Frame Daily, jakarta - Pasar mobil Indonesia sedang mengalami perubahan komposisi pemain. Honda yang selama bertahun-tahun berada di kelompok merek terlaris kini menghadapi tekanan dari merek China, sementara BYD dan Jaecoo terus memperbesar penjualan.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) menunjukkan perubahan tersebut bukan sekadar fenomena sesaat.
Pada Januari-Mei 2026, Honda masih berada di posisi kelima penjualan wholesales dengan 18.271 unit. Pada periode yang sama, BYD sudah membukukan 17.993 unit dan berada di posisi keenam, sementara Jaecoo mencapai 14.284 unit.
Hanya dalam beberapa bulan, jarak tersebut berubah.
Honda kehilangan ruang, BYD dan Jaecoo bergerak naik
Pada semester I 2026, Honda mencatat distribusi 20.673 unit secara wholesales. Angka tersebut turun 36,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pangsa pasar Honda ikut tertekan menjadi sekitar 4,7 persen, dari 8,7 persen pada semester I 2025. Pada saat yang sama, BYD mencatat 23.257 unit dan berada di posisi kelima pasar nasional.
Perubahan ini menjadi lebih menarik karena terjadi ketika pasar otomotif secara keseluruhan justru tumbuh.
GAIKINDO mencatat penjualan wholesales nasional Januari-Mei 2026 mencapai 359.015 unit, naik 12,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Artinya, persoalan Honda tidak cukup dijelaskan hanya dengan mengatakan konsumen Indonesia sedang menunda pembelian mobil. Ada persoalan lain: ke mana konsumen yang tetap membeli mobil mulai berpindah? Jawabannya semakin terlihat dari pertumbuhan merek China.
Berdasarkan data hingga Agustus yang dikutip dari data GAIKINDO, BYD telah mencatat distribusi 37.696 unit, naik 98,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Jaecoo bahkan meningkat jauh lebih tajam, dari 438 unit menjadi 23.834 unit.
Yang berubah bukan hanya jumlah merek
Masuknya BYD dan Jaecoo ke papan atas menunjukkan perubahan yang lebih besar daripada sekadar pertukaran posisi dalam tabel penjualan.
Merek China kini datang dengan kombinasi harga, teknologi, desain dan elektrifikasi yang membuat mereka semakin relevan bagi konsumen Indonesia. GAIKINDO sebelumnya mencatat BYD sudah berada di posisi keenam penjualan wholesales pada Januari-Mei dengan hanya terpaut ratusan unit dari Honda.
Pada kuartal I 2026, penjualan wholesales mobil China secara keseluruhan juga mencapai 37.908 unit, naik 80,1 persen dibandingkan kuartal I tahun sebelumnya. BYD menjadi merek China dengan penjualan terbesar, diikuti antara lain Jaecoo, Wuling, Chery dan Geely.
Perubahan ini membuat persaingan industri tidak lagi sesederhana merek Jepang melawan merek Jepang. Konsumen kini memiliki lebih banyak pilihan dari China, termasuk kendaraan listrik dan model dengan fitur yang sebelumnya lebih banyak ditemukan pada kelas kendaraan yang lebih mahal.
Bagi Honda, tantangannya berarti bukan hanya meningkatkan jumlah penjualan. Honda juga harus menjawab perubahan ekspektasi konsumen terhadap teknologi, elektrifikasi, desain, fitur, harga dan pengalaman kepemilikan.
Honda sendiri mulai memperkuat arah elektrifikasinya. Pada Agustus 2026, Honda membuka pemesanan Super-ONE, model listrik pertamanya di Indonesia, dengan harga mulai Rp438 juta untuk wilayah Jakarta. Honda menyebut model tersebut sebagai bagian dari arah baru Honda di era elektrifikasi.
Menariknya, Honda mengatakan Super-ONE tidak ditujukan untuk mengejar volume penjualan. Model itu diposisikan sebagai representasi arah baru Honda di era elektrifikasi. Ini menunjukkan bahwa Honda sedang melakukan transisi strategi, tetapi tekanan kompetitif dari pasar terjadi sekarang, bukan beberapa tahun lagi.
Persaingan berikutnya akan ditentukan oleh siapa yang paling cepat beradaptasi
Penurunan Honda tidak otomatis berarti konsumen Indonesia meninggalkan merek Jepang secara keseluruhan. Toyota, Suzuki dan Mitsubishi masih memiliki posisi kuat di pasar.
Namun, data menunjukkan ada ruang yang berhasil direbut pemain baru. Yang berubah adalah struktur pilihan konsumen. Merek China tidak lagi sekadar menjadi alternatif tambahan. BYD sudah menyalip Honda dalam sejumlah periode penjualan 2026, sementara Jaecoo berkembang sangat cepat.
Karena itu, pertanyaan bisnis otomotif Indonesia berikutnya bukan lagi apakah merek China akan masuk dan bertahan.
Pertanyaannya adalah seberapa besar pangsa pasar yang akan mereka ambil, dan bagaimana pemain Jepang meresponsnya. Bagi Honda, tantangannya semakin jelas mempertahankan basis konsumen lama sekaligus menawarkan alasan baru bagi konsumen untuk memilih Honda di tengah pasar yang semakin banyak pilihan.
Komentar