Prabowo: Empat Kali Kalah, Saya Tak Ganggu yang Dapat Mandat

Presiden menjelaskan dirinya memahami dan menyadari bangsa Indonesia telah sama-sama bersepakat ingin hidup di negara yang kedaulatan tertinggi ialah kedaulatan rakyat.

Prabowo: Empat Kali Kalah, Saya Tak Ganggu yang Dapat Mandat
Presiden Prabowo Subianto. (ANTARA)

Frame Daily, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto mengatakan pernah empat kali kalah dalam pemilihan presiden. Namun hal itu tidak membuatnya menganggu mandat presiden yang terpilih saat itu.

Prabowo Subianto mengaku mengambil sikap tersebut karena yakin terhadap demokrasi dan pemilihan umum merupakan mandate dari rakyat.

"Saya selalu berusaha dengan persuasi, saya sebagai pemimpin politik, saya dipilih secara demokratis, saya maju ke rakyat lima kali minta mandat, empat kali tidak diberi mandat. Empat kali saya kalah, tetapi saya tidak mengganggu pemimpin yang dapat mandat," kata Presiden Prabowo saat berpidato dalam acara pembukaan Sarasehan Kebangsaan di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Jumat (26/6/2026).

Di hadapan 2.600 sivitas akademika dari berbagai daerah Indonesia, Presiden Prabowo menyampaikan pernyataan itu saat mengajak para akademisi dan ilmuwan untuk merenungkan makna bernegara.

Ribuan peserta yang memadati Hall B JCC langsung menyambut pernyataan Presiden Prabowo itu dengan riuh tepuk tangan.

Prabowo kemudian lanjut mengungkap alasan atas pilihan sikapnya itu. Presiden menjelaskan dirinya memahami dan menyadari bangsa Indonesia telah sama-sama bersepakat ingin hidup di negara yang kedaulatan tertinggi ialah kedaulatan rakyat.

"Jadi, kedaulatan rakyat wujudnya adalah demokrasi. Demokrasi wujudnya adalah pemilihan. Kita mengerti. Kita mungkin tidak puas, tetapi alternatifnya apa? Apa kita mau gaduh? Habis setiap pemilihan gaduh. Yang kalah ribut, yang kalah ribut. Kapan kita mau menuju kesejahteraan untuk rakyat kita?" ujar Presiden.

Oleh karena itu, Presiden kemudian mengajak seluruh kelompok masyarakat untuk merenungkan kembali tujuan bernegara, yang antara lain, sebagai anak bangsa wajib mengabdikan diri untuk rakyat.

"Bukankah itu kewajiban kita sebagai anak bangsa, sebagai pemimpin, sebagai orang ter-pinter di negara ini? Bukankah itu? Segala kepinteran kita harus kita abdikan untuk rakyat kita yang paling miskin dan paling lemah. Bukankah itu?" kata Presiden Prabowo.

"Silakan, kalau ada yang berpendapat lain, hak (mereka, red.), saya katakan kita berbeda. Kalau ada yang berpendapat bahwa gaduh, ribut, bakar-bakar, anarki, kebencian, permusuhan, maki-memaki itu produktif, sementara negara lain menuju kesejahteraan, menuju terobosan, menuju kekayaan," sambung Presiden.

Pidato pembuka dari Presiden Prabowo berlangsung selama kurang lebih 40 menit, kemudian sesi taklimat dan prosesi pembukaan acara Sarasehan Kebangsaan dilanjutkan tertutup dengan media.

Presiden menjelaskan dirinya ingin bicara "hati ke hati" dengan para guru besar dan sivitas akademika lainnya.

"Saya mau beri apa yang saya punya. Saya mau beri data, fakta, apa yang saya punya, dan saudara-saudara sebagai ilmuwan monggo kaji, teliti, pelajari. Kalau data-data, fakta-fakta itu secara saintifik saudara sudah nilai, saudara anggap relevan, silakan saudara ambil kesimpulan," kata Prabowo.

Ditulis oleh IR

Komentar