Bisakah REEV Menjadi Jalan Tengah Transisi Kendaraan Listrik?

REEV menawarkan pengalaman berkendara elektrik dengan mesin bensin sebagai generator. Bisakah teknologi ini menjembatani transisi menuju mobil listrik di Indonesia?

Bisakah REEV Menjadi Jalan Tengah Transisi Kendaraan Listrik?
Mobil REEV dengan motor listrik dan mesin bensin sebagai generator dipamerkan di Indonesia. (Foto: Istimewa)

Frame Daily, Tangerang — Peralihan menuju kendaraan listrik di Indonesia tidak berjalan melalui satu jalur. Di tengah pertumbuhan mobil listrik murni, hybrid, dan plug-in hybrid, teknologi Range-Extended Electric Vehicle (REEV) mulai mendapat perhatian sebagai pilihan baru bagi konsumen.

REEV menawarkan karakter berkendara seperti mobil listrik karena roda digerakkan oleh motor listrik. Namun, kendaraan ini tetap membawa mesin pembakaran internal yang berfungsi sebagai generator ketika energi baterai menurun.

Kombinasi tersebut menempatkan REEV di antara mobil listrik murni dan kendaraan hybrid. Konsumen memperoleh penggerak elektrik, tetapi tidak sepenuhnya bergantung pada ketersediaan stasiun pengisian daya.

Baca juga: Mengapa Pabrikan China Mulai Membawa REEV ke Indonesia?

Motor Listrik Tetap Menjadi Penggerak Utama

Perbedaan utama REEV dengan hybrid konvensional terletak pada hubungan mesin pembakaran dengan roda kendaraan.

Pada REEV, roda digerakkan oleh motor listrik. Mesin bensin tidak menggerakkan roda secara langsung, melainkan menghasilkan listrik melalui generator ketika kapasitas baterai mencapai batas tertentu.

Chery Indonesia dalam penjelasan resminya pada 26 Juli 2026 menyebut mesin pembakaran pada REEV hanya berfungsi sebagai generator. Ketika generator aktif, kendaraan tetap bergerak menggunakan motor listrik sehingga karakter berkendaranya menyerupai mobil listrik murni.

Sistem tersebut berbeda dengan sejumlah teknologi hybrid atau PHEV yang memungkinkan mesin pembakaran ikut menyalurkan tenaga ke roda.

Baca juga: Apa Bedanya BEV, Hybrid, PHEV, dan REEV? Ini Penjelasannya.

Menjawab Kekhawatiran Jarak Tempuh

Kemampuan menghasilkan listrik melalui generator membuat REEV tidak sepenuhnya bergantung pada daya yang tersimpan di baterai.

Ketika energi baterai menurun dan fasilitas pengisian belum tersedia, mesin dapat menghasilkan listrik tambahan. Pengguna masih harus mengisi bahan bakar, tetapi tidak perlu segera mencari SPKLU agar perjalanan dapat dilanjutkan.

Karakter tersebut relevan bagi Indonesia yang memiliki pola perjalanan dan kesiapan infrastruktur berbeda antardaerah. Infrastruktur pengisian memang terus berkembang, tetapi pemerataannya masih menjadi bagian dari agenda pemerintah.

Koordinator Pelayanan Usaha Ketenagalistrikan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Ferry Triansyah, mengatakan jumlah SPKLU roda empat di Indonesia telah mencapai sekitar 4.892 unit hingga Mei 2026.

“Target pertumbuhan SPKLU roda empat pada tahun 2030 sebesar 62.918 unit,” ujar Ferry dalam Project Board Meeting Enhancing Readiness for the Transition to Electric Vehicles in Indonesia pada 7 Mei 2026.

Angka tersebut menunjukkan jaringan pengisian terus bertambah. Namun, besarnya target 2030 juga memperlihatkan bahwa pembangunan infrastruktur masih harus dipercepat untuk melayani adopsi kendaraan listrik secara lebih luas.

Relevan untuk Perjalanan Antarkota

REEV berpotensi menarik bagi pengguna yang menginginkan pengalaman berkendara elektrik, tetapi kerap melakukan perjalanan antarkota atau menuju wilayah dengan akses pengisian terbatas.

Untuk perjalanan harian, kendaraan dapat menggunakan energi dari baterai. Ketika menempuh perjalanan lebih panjang, generator berfungsi sebagai cadangan untuk memasok energi tambahan.

Pendekatan ini dapat mengurangi kekhawatiran mengenai jarak tempuh atau range anxiety. Pengemudi tetap harus memperhitungkan bahan bakar dan pengisian baterai, tetapi memiliki dua sumber energi untuk menjaga kendaraan tetap berjalan.

Baca juga: Hybrid atau Mobil Listrik, Mana Lebih Cocok untuk Perjalanan Jauh?

Pertumbuhan REEV Banyak Didorong Pasar China

Perkembangan REEV bukan hanya tren pemasaran di Indonesia. Teknologi tersebut telah tumbuh pesat di China, terutama pada segmen SUV berukuran besar.

International Energy Agency mencatat jumlah model EREV—istilah lain untuk REEV—meningkat sekitar 40 persen, dari 31 model pada 2023 menjadi 43 model pada 2024.

Pada 2024, EREV menyumbang hampir 25 persen penjualan SUV elektrifikasi di China. Kontribusinya mencapai 60 persen pada kategori SUV listrik besar dengan panjang kendaraan lebih dari 4,8 meter. IEA menyebut perkembangan tersebut hampir seluruhnya didorong oleh peningkatan adopsi di China.

Kondisi itu membantu menjelaskan mengapa produsen China memiliki kesiapan teknologi dan portofolio produk lebih besar ketika membawa REEV ke pasar internasional.

Bukan Kendaraan Tanpa Emisi Sepenuhnya

Meski menggunakan motor listrik sebagai penggerak utama, REEV tidak dapat disamakan sepenuhnya dengan BEV.

Ketika generator bekerja, kendaraan tetap membakar bahan bakar dan menghasilkan emisi dari knalpot. Besarnya konsumsi bahan bakar serta emisi akan bergantung pada desain kendaraan, kapasitas baterai, efisiensi generator, dan kebiasaan pengguna mengisi daya.

REEV dapat beroperasi lebih sering menggunakan listrik apabila baterai rutin diisi. Sebaliknya, apabila pengguna jarang mengisi daya dan lebih sering mengandalkan generator, manfaat efisiensi dan pengurangan emisinya berpotensi menurun.

Karena itu, penyebutan REEV sebagai teknologi transisi perlu disertai catatan: teknologi ini dapat mengurangi ketergantungan terhadap mesin pembakaran sebagai penggerak, tetapi belum menghapus penggunaan bahan bakar fosil.

Sistem Lebih Kompleks daripada Mobil Listrik Murni

REEV membawa baterai, motor listrik, sistem pengisian, generator, serta mesin pembakaran dalam satu kendaraan.

Konfigurasi tersebut memberikan fleksibilitas, tetapi juga menambah jumlah komponen dibandingkan mobil listrik murni. Kompleksitas itu berpotensi memengaruhi bobot kendaraan, biaya produksi, kebutuhan perawatan, dan harga jual.

Chery Indonesia mengakui REEV memiliki sistem lebih rumit daripada BEV. Keberadaan generator dan komponen pendukung juga membuat kendaraan tetap memerlukan perawatan mesin serta berpotensi memiliki bobot lebih besar.

Bagi konsumen, kualitas layanan purna jual menjadi sangat penting. Pabrikan tidak hanya harus mampu menangani sistem kelistrikan tegangan tinggi, tetapi juga mesin pembakaran dan integrasi perangkat lunaknya.

Harga dan Layanan Purna Jual Menentukan

Kemampuan REEV menjadi jalan tengah tidak hanya ditentukan oleh teknologi. Harga kendaraan akan menjadi salah satu faktor terbesar dalam penerimaan pasar Indonesia.

Apabila harga REEV terlalu dekat dengan mobil listrik murni yang memiliki biaya operasional lebih rendah, sebagian konsumen mungkin memilih BEV. Namun, jika harganya terlalu tinggi dibandingkan hybrid, manfaat tambahan berupa penggerak listrik harus benar-benar terasa dalam penggunaan sehari-hari.

Selain harga, konsumen perlu mempertimbangkan:

  • garansi baterai dan motor listrik;
  • garansi mesin generator;
  • ketersediaan bengkel dan teknisi;
  • harga suku cadang;
  • konsumsi energi saat baterai penuh;
  • konsumsi bahan bakar ketika generator aktif;
  • nilai jual kembali.

Data pemakaian nyata di Indonesia akan dibutuhkan untuk mengetahui apakah REEV benar-benar lebih efisien dalam berbagai kondisi perjalanan.

Tidak Menggantikan BEV atau Hybrid

REEV kemungkinan tidak langsung menggantikan mobil listrik murni maupun hybrid.

BEV tetap lebih sederhana secara mekanis dan tidak menghasilkan emisi knalpot saat digunakan. Hybrid menawarkan kemudahan tanpa harus mengisi baterai dari sumber eksternal. PHEV memberi kemampuan berkendara menggunakan listrik sekaligus hubungan langsung antara mesin dan sistem penggerak pada konfigurasi tertentu.

REEV mengisi ruang berbeda: kendaraan ini ditujukan bagi konsumen yang menginginkan penggerak elektrik, tetapi belum siap bergantung sepenuhnya pada baterai dan jaringan pengisian.

Baca juga: EV, Hybrid, PHEV, atau REEV: Teknologi Mana Paling Cocok?

REEV Berpotensi Menjadi Teknologi Peralihan

REEV dapat menjadi jalan tengah transisi kendaraan listrik di Indonesia, terutama selama jaringan pengisian belum merata dan perjalanan antarkota masih menjadi kebutuhan utama konsumen.

Namun, teknologi ini bukan solusi tanpa kompromi. REEV tetap menggunakan bahan bakar, menghasilkan emisi ketika generator aktif, serta membawa sistem yang lebih kompleks dibandingkan mobil listrik murni.

Keberhasilannya akan bergantung pada kemampuan pabrikan menawarkan harga kompetitif, konsumsi energi yang transparan, garansi memadai, serta layanan purna jual yang mampu menangani dua ekosistem penggerak sekaligus.


Frame Daily Insight

REEV lebih tepat dipandang sebagai jembatan adopsi, bukan tujuan akhir elektrifikasi. Teknologi ini dapat memperkenalkan pengalaman berkendara elektrik kepada konsumen tanpa langsung menghilangkan fleksibilitas bahan bakar. Namun, manfaat lingkungannya sangat bergantung pada seberapa sering kendaraan diisi dengan listrik dan seberapa jarang generator digunakan.

Ditulis oleh Senida Aditya

Komentar