Frame Daily, New York - Penn Track, kawasan di Pennsylvania Avenue, East New York, Brooklyn, kembali menjadi perhatian setelah mucikari bernama Omari “Pangeran” Scott dijatuhi hukuman 50 tahun penjara.

Pada 29 Juli 2026, pengadilan federal Brooklyn menjatuhkan hukuman tersebut kepada Scott, 45 tahun, atas pembunuhan dalam rangka perdagangan seks terhadap dua korban, serta mempromosikan prostitusi.
Kasus itu membuka gambaran tentang bagaimana bisnis seks terbuka di kawasan tersebut tidak hanya berkaitan dengan transaksi seksual. Di baliknya terdapat dugaan eksploitasi, kontrol finansial, kekerasan, hingga perebutan pengaruh antar-mucikari.

The New York Post dalam laporan terbarunya, 17 Agustus 2026, menggambarkan Penn Track sebagai kawasan yang aktivitas prostitusinya masih berlangsung meski salah satu tokoh utamanya telah dipenjara.
Target Penghasilan dan Kontrol Ketat
Menurut bukti yang diungkap dalam persidangan, Scott menerapkan target penghasilan kepada perempuan yang berada di bawah kendalinya.
Jaksa menyebut Scott menggunakan janji cinta dan uang untuk menarik korban. Setelah hubungan terbentuk, ia mengambil uang yang diperoleh para perempuan tersebut dan membuat mereka bergantung kepadanya untuk kebutuhan sehari-hari.
Scott juga menerapkan kuota penghasilan malam hari serta menggunakan kekerasan dan ancaman agar korban terus bekerja.

Kesaksian dalam persidangan menggambarkan sistem kontrol yang sangat ketat. Perempuan yang tidak mencapai target dapat dipaksa tetap berada di jalan hingga mendapatkan pelanggan.
Pengawasan juga dilakukan secara langsung maupun melalui teknologi. Dalam salah satu kasus yang dirangkum hakim, seorang perempuan yang disebut sebagai Henny dipantau menggunakan aplikasi Life360.
Scott disebut menentukan kapan Henny boleh meninggalkan lokasi, mencari tempat berteduh dari cuaca dingin, mengganti sepatu, hingga menggunakan uangnya.
Berjalan di Trotoar Bisa Berujung Kekerasan
Amanda Vizcarrondo-Ortiz, salah satu perempuan yang pernah bekerja di bawah Scott, memberikan kesaksian mengenai kerasnya aturan di Penn Track.
Ia datang dari Massachusetts pada 2022 setelah menemukan lokasi tersebut melalui internet. Saat berada di kawasan itu, ia disebut melanggar aturan tidak tertulis karena berjalan di trotoar.

Ia kemudian disemprot cairan iritan (cairan yang menimbulkan iritasi/kepedihan ,red) oleh perempuan lain yang bekerja untuk seorang mucikari.
Dalam kesaksiannya, Vizcarrondo-Ortiz mengatakan Scott kemudian mendekatinya dan menawarkan agar ia bekerja untuknya. Setelah menerima tawaran tersebut, seluruh penghasilan yang diperolehnya disebut masuk ke tangan Scott.
Dokumen pengadilan juga mencatat kesaksian mengenai kekerasan fisik yang dilakukan Scott terhadap sejumlah perempuan. Bukti berupa foto, video, dan rekaman komunikasi turut digunakan dalam perkara tersebut.
Persaingan Mucikari Berujung Pembunuhan
Kasus Scott menjadi semakin serius ketika persaingan bisnis berujung pada pembunuhan Cleveland Clay, seorang rival di Penn Track.
Menurut Departemen Kehakiman Amerika Serikat, Scott mengetahui salah satu perempuan yang berada di bawah kendalinya hendak meninggalkannya dan bekerja untuk Clay.
Pada April 2023, Scott disebut menarik perempuan tersebut dengan rambutnya dan memasukkannya ke mobil.
Perselisihan dengan Clay kemudian berkembang menjadi rencana pembunuhan. Scott merekrut Michael Simmons dan memberinya senjata untuk membunuh Clay.
Pada 1 Mei 2023, Simmons menembak Clay di area parkir White Castle di Penn Track. Clay meninggal beberapa jam kemudian. Simmons telah mengaku bersalah atas pembunuhan dalam rangka perdagangan seks dan masih menunggu hukuman.
Bisnis Tetap Berjalan Setelah Scott Dipenjara
Vonis terhadap Scott tidak otomatis mengakhiri aktivitas di Penn Track.
Laporan The New York Post pada 17 Agustus 2026 menyebut aktivitas prostitusi di kawasan tersebut masih berlangsung. Sejumlah pekerja seks yang diwawancarai secara anonim menggambarkan praktik pengawasan, target penghasilan, dan ketergantungan finansial yang masih terjadi.
NYPD juga menjalankan pendekatan kepada pekerja seks melalui kegiatan outreach, termasuk upaya mengidentifikasi korban perdagangan manusia dan menghubungkan mereka dengan layanan bantuan.
Kasus Scott memperlihatkan bahwa penindakan terhadap satu mucikari tidak serta-merta menghapus sistem yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.

Di Penn Track, persoalannya bukan sekadar keberadaan prostitusi di jalanan. Kasus ini memperlihatkan bagaimana perdagangan manusia dapat berkembang melalui manipulasi, kekerasan, kontrol uang, dan ancaman.
Hukuman 50 tahun terhadap Scott menjadi akhir dari satu perkara besar. Bagi penegak hukum, tantangan berikutnya adalah memastikan eksploitasi serupa tidak kembali tumbuh di tempat yang sama dengan pelaku yang berbeda.
Komentar