Nakhoda dan ABK KM Virgo Diperiksa Mabes Polri, Apa yang Sedang Dicari?

Pemeriksaan nakhoda dan ABK KM Virgo Transport 8 dilimpahkan dari Polda Kalsel ke Mabes Polri. Apa yang sedang didalami penyidik?

Nakhoda dan ABK KM Virgo Diperiksa Mabes Polri, Apa yang Sedang Dicari?
Pemeriksaan nakhoda dan ABK KM Virgo Transport 8 dilimpahkan dari Polda Kalimantan Selatan ke Mabes Polri. Ilustrasi: Framedaily.id

Frame Daily, Banjarmasin - Pemeriksaan terhadap nakhoda dan anak buah kapal (ABK) KM Virgo Transport 8 kini dilimpahkan dari Polda Kalimantan Selatan ke Mabes Polri. Pelimpahan tersebut dikonfirmasi Kabid Humas Polda Kalsel Kombes Nur Khamid pada Kamis (24/9/2026) malam, ketika proses pencarian dan penanganan korban kapal masih berlangsung.

Perubahan penanganan ini membuka babak baru dalam penyelidikan kecelakaan KM Virgo. Pertanyaannya bukan hanya siapa yang berada di kapal saat kejadian, tetapi apa yang perlu direkonstruksi penyidik dari keterangan orang-orang yang berada langsung di dalam kapal sebelum, saat, dan setelah kecelakaan terjadi.

Pemeriksaan Nakhoda dan ABK Berpindah ke Mabes Polri

Sebelumnya, pemeriksaan terhadap nakhoda dan ABK dilakukan oleh Polda Kalsel. Pihak operator kapal, PT Virgo Karya Shipping (VKS), juga telah membenarkan bahwa nakhoda dan ABK diperiksa kepolisian. Nakhoda disebut diperiksa di Polairud, sementara lokasi pemeriksaan ABK tidak dirinci oleh perusahaan.

Kini, Polda Kalsel menyatakan penanganan perkara dilimpahkan ke Mabes Polri. Nur Khamid mengatakan teknis penanganan selanjutnya berada di Mabes Polri. Hingga saat ini, polisi belum mengumumkan hasil pemeriksaan tersebut ataupun menyatakan siapa yang bertanggung jawab atas kecelakaan.

Karena itu, pelimpahan pemeriksaan tidak dapat diartikan sebagai penetapan kesalahan nakhoda atau ABK. Status pemeriksaan dan kesimpulan mengenai penyebab kecelakaan adalah dua hal yang berbeda.

Apa yang Perlu Dicari dari Orang di Dalam Kapal?

Keterangan nakhoda dan ABK penting karena mereka berada di kapal ketika rangkaian kejadian berlangsung. Dari pemeriksaan tersebut, penyidik dapat berusaha menyusun kembali apa yang terjadi sebelum kapal kehilangan kendali hingga akhirnya terbalik dan tenggelam.

Setidaknya ada sejumlah pertanyaan faktual yang perlu dijawab dalam investigasi: bagaimana kondisi kapal sebelum kejadian, apa yang terjadi di anjungan, kapan situasi darurat diketahui, bagaimana komunikasi antara awak kapal, dan tindakan apa yang dilakukan setelah kondisi tersebut diketahui.

Polisi sebelumnya menyatakan pemeriksaan diharapkan dapat memperjelas kejadian sebelum, saat, hingga setelah KM Virgo Transport 8 tenggelam. Namun, detail mengenai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut belum diumumkan kepada publik.

Karena itu, pertanyaan-pertanyaan tersebut sebaiknya diperlakukan sebagai objek investigasi, bukan kesimpulan mengenai penyebab kecelakaan.

KM Virgo Membawa 243 Orang dan 89 Kendaraan

KM Virgo Transport 8 mengalami kecelakaan di Laut Jawa pada Minggu (13/9/2026) saat dalam perjalanan dari Surabaya menuju Banjarmasin. Data yang dilaporkan setelah kejadian mencatat kapal membawa 243 orang, termasuk penumpang dan awak, serta 89 kendaraan.

Kecelakaan tersebut kemudian memicu operasi SAR besar-besaran. Hingga Jumat (25/9), tim SAR gabungan masih melakukan pencarian dan menemukan 10 jenazah tambahan pada hari itu. Perkembangan korban dan identifikasi masih berlangsung.

Besarnya jumlah penumpang, kendaraan, serta masih berlangsungnya pencarian membuat investigasi tidak hanya menyangkut satu titik kejadian. Kondisi kapal, pelayaran, muatan, sistem keselamatan, tindakan awak, hingga faktor lingkungan menjadi bagian dari rangkaian fakta yang perlu ditempatkan dalam satu kronologi.

Sebelumnya, pemerintah juga telah menyatakan investigasi diperlukan untuk mengetahui penyebab kecelakaan dan menjadi bahan evaluasi keselamatan. Presiden Prabowo Subianto pada 16 September mengatakan pemerintah terus melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab kejadian tersebut.

Dari Pemeriksaan ke Rekonstruksi Kronologi

Pelimpahan ke Mabes Polri membuat perhatian berikutnya tertuju pada hasil pemeriksaan. Namun, hasil tersebut tidak seharusnya dibaca sendirian.

Keterangan nakhoda dan ABK perlu dibandingkan dengan bukti lain, termasuk data pelayaran, komunikasi, kondisi kapal, keterangan penumpang dan saksi, serta temuan investigasi teknis. Dengan begitu, penyidik dapat membedakan antara apa yang dikatakan saksi, apa yang tercatat dalam data, dan apa yang kemudian dapat dibuktikan.

Bagi FrameDaily.id, perkembangan ini penting bukan karena pemeriksaan nakhoda dan ABK otomatis menunjuk pihak yang bersalah, melainkan karena investigasi mulai masuk ke tahap yang dapat menguji rantai kejadian secara lebih rinci. Pertanyaan terpenting sekarang adalah bagaimana setiap potongan informasi—dari kapal, awak, penumpang, data pelayaran, hingga investigasi teknis—dapat disusun menjadi kronologi yang dapat diverifikasi.

Dengan pendekatan itu, investigasi KM Virgo seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan “siapa yang salah?”. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apa yang terjadi, kapan terjadi, siapa mengetahui apa, tindakan apa yang diambil, dan apakah setiap prosedur keselamatan telah berjalan sebagaimana mestinya.

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menjadi bagian penting untuk mengetahui penyebab kecelakaan sekaligus menentukan apakah ada aspek keselamatan pelayaran yang perlu diperbaiki.

Follow akun Instagram @framedaily.id_official untuk mendapatkan berita terbaru, fakta terverifikasi, dan konteks di balik setiap peristiwa.

Ditulis oleh Senida Aditya

Komentar