendekati ruas jalan utama. Sejumlah pengendara memilih bersabar menunggu giliran untuk mengisi bahan bakar.
Trauma Gempa dan Tsunami 2018 Masih Membekas
Peristiwa gempa bumi dan tsunami yang terjadi pada 28 September 2018 meninggalkan pengalaman mendalam bagi masyarakat Palu dan sekitarnya. Bencana tersebut menyebabkan kerusakan besar serta menelan banyak korban jiwa.

Pengalaman tersebut membuat sebagian warga lebih waspada setiap kali terjadi gempa dengan kekuatan besar. Kekhawatiran terhadap kemungkinan terputusnya akses distribusi logistik dan bahan bakar menjadi salah satu alasan meningkatnya pembelian BBM setelah gempa M 6,7 terjadi.
Sejumlah warga juga memilih bertahan di luar rumah sambil memantau perkembangan informasi dari pihak berwenang. Sebagian lainnya menyiapkan kebutuhan darurat sebagai langkah antisipasi apabila terjadi gempa susulan.
Masyarakat Diimbau Tetap Tenang
Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak melakukan pembelian secara berlebihan. Pasokan BBM di wilayah Kota Palu disebut masih tersedia dan aktivitas distribusi terus dipantau agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.

Warga juga diminta untuk mengandalkan informasi resmi dari pemerintah, BMKG, serta lembaga terkait guna menghindari munculnya kepanikan yang dapat memperburuk situasi di tengah proses pemulihan pascagempa.
Kesadaran masyarakat untuk tetap tertib dan tidak melakukan pembelian secara berlebihan dinilai penting agar distribusi bahan bakar dapat berjalan lancar dan seluruh warga memperoleh akses yang sama terhadap kebutuhan energi.
Di tengah situasi yang masih diwarnai kekhawatiran akibat gempa berkekuatan M 6,7, masyarakat Palu diharapkan tetap meningkatkan kewaspadaan tanpa mengabaikan imbauan dari pihak berwenang. Sikap tenang dan saling membantu menjadi kunci agar kondisi dapat kembali normal dan aktivitas masyarakat berjalan seperti sediakala.

Komentar