Frame Daily, Jakarta - Ada masa ketika sore hari berarti keluar rumah. Anak-anak berlari di halaman, membuat garis di tanah, mencari teman untuk bermain petak umpet, atau duduk berhadapan dengan papan congklak. Tidak banyak yang dibutuhkan selain ruang, teman, dan permainan yang diwariskan dari anak-anak yang lebih dulu mengenalnya.
Kini pemandangan itu tidak selalu mudah ditemukan. Sebagian waktu bermain anak berpindah ke layar, dengan permainan digital, video, dan berbagai bentuk hiburan yang dapat diakses melalui gawai. Perubahan tersebut tidak serta-merta membuat permainan tradisional hilang, tetapi membuat pertanyaan lama kembali muncul: masihkah permainan tradisional punya tempat dalam kehidupan anak hari ini?
Ketika Ruang Bermain Berubah
Permainan tradisional pada dasarnya bukan hanya soal menang atau kalah. Banyak permainan mengharuskan anak bergerak, berkomunikasi, mengikuti aturan, menyusun strategi, dan berhadapan langsung dengan pemain lain.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menunjukkan hal tersebut melalui Main Raya Anak Nusantara dalam rangka Hari Anak Nasional 2026. Berbagai permainan seperti engklek, congklak, gasing, rangku alu, egrang batok, bakiak hingga Perahu Jong diperkenalkan sebagai bagian dari pengalaman belajar anak. Kegiatan itu dirancang agar anak memperoleh pengalaman bermain sekaligus mengembangkan kemampuan fisik, sosial, emosional dan kognitif.
Kemendikdasmen juga menempatkan permainan tradisional sebagai bagian dari upaya menciptakan ruang tumbuh anak yang menyenangkan. Dalam kegiatan tersebut, permainan tidak diposisikan sebagai aktivitas masa lalu semata, melainkan sebagai salah satu cara anak belajar melalui pengalaman langsung.
Di sinilah perbedaan mendasarnya dengan permainan yang hanya berlangsung melalui layar. Ketika anak memainkan bakiak bersama, misalnya, keberhasilan permainan bergantung pada kemampuan beberapa orang bergerak dalam irama yang sama. Ada komunikasi, ada kegagalan, ada tawa, lalu ada usaha untuk mencoba kembali.
Dari Congklak hingga Engklek
Indonesia memiliki kekayaan permainan tradisional yang tumbuh di berbagai daerah. Nama dan bentuknya dapat berbeda, tetapi banyak di antaranya menggunakan benda sederhana serta ruang yang tersedia di lingkungan sekitar.
Congklak, misalnya, dikenal dengan berbagai nama di Indonesia. Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya mencatat permainan ini antara lain dikenal sebagai congklak, congkak, dakon, dhakonan hingga maggaleceng di sejumlah daerah. Permainannya menggunakan papan berlubang dan biji-bijian atau benda kecil sebagai alat bermain.
Ada pula permainan yang membutuhkan gerak tubuh lebih aktif. Rorodaan, yang dikenal di Jawa Barat dan kemudian tersebar di berbagai daerah, dimainkan oleh sedikitnya dua anak yang bekerja sama sebagai pendorong dan pengemudi. Direktorat Jenderal Kebudayaan mencatat permainan ini mengandung nilai kerja sama karena pemain harus saling membantu untuk mencapai tujuan.
Permainan lain seperti egrang, gobak sodor, bakiak, gasing, lompat tali dan berbagai permainan daerah memiliki karakter masing-masing. Sebagian membutuhkan kecepatan, sebagian membutuhkan keseimbangan, sementara permainan kelompok menuntut komunikasi dan kekompakan.
Karena itu, ketika permainan tradisional dibicarakan sebagai warisan budaya, yang dipertahankan sebenarnya bukan hanya nama sebuah permainan. Ada cara berinteraksi, aturan, nilai kebersamaan dan pengalaman sosial yang ikut berada di dalamnya.
Anak Tidak Selalu Menolak Permainan Lama
Menariknya, persoalannya mungkin bukan semata-mata anak zaman sekarang tidak tertarik dengan permainan tradisional. Bisa jadi mereka memang belum memiliki kesempatan untuk mengenalnya.
Pengalaman yang dicatat Direktorat Jenderal Kebudayaan dalam kegiatan permainan tradisional di Palu menunjukkan anak-anak dan pelajar tetap dapat menikmati permainan seperti bakiak dan egrang ketika ruang tersebut diberikan kepada mereka. Para peserta bahkan menyebut pengalaman itu menantang dan menyenangkan.
Temuan semacam itu penting karena memperlihatkan bahwa permainan tradisional tidak otomatis kehilangan daya tarik hanya karena teknologi berkembang. Anak-anak tetap dapat menikmati permainan yang sederhana ketika mereka memperoleh kesempatan untuk mencoba dan bermain bersama.
Kemendikdasmen juga kembali menggunakan pendekatan tersebut pada 2025. Dalam Kampanye Anak Indonesia Hebat di Serang, permainan seperti bola bekel, gasing, engklek, oray-orayan, rorodaan dan layang-layang digunakan untuk mendukung pendidikan karakter anak usia dini. Direktur PAUD Nia Nurhasanah menyebut kegiatan itu sebagai bagian dari penguatan kolaborasi antara pendidikan, orang tua, masyarakat dan pemangku kepentingan.
Artinya, persoalan permainan tradisional bukan hanya tentang gawai versus permainan lama. Ada persoalan yang lebih sederhana sekaligus lebih penting: apakah anak masih memiliki ruang untuk bermain bersama?
Menjaga Permainan, Bukan Memusuhi Teknologi
Membicarakan permainan tradisional tidak harus berakhir pada ajakan untuk meninggalkan teknologi. Dunia anak hari ini sudah berubah, dan teknologi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Tantangannya justru bagaimana permainan tradisional dapat diperkenalkan menggunakan cara yang sesuai dengan zaman. Sekolah dapat menjadikannya bagian dari kegiatan pembelajaran. Orang tua dapat mengenalkan permainan yang pernah mereka mainkan. Komunitas dapat membuka ruang bermain. Sementara dokumentasi digital dapat digunakan untuk memperkenalkan kembali permainan yang mulai jarang diketahui.
Pendekatan semacam ini membuat teknologi tidak selalu menjadi lawan. Layar ponsel bisa menjadi pintu pertama bagi seorang anak untuk mengetahui bahwa di luar permainan digital terdapat permainan lain yang membutuhkan halaman, teman dan tubuh yang bergerak.
Pada akhirnya, keberlangsungan permainan tradisional mungkin tidak ditentukan oleh seberapa sering orang dewasa mengatakan bahwa permainan lama harus dilestarikan. Ia lebih bergantung pada apakah generasi berikutnya masih diberi kesempatan untuk memainkannya secara langsung.
Sebab sebuah permainan tidak benar-benar hidup ketika hanya tersimpan dalam buku, museum atau arsip digital. Ia hidup ketika seorang anak kembali membuat garis di tanah, mengajak temannya bermain, gagal, tertawa, lalu mencoba sekali lagi.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin penuh layar, hal sederhana itulah yang justru semakin berharga.
Komentar